TULUNGAGUNG - Nama Flower City Casuals (FCC) kembali mencuat ke permukaan setelah beberapa insiden bentrokan dengan suporter lain, termasuk Bonek Mania. Kelompok suporter Persib Bandung ini dikenal dengan gaya berbeda dari mayoritas Bobotoh. Namun, di balik identitas uniknya, Flower City Casuals (FCC) juga tak lepas dari pusaran konflik dan kericuhan di sejumlah pertandingan Liga 1.
Flower City Casuals (FCC) merupakan komunitas suporter Persib yang mengadopsi subkultur casuals dari Inggris. Mereka tampil tanpa atribut klub mencolok seperti jersey atau syal, melainkan mengenakan brand ternama seperti Adidas, Lacoste, hingga Burberry. Filosofi mereka terangkum dalam slogan “no badges, no flags, just style”.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Flower City Casuals (FCC) kerap dikaitkan dengan rivalitas panas, termasuk dengan kelompok suporter Persebaya Surabaya, Bonek Mania, khususnya elemen Green Nord.
Asal-Usul dan Filosofi FCC
FCC didirikan pada 2005 di Bandung oleh Rizki Ardi Maulana bersama Arlansida dan sejumlah rekannya. Inspirasi pembentukan komunitas ini muncul setelah menonton film Green Street Hooligans yang mengangkat budaya suporter Inggris.
Awalnya, FCC hanya terdiri dari puluhan orang yang memiliki minat sama terhadap sepak bola, musik, dan kultur tribun Eropa. Mereka bukan organisasi formal dengan struktur kepengurusan resmi. Siapa pun yang merasa cocok dengan gaya kasual dan mendukung Persib bisa bergabung.
Seiring waktu, eksistensi Flower City Casuals (FCC) semakin berkembang. Mereka mulai berani menunjukkan identitas di tribun, terutama sejak 2010. Bahkan, dalam beberapa laga kandang, kelompok ini disebut mampu mengisi sebagian besar tribun utara stadion.
Ciri khas lainnya adalah chant berbahasa Inggris yang mereka nyanyikan saat pertandingan. Atmosfer yang dibangun FCC memberi warna berbeda dibanding kelompok suporter Persib lainnya seperti Viking Persib Club (VPC) atau Bobotoh Maung Bersatu.
Bentrokan dengan Bonek Mania
Konflik antara Flower City Casuals (FCC) dan Bonek Mania mencuat pada 31 Mei 2024 di Surabaya. Insiden tersebut dipicu saling ejek di media sosial TikTok yang berujung pertemuan fisik di Jalan Kedung Cowek.
Sejumlah saksi menyebut terjadi aksi saling lempar batu yang menyebabkan beberapa orang luka-luka. Aparat kepolisian turun tangan dan mengamankan sejumlah pihak. Dalam penyelidikan lanjutan, 18 anggota Bonek ditetapkan sebagai tersangka karena diduga memulai serangan.
Selain itu, beredar pula kabar mengenai dugaan penculikan dan perundungan terhadap seorang anggota Bonek oleh oknum suporter. Meski belum semua detail terkonfirmasi secara hukum, isu tersebut semakin memperkeruh hubungan kedua kelompok.
Kasus ini memicu kembali perdebatan soal peran media sosial dalam memperbesar tensi rivalitas suporter. Banyak pihak menilai provokasi digital sering kali berujung aksi kekerasan nyata.
Kericuhan di Laga Persija vs Persib
Flower City Casuals (FCC) juga disebut hadir dalam laga Persija Jakarta melawan Persib Bandung di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, 16 Februari 2025. Meski ada larangan suporter tamu, sejumlah pendukung Persib tetap datang.
Kericuhan terjadi ketika beberapa suporter tanpa tiket memaksa masuk tribun. Insiden tersebut menyebabkan 37 orang luka-luka dan sejumlah fasilitas stadion rusak, termasuk pagar pembatas dan kursi penonton.
Ketua The Jak Mania menyampaikan permintaan maaf dan mengimbau penghentian ujaran kebencian. Pertandingan sendiri berakhir imbang 2-2, namun sorotan publik justru tertuju pada aspek keamanan dan manajemen suporter.
Bentrokan di Solo dan Tantangan Internal
Pada 9 Desember 2024, laga PSS Sleman kontra Persib Bandung di Stadion Manahan Solo juga diwarnai kericuhan. Ketegangan meningkat setelah Persib unggul 2-1. Beberapa suporter dikejar dan mengalami luka hingga harus dirawat.
Tragedi lain terjadi sebelum pertandingan, ketika seorang Bobotoh meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas dalam perjalanan menuju stadion.
Selain konflik eksternal, Flower City Casuals (FCC) juga pernah mengalami gesekan internal dengan kelompok suporter Persib lainnya. Perbedaan filosofi dan cara mendukung menjadi pemicu ketegangan.
Rivalitas dan Harapan Perdamaian
Dunia suporter sepak bola Indonesia memang sarat rivalitas. Namun rentetan insiden yang melibatkan Flower City Casuals (FCC) dan kelompok lain menunjukkan pentingnya edukasi sportivitas dan pengelolaan keamanan pertandingan.
Rivalitas seharusnya berhenti di lapangan. Media sosial, yang awalnya menjadi ruang ekspresi, kerap berubah menjadi sumber provokasi.
Kini, harapan muncul agar komunitas suporter di Indonesia, termasuk FCC dan Bonek Mania, dapat membangun atmosfer kompetisi yang sehat. Sepak bola semestinya menjadi ruang persatuan, bukan pemicu permusuhan.
Editor : Axsha Zazhika