TULUNGAGUNG - Bojan Hodak kembali jadi perbincangan hangat jelang laga penting Persib Bandung di babak 16 besar kompetisi Asia. Pelatih asal Kroasia itu bahkan disebut sebagai “malaikat penyelamat” oleh media Australia karena rekam jejaknya yang kerap menyelamatkan tim dari jurang degradasi hingga menjadi juara.
Nama Bojan Hodak memang identik dengan kebangkitan. Bersama Persib Bandung, ia datang saat tim terpuruk di papan bawah klasemen, lalu perlahan membalikkan keadaan hingga menjadi kampiun. Kisah ini bukan kali pertama terjadi dalam karier kepelatihannya.
Dalam laporan media olahraga Asia, The Asian Game, Bojan disorot sebagai sosok yang mampu mengubah wajah sepak bola Asia Tenggara menjadi lebih profesional dan kompetitif. Julukan “malaikat” muncul karena sentuhan tangannya hampir selalu berujung pada keselamatan atau trofi.
Karier Dimulai dari Klub Amatir Malaysia
Perjalanan Bojan Hodak sebagai pelatih dimulai sekitar 20 tahun lalu di Malaysia. Ia menangani klub amatir UPB MyTeam, tim yang kini sudah tidak aktif. Saat itu, namanya belum dikenal di Asia Tenggara.
Meski hanya melatih tim kecil, Bojan dikenal piawai membina pemain muda. Sejumlah pemain yang kini memperkuat tim nasional Malaysia pernah merasakan sentuhan kepelatihannya di fase awal karier mereka.
Setelah dari Malaysia, Bojan melanjutkan petualangannya ke Kamboja bersama Phnom Penh Crown. Di sana, ia mencatat sejarah dengan membawa klub tersebut meraih gelar liga dan tampil kompetitif di level domestik. Keberhasilannya di Kamboja membuka pintu ke level yang lebih tinggi.
Raja Gelar di Malaysia
Karier Bojan Hodak makin bersinar saat kembali ke Malaysia dan menukangi Kelantan FC. Bersama Kelantan, ia meraih treble winner, termasuk Liga Super Malaysia dan Piala Malaysia. Itu menjadi salah satu pencapaian terbaik dalam sejarah klub tersebut.
Prestasi tersebut membuatnya dilirik oleh raksasa Malaysia, Johor Darul Ta'zim. Bersama JDT, Bojan kembali menambah koleksi trofi dan memperkuat reputasinya sebagai pelatih efektif.
Ia juga sempat menangani Penang FC dalam situasi sulit. Saat datang, Penang berada di ambang degradasi. Namun dalam satu musim, ia berhasil mengangkat performa tim dan menyelamatkannya dari turun kasta. Ironisnya, setelah Bojan hengkang, Penang justru terdegradasi di musim berikutnya.
Tak hanya di level klub, Bojan juga dipercaya melatih Timnas Malaysia U-19. Ia membawa tim tersebut mencatatkan hasil bersejarah di ajang AFC kelompok usia, mempertegas kualitasnya sebagai pembina talenta muda.
Sempat ke Indonesia dan Bangkit Bersama Persib
Pada 2020, Bojan Hodak sempat menukangi PSM Makassar. Namun pandemi COVID-19 membuat kompetisi terhenti dan kariernya di Indonesia tidak berjalan panjang.
Ia kembali ke Malaysia dan menangani Kuala Lumpur City FC. Bersama KL City, ia mencatat sejarah dengan membawa klub itu ke final Piala FA Malaysia setelah penantian panjang lebih dari dua dekade.
Kesuksesan itulah yang akhirnya membawanya kembali ke Indonesia, kali ini ke Persib Bandung. Saat datang menggantikan Luis Milla, Persib berada di posisi ke-16 klasemen. Mental pemain terpuruk dan tekanan publik sangat besar.
Namun di tangan Bojan Hodak, situasi berubah drastis. Persib perlahan bangkit, meraih kemenangan demi kemenangan, hingga akhirnya keluar sebagai juara. Bahkan, Maung Bandung mampu mempertahankan konsistensi di musim berikutnya.
Fokus ke Laga Penting dan Target Maksimal
Kini, Bojan Hodak kembali dihadapkan pada tantangan besar bersama Persib di babak 16 besar kompetisi Asia menghadapi Ratchaburi FC. Ia menyebut laga ini sebagai partai sulit, namun tetap optimistis meraih hasil maksimal.
Menurutnya, tekanan tidak hanya ada pada Persib, tetapi juga pada tuan rumah. Apalagi kedua tim sama-sama melakukan banyak perubahan komposisi pemain dibanding musim sebelumnya.
Persib juga harus menghadapi kendala cedera pemain seperti Beckham Putra. Namun Bojan tetap percaya pada kedalaman skuad dan mentalitas timnya.
Bagi banyak pengamat, Bojan Hodak bukan sekadar pelatih asing biasa. Ia dikenal dingin, jarang tersenyum, namun hasil kerjanya nyata. Dari Malaysia, Kamboja, hingga Indonesia, rekam jejaknya menunjukkan pola yang sama: datang saat tim terpuruk, pergi setelah tim bangkit.
Kini, Bobotoh kembali berharap sentuhan “malaikat penyelamat” itu membawa Persib melangkah lebih jauh. Jika sejarah berulang, bukan tidak mungkin Bojan Hodak kembali menorehkan kisah manis bersama Maung Bandung.
Editor : Axsha Zazhika