Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah Arema dan Lahirnya Aremania Terkuak, Dari AFC 1987 hingga Identitas Biru yang Melekat Kuat

Axsha Zazhika • Jumat, 20 Februari 2026 | 18:50 WIB

Sejarah Arema dan Lahirnya Aremania Terkuak, Dari AFC 1987 hingga Identitas Biru yang Melekat Kuat
Sejarah Arema dan Lahirnya Aremania Terkuak, Dari AFC 1987 hingga Identitas Biru yang Melekat Kuat

TULUNGAGUNG - Sejarah Arema dan proses lahirnya Aremania kembali dikupas dalam sebuah obrolan santai bersama tokoh lama suporter di Malang. Dalam perbincangan tersebut, terungkap bagaimana perjalanan panjang terbentuknya organisasi suporter yang kini dikenal luas sebagai Aremania.

Sejarah Arema tidak bisa dilepaskan dari berdirinya klub pada 1987. Namun, saat itu suporter belum langsung terbentuk secara resmi. Butuh waktu dan proses panjang hingga akhirnya lahir wadah bernama Arema Fans Club (AFC) yang menjadi embrio Aremania.

Sejarah Arema dan dinamika suporter ini menunjukkan bahwa fanatisme tidak hadir secara instan. Ada fase pencarian identitas, pembentukan struktur organisasi, hingga perjuangan meramaikan stadion yang kala itu masih sepi pendukung.

Baca Juga: Panen Perdana Melon Hidroponik Tunggangri Tulungagung Dinilai Maksimal, Kades Sri Lailatin Siap Kembangkan Greenhouse Baru

Awal Berdirinya Arema dan AFC

Dalam penuturan tokoh tersebut, Arema berdiri pada 1987. Namun, organisasi suporter baru mulai dirintis beberapa tahun kemudian. Sekitar awal 1990-an, muncul inisiatif membentuk struktur kepengurusan yang jelas.

Arema Fans Club (AFC) menjadi wadah awal untuk menjembatani komunikasi antara manajemen klub dan pendukung. Pada periode pertama, AFC memiliki susunan pengurus lengkap, mulai dari ketua, wakil, sekretaris hingga seksi-seksi pendukung.

“Dulu belum seperti sekarang. Tidak ada media sosial, tidak ada gadget. Jadi butuh wadah resmi untuk komunikasi,” ungkapnya.

AFC saat itu tidak hanya fokus pada sepak bola. Organisasi ini juga mendukung cabang olahraga lain di Malang seperti bola basket Bima Sakti, bola voli, hingga tinju. Namun seiring waktu, dukungan terbesar tetap tertuju pada Arema sebagai ikon kebanggaan kota.

Tantangan Awal: Stadion Sepi dan Dominasi Persema

Pada masa-masa awal, dukungan terhadap Arema belum sebesar sekarang. Bahkan, jumlah penonton di Stadion Gajayana masih terbilang minim. Sementara itu, suporter Persema Malang justru dikenal lebih membeludak.

Fenomena ini memunculkan kegelisahan di kalangan pengurus dan pendukung Arema. Mereka mencari cara agar stadion lebih ramai dan identitas suporter semakin kuat.

Baca Juga: World Supersport 2026 Kick Off, Aldi Satya Mahendra El’ Dablek Jadikan Momentum Awal Positif Musim Ini

Salah satu strategi yang dilakukan adalah distribusi tiket secara masif serta promosi dari mulut ke mulut. Tanpa dukungan media digital, komunikasi dilakukan secara langsung melalui jaringan pertemanan dan komunitas.

Dari sinilah perlahan muncul solidaritas yang lebih solid di antara pendukung Arema.

Identitas Biru dan Lahirnya Julukan

Salah satu poin penting dalam sejarah Arema adalah penguatan identitas warna biru. Jika Persema identik dengan warna merah, Arema kemudian menegaskan diri dengan biru sebagai simbol kebanggaan.

Identitas ini bukan sekadar warna jersey. Biru menjadi simbol persatuan dan pembeda di stadion. Dalam setiap laga, warna biru perlahan mendominasi tribun.

“Kalau Persema merah, Arema biru. Itu yang terus ditekankan,” ujarnya.

Seiring berkembangnya waktu, identitas tersebut semakin kuat. Arema bahkan kerap disebut dengan julukan “Singo Edan”, sementara suporternya dikenal dengan semangat tak kenal lelah.

Dari AFC ke Aremania

Perjalanan waktu membawa perubahan besar. AFC sebagai organisasi awal menjadi fondasi lahirnya Aremania. Nama Aremania kemudian lebih populer dan melekat hingga kini.

Transformasi ini tidak terjadi dalam semalam. Ada proses konsolidasi, dinamika internal, hingga penyesuaian dengan perkembangan zaman. Namun satu hal yang tetap dijaga adalah semangat kebersamaan dan loyalitas terhadap klub.

Aremania tumbuh menjadi salah satu basis suporter terbesar di Indonesia. Kreativitas koreografi, yel-yel khas, hingga loyalitas mendukung di kandang maupun tandang menjadi ciri yang dikenal luas.

Komunikasi Tanpa Teknologi

Menariknya, pada era awal sejarah Arema, komunikasi antar suporter dilakukan tanpa bantuan teknologi modern. Informasi pertandingan, pembagian tiket, hingga ajakan datang ke stadion disebarkan secara manual.

Hal itu justru memperkuat rasa kebersamaan. Setiap pertemuan menjadi ajang silaturahmi sekaligus konsolidasi.

Kini, dengan hadirnya media sosial, komunikasi jauh lebih mudah. Namun para tokoh lama mengingatkan agar generasi sekarang tidak melupakan perjuangan masa lalu.

Menjaga Warisan Sejarah Arema

Perjalanan panjang sejarah Arema dan terbentuknya Aremania menjadi bukti bahwa identitas besar lahir dari proses. Dari stadion yang sepi, kini tribun biru selalu menjadi sorotan.

Para pelaku sejarah berharap generasi muda tetap menjaga nilai loyalitas dan kebanggaan terhadap klub. Sebab, tanpa memahami sejarah, sulit menjaga identitas.

Arema bukan hanya klub sepak bola. Ia adalah simbol kebanggaan Malang. Dan Aremania adalah denyut nadi yang membuatnya tetap hidup hingga hari ini.

Editor : Axsha Zazhika
#aremania #singo edan #sejarah arema #stadion gajayana #Arema Fans Club