RADAR TULUNGAGUNG - Kabar membanggakan datang untuk Persebaya Surabaya. Bruno Moreira dan Tony Firmansyah masuk APPI Best 11 Januari 2026, sebuah pencapaian yang menjadi suntikan moral penting bagi Green Force di tengah tekanan kompetisi Super League 2025-2026.
Pengumuman Bruno Moreira dan Tony Firmansyah masuk APPI Best 11 Januari 2026 dirilis oleh Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI). Dua nama pilar Persebaya itu bersanding dengan deretan pemain terbaik dari berbagai klub. Momentum ini terasa spesial karena hadir setelah Persebaya menelan kekalahan dari Bhayangkara FC pada pekan ke-21.
Di tengah atmosfer ruang ganti yang sempat menghangat akibat hasil minor di Stadion Gelora Bung Tomo, kabar Bruno Moreira dan Tony Firmansyah masuk APPI Best 11 Januari 2026 menjadi penegasan bahwa kualitas individu pemain Bajul Ijo tetap diakui secara nasional.
Pengakuan di Tengah Tekanan
APPI merilis daftar Best 11 Januari 2026 dengan komposisi pemain pilihan dari sejumlah klub Super League. Selain dua pemain Persebaya, daftar tersebut juga diisi nama-nama seperti Alexis Messidoro (Dewa United), Teja Paku Alam (Persib), hingga sejumlah pemain Bali United dan Malut United.
Masuknya Bruno Moreira dan Tony Firmansyah menunjukkan bahwa performa keduanya konsisten sepanjang Januari. Bruno menjadi motor serangan dari sisi sayap sekaligus kapten tim, sementara Tony tampil solid di lini tengah dengan determinasi tinggi.
Penghargaan ini bukan sekadar pencapaian individual. Di tengah persaingan papan atas yang semakin ketat, pengakuan tersebut menjadi validasi bahwa Persebaya masih memiliki fondasi kuat untuk bersaing.
Mesin Tandang yang Menggila
Menariknya, performa terbaik Persebaya musim ini justru muncul saat bermain tandang. Dari 10 laga away, Green Force mencatat empat kemenangan, lima hasil imbang, dan hanya satu kekalahan. Total 17 poin berhasil dibawa pulang dari luar Surabaya.
Statistik tersebut menunjukkan mental tanding yang cukup matang. Dalam lima pertandingan terakhir, Persebaya mencetak 10 gol—angka yang jauh lebih produktif dibanding calon lawan berikutnya.
Distribusi gol pun merata. Selain Bruno Moreira, kontribusi datang dari Francisco Rivera, Gali Freitas, Bruno Paraiba, Rahmat Irianto, hingga pemain belakang seperti Risto Mitrevski. Kedalaman skuad dan fleksibilitas taktik menjadi kekuatan tersendiri bagi pelatih Bernardo Tavares.
Lima Raja Asis Persebaya
Selain kabar Bruno Moreira dan Tony Firmansyah masuk APPI Best 11 Januari 2026, Persebaya juga punya modal lain jelang pekan ke-22: lima raja asis di era Bernardo Tavares.
Nama teratas adalah Francisco Rivera dengan enam asis dari 17 penampilan. Gelandang kreatif itu menjadi motor serangan utama dengan rata-rata asis 0,36 per 90 menit.
Di posisi berikutnya ada Gali Freitas yang mengoleksi lima asis. Efektivitasnya bahkan sedikit lebih tinggi secara rata-rata menit bermain. Bruno Moreira juga masuk daftar dengan empat asis, membuktikan perannya tak hanya sebagai pencetak gol, tetapi juga kreator peluang.
Pedro Ricardo menyumbang tiga asis sebagai pengatur ritme permainan. Sementara Malik Risaldi melengkapi daftar dengan dua asis, tetap berkontribusi dalam skema ofensif.
Kehadiran lima kreator ini menjadi senjata utama saat Persebaya bertandang ke markas Persijap Jepara.
Ujian Mental di Jepara
Laga pekan ke-22 melawan Persijap Jepara menjadi momentum penting. Persebaya datang setelah kekalahan menyakitkan di kandang sendiri. Pelatih Bernardo Tavares menegaskan timnya harus segera bangkit.
“Kami harus segera bangkit, melupakan hasil ini, dan fokus meraih kemenangan pada pertandingan berikutnya,” tegasnya.
Dukungan Bonek terus mengalir. Seruan “Bangkit” dan “Wani” menggema sebagai simbol kepercayaan terhadap tim kebanggaan mereka.
Kemenangan di Jepara bisa menjadi titik balik perjalanan musim ini. Dengan status Bruno Moreira dan Tony Firmansyah masuk APPI Best 11 Januari 2026, serta dukungan lima raja asis di lini serang, Persebaya punya modal untuk merespons tekanan secara positif.
Super League 2025-2026 masih panjang. Namun satu pesan sudah jelas: Green Force belum habis. Jawaban sesungguhnya akan tersaji di lapangan, saat Persebaya mencoba membuktikan bahwa penghargaan individu mampu diterjemahkan menjadi hasil kolektif.
Editor : Rosana Mar'atu Solikah