TULUNGAGUNG - Sejarah rivalitas Bonek dan Aremania kembali menjadi sorotan publik usai tragedi Kanjuruhan yang mengguncang sepak bola nasional. Permusuhan dua kelompok suporter besar di Jawa Timur ini bukan cerita baru. Konflik panjang antara pendukung Persebaya Surabaya dan Arema FC telah berlangsung sejak akhir 1980-an dan menyisakan luka mendalam di kedua kubu.
Sejarah rivalitas Bonek dan Aremania bahkan disebut-sebut sebagai salah satu permusuhan suporter paling mengakar di Indonesia. Bentrokan tak hanya terjadi di dalam stadion, tetapi juga merembet hingga ke jalanan kota. Hubungan yang semula biasa saja berubah menjadi panas akibat sejumlah peristiwa yang terus diwariskan lintas generasi.
Sejarah rivalitas Bonek dan Aremania semakin diingat kembali ketika tragedi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, 1 Oktober 2022, memakan banyak korban jiwa. Peristiwa tersebut membangkitkan memori kelam bentrokan kedua suporter pada era 80-an hingga 90-an.
Awal Mula Permusuhan di Era 80-90an
Pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an, pertandingan antara Persebaya dan Arema kerap memicu kerusuhan. Saat laga digelar di Stadion Gajayana, Malang, situasi sering kali memanas hingga ke luar arena pertandingan.
Kala itu, kendaraan berpelat L (Surabaya dan sekitarnya) menjadi sasaran amuk massa di Malang. Motor dan mobil beridentitas Surabaya tidak berani melintas bebas. Mahasiswa asal Surabaya yang kuliah di Malang bahkan menyembunyikan kendaraan mereka berhari-hari demi menghindari pengeroyokan.
Situasi serupa juga terjadi di Surabaya. Kendaraan berpelat N (Malang) tak luput dari sasaran balas dendam Bonek. Aksi saling serang dan sweeping kendaraan menjadi gambaran nyata rivalitas suporter Jawa Timur yang kala itu sulit dikendalikan.
Insiden Konser Tambaksari 1990
Salah satu pemicu besar disebut terjadi pada 23 Januari 1990 dalam konser di Tambaksari, Surabaya. Saat konser berlangsung, area depan panggung dikuasai arek Malang yang terus meneriakkan yel-yel Arema.
Bonek yang merasa sebagai tuan rumah tersulut emosi. Upaya memukul mundur Aremania berujung tawuran di dalam hingga luar stadion. Bentrokan berlanjut hingga kawasan sekitar stadion gubernur. Insiden serupa kembali terjadi pada 1992 di lokasi yang sama.
Peristiwa-peristiwa tersebut memperkuat sentimen negatif antar kedua kelompok. Rivalitas yang semula berbasis pertandingan sepak bola berubah menjadi konflik identitas daerah.
Dugaan Peran Media dan Pernyataan Provokatif
Selain bentrokan fisik, sejarah rivalitas Bonek dan Aremania juga dipicu faktor lain. Salah satunya kecemburuan terhadap pemberitaan media Jawa Timur yang dinilai lebih sering mengangkat Persebaya sebagai headline.
Saat Arema atau Persema meraih prestasi, eksposur dianggap tidak seimbang. Sebaliknya, aktivitas rutin Persebaya kerap menjadi sorotan utama. Kondisi ini memicu rasa tidak adil di kalangan suporter Malang.
Versi lain menyebut adanya pernyataan bernada meremehkan dari tokoh pendukung Persebaya terhadap tim-tim asal Malang. Ucapan yang menyebut tim Malang sulit mengalahkan Surabaya disebut melukai harga diri Aremania. Sejak itu, sentimen permusuhan semakin membesar.
Pemberitaan yang berbau adu domba, termasuk tudingan permainan kasar pemain Arema terhadap Persebaya, turut memperkeruh suasana. Persepsi kecurangan dan diskriminasi mempertebal rivalitas klasik Jawa Timur tersebut.
Momentum Perdamaian Pasca Tragedi Kanjuruhan
Di balik sejarah panjang konflik, muncul momen yang menyentuh publik. Pasca tragedi Kanjuruhan, elemen suporter Persebaya, Green Nord 27, mengirimkan karangan bunga dan ucapan belasungkawa kepada Aremania.
Melalui media sosial, mereka menyampaikan pesan, “Dukamu duka kita dan duka bangsa Indonesia.” Ungkapan empati tersebut mendapat perhatian luas karena datang dari rival lama.
Langkah ini dinilai sebagai titik balik penting dalam sejarah rivalitas Bonek dan Aremania. Banyak pihak berharap tragedi kemanusiaan tersebut menjadi momentum rekonsiliasi dan membangun persaudaraan antar suporter.
Pada dasarnya, Surabaya dan Malang adalah dua kota bertetangga dengan akar budaya yang sama kuat. Sepak bola seharusnya menjadi ajang sportivitas, bukan pemicu perpecahan.
Kini, publik sepak bola Indonesia berharap rivalitas klasik Persebaya vs Arema tetap hidup dalam atmosfer kompetisi sehat di Liga 1, tanpa kekerasan dan dendam masa lalu. Tragedi Kanjuruhan menjadi pengingat mahal bahwa nyawa jauh lebih berharga daripada ego kelompok.
Jika sejarah rivalitas Bonek dan Aremania bisa berubah menjadi sejarah perdamaian, maka sepak bola Indonesia akan memasuki babak baru yang lebih dewasa dan beradab.
Editor : Axsha Zazhika