TULUNGAGUNG - Sejarah Persija Jakarta tidak hanya soal gelar juara dan deretan pemain bintang. Klub ibu kota ini telah melewati perjalanan panjang sejak era Hindia Belanda, mengalami transformasi besar lewat lahirnya The Jakmania pada 1997, hingga terlibat dalam rivalitas panas dengan Persib Bandung yang kerap memakan korban.
Sebagai salah satu klub tertua di Indonesia, Sejarah Persija Jakarta bahkan lebih tua dari Republik Indonesia itu sendiri. Klub yang kini dijuluki Macan Kemayoran itu sudah eksis sejak 1928 dengan nama awal VIJ (Voetbalbond Indonesische Jacatra).
Namun, meski kaya prestasi, Persija sempat mengalami krisis basis suporter. Barulah pada 1997, lahirnya The Jakmania mengubah wajah dukungan terhadap klub kebanggaan warga Jakarta ini secara drastis.
Dari VIJ hingga Jadi Persija Jakarta
Persija berdiri pada 28 November 1928 atas prakarsa Suri dan Alie sebagai wadah sepak bola kaum pribumi yang saat itu mengalami diskriminasi dari federasi bentukan Belanda. Setahun berselang, nama klub berubah menjadi VIJ.
Setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada 1950, VIJ resmi berganti nama menjadi Persija (Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta). Nama ini terus digunakan hingga sekarang.
Dalam kompetisi Perserikatan, Persija tampil dominan. Klub ini meraih sembilan gelar juara, masing-masing pada 1931, 1933, 1934, 1938, 1954, 1964, 1973, 1975, dan 1979.
Meski berprestasi di lapangan, atmosfer stadion di Jakarta kala itu relatif sepi. Minimnya fanatisme kedaerahan di ibu kota yang heterogen membuat Persija kesulitan membangun basis suporter seperti Persib Bandung atau Persebaya.
Titik Balik 1997 dan Lahirnya The Jakmania
Perubahan besar dalam sejarah Persija Jakarta terjadi pada 1997. Saat itu, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mengambil kebijakan strategis dengan membentuk kelompok suporter resmi, The Jakmania.
Langkah ini berawal dari kegelisahan sejumlah loyalis Persija, termasuk Ferry Indra Syarif dan Gugun Gondrong, yang melihat stadion kandang Persija justru lebih banyak dipenuhi suporter tim tamu.
The Jakmania kemudian resmi berdiri dan Gugun Gondrong menjadi ketua umum pertama. Warna kebesaran klub pun berubah dari merah menjadi oranye.
Dukungan pemerintah daerah saat itu sangat kuat. Tiket pertandingan disebar ke berbagai kelurahan, bahkan sebagian diberikan gratis. Bus-bus disiapkan untuk mengangkut suporter menuju stadion.
Hasilnya signifikan. Stadion tak lagi dikuasai suporter tamu. Warna oranye mulai mendominasi setiap laga kandang Persija.
Momentum kebangkitan ini berbuah manis. Pada 2001, Persija meraih gelar Liga Indonesia pertama mereka di era profesional.
Rivalitas Kronis dengan Persib Bandung
Tak lengkap membahas sejarah Persija Jakarta tanpa menyinggung rivalitas dengan Persib Bandung. Duel klasik ini menjadi salah satu yang terpanas di Indonesia.
Sejumlah pertandingan berakhir ricuh, baik di dalam maupun luar stadion. Ketegangan memuncak pada beberapa insiden tragis yang memakan korban jiwa dari kedua belah pihak.
Laga Persija kontra Persib kerap menghadirkan tekanan luar biasa, baik dari sisi suporter maupun atmosfer pertandingan. Bahkan kendaraan tim dan suporter sering mendapat pengawalan ketat aparat keamanan.
Rivalitas ini tidak hanya berlangsung di lapangan, tetapi juga merambah media sosial hingga ranah budaya populer.
Perjalanan Stadion: Dari Petojo hingga JIS
Persija termasuk klub yang sering berpindah markas. Awalnya bermarkas di Lapangan Petojo, lalu pindah ke Stadion Ikada dan Stadion Menteng.
Setelah Stadion Menteng dirobohkan pada 2006, Persija bermarkas di Stadion Lebak Bulus. Stadion ini dikenal angker bagi lawan karena jarak tribun yang dekat dengan lapangan.
Kemudian Persija berpindah ke Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Stadion Patriot, hingga akhirnya beberapa kali menggunakan Jakarta International Stadium (JIS).
Pada 2025, manajemen Persija menandatangani kesepakatan penggunaan JIS untuk kompetisi musim 2025-2026.
Era Profesional dan Gelar 2018
Seiring perubahan sistem kompetisi menjadi Liga Indonesia dan kemudian Liga 1, Persija bertransformasi menjadi klub profesional.
Puncaknya terjadi pada 2018 ketika Persija menjuarai Liga 1 Indonesia. Gelar ini menjadi trofi kedua di era Liga Indonesia dan ke-11 jika digabung dengan era Perserikatan.
Perayaan besar-besaran terjadi di Jakarta. Ratusan ribu suporter turun ke jalan mengenakan atribut oranye.
Meski sempat puasa gelar liga setelah 2018, Persija tetap menjadi kandidat kuat di setiap musim. Klub ini juga dikenal sebagai salah satu tim yang belum pernah terdegradasi sejak berdiri.
Dari era penjajahan Belanda hingga Super League Indonesia musim 2025-2026, sejarah Persija Jakarta menunjukkan konsistensi sebagai klub besar. Lebih dari sekadar tim sepak bola, Persija adalah simbol identitas dan kebanggaan ibu kota.
Editor : Axsha Zazhika