TULUNGAGUNG - The Jakmania kini dikenal sebagai suporter fanatik Persija Jakarta yang selalu memadati stadion dalam setiap laga kandang Macan Kemayoran. Namun, di balik militansi dan loyalitas yang melekat, sejarah The Jakmania dan Persija Jakarta ternyata melalui proses panjang, bahkan sempat melewati masa-masa sepi tanpa dukungan berarti.
Dalam beberapa musim terakhir, The Jakmania tercatat sebagai salah satu kelompok suporter terbesar di Asia Tenggara. Pada Liga 1 2019 misalnya, total kehadiran suporter Persija Jakarta dalam 17 laga kandang mencapai lebih dari 400 ribu penonton. Angka tersebut menempatkan The Jakmania sebagai penonton terbanyak di kawasan regional.
Namun, situasi itu sangat kontras jika menengok ke belakang. Persija Jakarta yang sudah berdiri sejak era kolonial Belanda justru pernah mengalami dekade panjang tanpa basis suporter yang solid.
Dari Fijers hingga Kehilangan Dukungan
Sebelum The Jakmania lahir, Persija Jakarta sebenarnya pernah memiliki kelompok pendukung bernama Fijers. Kelompok ini aktif mendukung Persija saat masih bernama VIJ (Voetbalbond Indonesische Jacatra). Mereka hadir di Lapangan Petojo dan rutin mendukung saat laga tandang.
Fijers turut menyaksikan Persija meraih sejumlah gelar kompetisi Perserikatan, termasuk pada 1931, 1933, dan 1938. Namun, masa pendudukan Jepang dan perubahan struktur kompetisi membuat aktivitas suporter meredup. Seiring waktu, Fijers menghilang dan tak pernah muncul lagi sebagai organisasi resmi.
Setelah Indonesia merdeka dan Jakarta berkembang sebagai ibu kota, Persija tetap menjadi klub besar dengan sembilan gelar Perserikatan. Ironisnya, klub sebesar Persija Jakarta belum juga memiliki basis suporter besar dan konsisten. Bahkan pada final Perserikatan 1973 dan 1979 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, jumlah pendukung Persija kalah banyak dibanding suporter lawan seperti Persebaya dan PSMS Medan.
Kondisi tersebut memunculkan keresahan di kalangan loyalis Persija.
Lahirnya The Jakmania Tahun 1997
Titik balik terjadi pada 19 Desember 1997. Di tengah situasi politik dan ekonomi nasional yang bergejolak, lahirlah The Jakmania sebagai organisasi suporter resmi Persija Jakarta. Kehadiran The Jakmania bukan sekadar kelompok pendukung, tetapi wadah bagi warga Jakarta untuk membangun identitas dan kecintaan terhadap kotanya melalui sepak bola.
Sejak saat itu, The Jakmania tumbuh cepat dan menjadi suporter fanatik yang konsisten hadir mendukung Persija. Mereka menjadi saksi saat Persija menjuarai Liga Indonesia 2001, gelar pertama di era kompetisi profesional.
Tak hanya hadir saat berjaya, The Jakmania juga setia menemani Persija dalam masa sulit. Ketika klub mengalami paceklik gelar selama 17 tahun, suporter tetap bertahan. Kesabaran itu akhirnya terbayar saat Persija Jakarta menjuarai Liga 1 2018.
Gelar tersebut menjadi momen emosional bagi The Jakmania yang telah menunggu hampir dua dekade.
Peran The Jakmania di Masa Krisis
Fanatisme The Jakmania tak hanya terlihat di tribun. Pada 2012, ketika Persija mengalami masalah finansial dan ketidakpastian stadion kandang akibat pembongkaran Stadion Menteng dan alih fungsi Stadion Lebak Bulus, suporter tetap berdiri di belakang klub.
Mereka berbondong-bondong datang ke stadion untuk meningkatkan pemasukan dari penjualan tiket. Bahkan disebutkan, kontribusi suporter mencapai sekitar 15 persen dari total pengeluaran klub pada musim tersebut.
Bagi The Jakmania, mendukung Persija bukan sekadar soal kemenangan, tetapi juga soal identitas dan harga diri Jakarta.
Identitas Kota dan Loyalitas Tanpa Batas
Persija Jakarta sempat kesulitan membangun fanatisme karena karakter masyarakat Jakarta yang heterogen dan tidak berbasis etnis tertentu. Berbeda dengan klub lain yang memiliki ikatan kedaerahan kuat, Persija harus membangun identitas dari nol.
The Jakmania kemudian menjadi simbol kebangkitan itu. Mereka bukan hanya kelompok suporter, melainkan representasi generasi urban Jakarta yang ingin menunjukkan kebanggaan terhadap kotanya.
Kini, setiap laga kandang Persija selalu identik dengan lautan oranye di tribun. Loyalitas yang dibangun sejak 1997 terus dirawat hingga sekarang.
Perjalanan panjang The Jakmania membuktikan bahwa fanatisme tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh dari kerinduan, kesetiaan, dan komitmen untuk selalu ada—baik saat Persija Jakarta berjaya maupun ketika terpuruk.
Editor : Axsha Zazhika