Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Rivalitas The Jakmania vs Bobotoh Akhirnya Duduk Bareng Usai Tragedi Kanjuruhan, Akankah Perdamaian Persija vs Persib Benar-Benar Terwujud?

Axsha Zazhika • Jumat, 20 Februari 2026 | 18:40 WIB

Rivalitas The Jakmania vs Bobotoh Akhirnya Duduk Bareng Usai Tragedi Kanjuruhan, Akankah Perdamaian Persija vs Persib Benar-Benar Terwujud?
Rivalitas The Jakmania vs Bobotoh Akhirnya Duduk Bareng Usai Tragedi Kanjuruhan, Akankah Perdamaian Persija vs Persib Benar-Benar Terwujud?

TULUNGAGUNG - Rivalitas The Jakmania vs Bobotoh kembali menjadi sorotan setelah dua tokoh dari masing-masing kubu akhirnya duduk bersama dalam satu forum diskusi. Pertemuan tersebut membahas panjangnya konflik suporter Persija Jakarta dan Persib Bandung yang telah berlangsung lebih dari dua dekade.

Rivalitas The Jakmania vs Bobotoh selama ini dikenal sebagai salah satu yang paling panas di sepak bola Indonesia. Konflik Persija vs Persib tak hanya terjadi di dalam stadion, tetapi juga merembet hingga luar lapangan, bahkan menimbulkan korban jiwa.

Namun, tragedi Kanjuruhan menjadi titik balik penting. Sejumlah suporter lintas klub mulai membuka ruang dialog, termasuk antara perwakilan The Jakmania dan Bobotoh.

Baca Juga: Panen Perdana Melon Hidroponik Tunggangri Tulungagung Dinilai Maksimal, Kades Sri Lailatin Siap Kembangkan Greenhouse Baru

Awal Mula Konflik Persija vs Persib

Dalam diskusi tersebut terungkap bahwa konflik besar pertama antara suporter Persija dan Persib terjadi pada akhir 1990-an, tepatnya sekitar 1996–1997. Saat itu, rombongan The Jakmania datang ke Bandung untuk menyaksikan laga di Stadion Siliwangi.

Rombongan yang berangkat menggunakan sekitar 10 bus mengaku telah mendapat informasi kuota tiket. Namun setibanya di lokasi, situasi berubah. Tribun sudah penuh dan terjadi kesalahpahaman di lapangan. Ketegangan pun pecah.

Versi yang berkembang menyebutkan adanya pemukulan terhadap suporter. Meski demikian, kedua tokoh yang hadir sepakat bahwa konflik awal lebih banyak dipicu miskomunikasi dan gesekan di wilayah perbatasan, seperti Bekasi, Bogor, Karawang, hingga Cikampek.

“Yang sering bentrok justru di daerah perbatasan. Mereka satu kampung tapi beda dukungan,” ungkap salah satu narasumber.

Seiring membesarnya basis massa The Jakmania dan Bobotoh, gesekan makin meluas. Rivalitas yang awalnya sebatas persaingan di tribun berkembang menjadi permusuhan yang sulit dikendalikan.

Korban Jiwa dan Rivalitas yang Kebablasan

Rivalitas The Jakmania vs Bobotoh tak lagi sekadar soal 90 menit pertandingan. Sejumlah insiden berujung duka terjadi dalam dua dekade terakhir. Baik suporter Persija maupun Persib pernah menjadi korban dalam konflik tersebut.

Baca Juga: Pesangon Pensiunan Cair Sekaligus? PP Pesangon Segera Diketok 15 Februari, Dikaitkan dengan Gaji ke-13!

Para tokoh suporter mengakui bahwa rivalitas telah melampaui batas. Nyanyian rasis, atribut provokatif, hingga ujaran kebencian di media sosial memperkeruh suasana.

Salah satu poin refleksi penting adalah bahwa kebencian terhadap rival tak boleh melebihi kecintaan terhadap klub sendiri. Dukungan seharusnya fokus pada Persija Jakarta maupun Persib Bandung, bukan pada permusuhan.

“Fanatik boleh, tapi jangan rasis dan anarkis,” tegas perwakilan The Jakmania.

Momentum Tragedi Kanjuruhan

Tragedi Kanjuruhan menjadi momen evaluasi besar bagi seluruh suporter Indonesia. Meski insiden tersebut bukan akibat bentrokan antar suporter, peristiwa itu membuka kesadaran kolektif tentang pentingnya solidaritas dan kemanusiaan.

Aksi doa bersama, pertemuan lintas suporter, hingga deklarasi damai mulai bermunculan. Di Jakarta dan Bandung, suporter dari berbagai klub hadir bersama dalam aksi solidaritas.

Bahkan di wilayah perbatasan yang selama ini rawan gesekan, inisiatif damai mulai digerakkan oleh komunitas akar rumput.

Empat langkah disepakati untuk meredam konflik: menghapus nyanyian rasis di stadion, menghentikan penggunaan atribut provokatif, menekan ujaran kebencian di media sosial, serta berani duduk bersama dalam satu ruang.

Langkah keempat dinilai paling berat, namun justru paling menentukan.

Baca Juga: Gaji P3K Paruh Waktu 2026 Cair Tiap Tanggal 1? Ini Jadwal Pembayaran dan Daerah yang Serahkan SK 2 Januari

Liga Harus Jadi Ajang Sportivitas

Selain isu rivalitas, diskusi juga menyinggung kelanjutan kompetisi Liga 1 dan wacana Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI pasca Kanjuruhan. Para suporter berharap liga tetap berjalan dengan pembenahan sistem keamanan dan regulasi yang jelas.

Salah satu poin penting adalah kehadiran suporter tamu yang harus difasilitasi secara aman, bukan dilarang total. Pengamanan, pengawalan, hingga zona tribun harus diatur profesional seperti di kompetisi luar negeri.

Rivalitas Persija vs Persib dinilai akan lebih sehat jika difokuskan pada kreativitas dukungan di stadion, bukan pada konflik fisik.

Secara ekonomi, perdamaian juga dinilai membawa dampak positif. Kehadiran suporter tamu berarti perputaran ekonomi di sektor transportasi, hotel, kuliner, dan merchandise.

“Coba ditimbang, manfaatnya lebih banyak mana dibanding mudaratnya?” ujar salah satu narasumber.

Menuju Rivalitas yang Lebih Dewasa

Setelah lebih dari 20 tahun, rivalitas The Jakmania vs Bobotoh kini berada di persimpangan. Pilihannya jelas: melanjutkan siklus permusuhan atau membangun rivalitas sehat yang dewasa.

Para tokoh sepakat bahwa permusuhan tak membawa manfaat. Yang tersisa hanya korban, trauma keluarga, dan citra buruk sepak bola nasional.

Jika energi solidaritas pasca Kanjuruhan benar-benar dijaga, bukan tidak mungkin rivalitas Persija vs Persib akan berubah menjadi contoh kedewasaan suporter Indonesia.

Kini publik menunggu, apakah momen duduk bareng ini menjadi awal baru atau hanya sekadar wacana sesaat.

Editor : Axsha Zazhika
#persija vs persib #Tragedi Kanjuruhan #bobotoh #rivalitas suporter #the jakmania