TULUNGAGUNG - Sejarah The Jakmania tidak hanya soal tribun penuh warna oranye. Di balik besarnya nama suporter Persija Jakarta ini, tersimpan kisah perjuangan 40 pendiri yang pernah ditolak, dipindah-pindah posisi di stadion, hingga dianggap “orang gila” saat keliling kampung mengajak warga mendukung Macan Kemayoran.
Menjelang ulang tahun The Jakmania, sejumlah pendiri berkumpul untuk mengenang kembali perjalanan awal organisasi yang lahir pada 19 Desember 1997 tersebut. Momen reuni itu menjadi ruang refleksi untuk meluruskan berbagai versi sejarah The Jakmania yang selama ini beredar.
“Banyak tulisan yang keliru soal sejarah dan siapa saja pendirinya,” ungkap salah satu inisiator dalam pertemuan tersebut.
Awal Mula: Nonton Persija di Lebak Bulus
Cerita bermula dari sekelompok anak muda yang rutin menonton Persija Jakarta di Stadion Lebak Bulus. Saat itu, mereka masih datang secara sporadis tanpa identitas resmi.
Mereka bahkan sempat membawa spanduk sederhana bertuliskan dukungan untuk Persija dengan cat semprot pilox. Warna oranye mulai dipilih sebagai identitas karena dianggap merepresentasikan semangat baru.
Dari pertemuan-pertemuan kecil di rumah salah satu pendiri, muncul gagasan membentuk organisasi suporter yang lebih terstruktur. Rapat dilakukan secara sederhana, bahkan di kamar tidur, dengan anggota yang masih duduk di bangku SMP dan SD.
Namun perjalanan membentuk The Jakmania tidak mulus. Mereka sempat beberapa kali mendapat penolakan dan pembubaran saat mencoba berkumpul. Bahkan, ketika menonton pertandingan, kelompok kecil ini kerap dipindah-pindah tempat duduk oleh aparat keamanan.
“Kita cuma delapan orang waktu itu, disuruh pindah terus,” kenang salah satu pendiri.
Dari Tanpa Nama hingga Jadi The Jakmania
Menariknya, saat pertama terbentuk, organisasi ini belum memiliki nama resmi. Beberapa usulan sempat muncul sebelum akhirnya nama The Jakmania dipilih.
Inspirasi nama itu muncul setelah melihat tulisan “welcome Jak” di spanduk yang terpampang di Stadion Menteng. Manajemen Persija kala itu ingin julukan yang lebih modern dibanding Macan Kemayoran.
Nama The Jakmania pun dianggap cocok. Unsur “mania” mengikuti tren suporter global seperti Aremania atau kelompok suporter luar negeri yang populer saat itu.
Logo pertama pun dibuat secara sederhana. Desainnya terus berkembang hingga akhirnya menjadi identitas kuat yang kini dikenal luas di sepak bola Indonesia.
Keliling Kampung dan Diremehkan
Perjuangan membesarkan The Jakmania bukan perkara mudah. Para pendiri mengaku harus berkeliling lima wilayah Jakarta menggunakan mobil sewaan untuk mengajak warga datang ke stadion.
Mereka mengumumkan jadwal pertandingan Persija lewat pengeras suara, mengajak warga mendukung klub kebanggaan ibu kota. Responsnya? Tidak selalu positif.
“Awal-awal kita disorakin, dibilang orang gila,” ujar salah satu pendiri sambil tertawa.
Jumlah anggota saat itu masih ratusan. Pendaftaran pun dilakukan manual di rumah pendiri, dengan biaya yang relatif terjangkau. Bahkan, untuk anak di bawah umur, diwajibkan membawa surat izin orang tua.
Rumah salah satu pengurus pernah dipenuhi calon anggota hingga disebut seperti “sekolahan” karena banyaknya pendaftar.
Ditolak, Tapi Tidak Menyerah
Tantangan lain datang dari dalam stadion. Saat pertandingan besar, mereka pernah dipindahkan dari tribun utama ke pojok stadion. Namun, semangat tak surut.
Justru dari pengalaman itulah muncul tekad untuk menyatukan suara dan membentuk satu komando dukungan.
Momentum penting lainnya adalah penyambutan pemain baru Persija. The Jakmania menjadi salah satu pelopor tradisi penyambutan resmi pemain dengan serah terima jersey dan dukungan terorganisir—sesuatu yang saat itu belum lazim di Indonesia.
Perjalanan tandang ke luar kota juga penuh cerita. Ada kisah anggota yang sakit saat perjalanan, hingga pengalaman menginap seadanya demi mendukung Persija di laga tandang.
Semua pengalaman itu memperkuat solidaritas internal.
Dari 40 Orang ke Ribuan Anggota
Kini, The Jakmania telah menjelma menjadi salah satu suporter terbesar di Indonesia. Anggotanya tersebar di berbagai wilayah, dengan sistem keanggotaan dan koordinator daerah yang terstruktur.
Jika dulu mereka harus mengajak warga satu per satu, kini tribun stadion hampir selalu dipenuhi warna oranye saat Persija Jakarta bertanding.
Perjalanan panjang dari delapan orang di tribun Lebak Bulus hingga menjadi kekuatan besar di sepak bola nasional menjadi bukti bahwa loyalitas dan konsistensi adalah kunci.
Sejarah The Jakmania bukan hanya tentang sepak bola, tetapi juga tentang persahabatan, solidaritas, dan semangat pantang menyerah. Dari yang sempat diremehkan hingga kini menjadi ikon suporter Indonesia, kisah ini terus hidup bersama setiap nyanyian dukungan untuk Persija Jakarta.
Editor : Axsha Zazhika