TULUNGAGUNG - Sejarah logo Arema kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta sepak bola Malang. Di balik gagahnya lambang Singo Edan yang kini melekat kuat di dada pemain dan suporter, ternyata ada kisah panjang penuh kreativitas, gotong royong, dan semangat kebersamaan.
Sejarah logo Arema bermula ketika manajemen klub menggelar lomba desain usai Arema meraih gelar juara di era kompetisi Galatama. Saat itu, kebutuhan akan identitas visual resmi menjadi penting, seiring meningkatnya eksistensi klub di kancah nasional.
Sejarah logo Arema pun tidak lepas dari peran suporter dan masyarakat Malang. Prosesnya bukan sekadar membuat gambar, tetapi menjadi simbol kebanggaan yang lahir dari partisipasi banyak pihak.
Lomba Desain Usai Juara Galatama
Menurut penuturan salah satu pelaku sejarah, setelah Arema meraih gelar juara pertamanya di kompetisi Galatama, manajemen berinisiatif mengadakan lomba pembuatan logo atau “gendera”. Lomba tersebut terbuka bagi masyarakat yang memiliki ide dan kreativitas.
“Waktu itu habis juara, manajemen bikin lomba desain lambang. Dari situlah muncul gambar pertama,” ujarnya.
Desain awal yang memenangkan lomba kemudian dipresentasikan dan diperkenalkan kepada publik. Namun, prosesnya tidak berhenti di situ. Logo pertama mengalami beberapa penyempurnaan hingga akhirnya terbentuk identitas visual yang lebih kuat.
Dalam proses tersebut, muncul nama-nama kreator yang terlibat menggambar ulang, mempertegas detail, hingga menyempurnakan simbol singa yang kini dikenal sebagai ikon Arema.
Biaya Pembuatan Logo dan Urunan Warga
Menariknya, biaya pembuatan logo Arema saat itu tidak kecil untuk ukuran zamannya. Disebutkan, dana yang dikeluarkan mencapai sekitar Rp500 ribu. Jika dikonversi dengan nilai uang saat itu, jumlah tersebut tergolong besar.
Dana tersebut tidak sepenuhnya berasal dari satu pihak. Ada semangat urunan atau gotong royong dari warga dan pendukung Arema. Beberapa orang menyumbang sesuai kemampuan demi terwujudnya lambang resmi klub kebanggaan Malang tersebut.
“Waktu itu urunan. Siapa yang lewat nyumbang berapa saja. Pokoknya semangatnya kebersamaan,” kenangnya.
Semangat kolektif inilah yang membuat sejarah logo Arema bukan sekadar soal desain grafis, melainkan simbol rasa memiliki terhadap klub.
Evolusi Singo Edan
Dalam perjalanannya, logo Arema mengalami beberapa perubahan kecil. Namun, elemen utama berupa kepala singa tetap dipertahankan. Singa dipilih sebagai simbol keberanian, kekuatan, dan karakter khas Malang.
Pada era awal, desain masih dikerjakan secara manual. Belum ada perangkat lunak desain seperti sekarang. Semua proses dilakukan dengan gambar tangan, diskusi langsung, dan revisi berulang.
Warna biru yang dominan kemudian dipadukan dengan elemen merah dan putih, mempertegas identitas Arema sebagai klub yang mewakili semangat lokal sekaligus nasional.
Identitas “Singo Edan” pun semakin kuat, bukan hanya sebagai julukan, tetapi juga tercermin dalam visual logo yang dikenakan di jersey.
Logo sebagai Simbol Kebanggaan
Seiring waktu, logo Arema menjadi lebih dari sekadar lambang klub. Ia menjadi simbol kebanggaan warga Malang dan Aremania. Setiap detail pada logo mengandung makna sejarah dan perjuangan.
Dari stadion yang dulu belum selalu penuh, hingga kini tribun biru dipadati ribuan suporter, logo tersebut menjadi saksi perjalanan panjang Arema di kompetisi nasional.
Bahkan, dalam berbagai momen penting, seperti laga final atau pertandingan krusial, lambang Singo Edan selalu menjadi pusat perhatian.
Warisan yang Harus Dijaga
Para pelaku sejarah berharap generasi muda tidak melupakan proses panjang di balik sejarah logo Arema. Di era digital saat ini, membuat desain mungkin terasa mudah. Namun, pada masa itu, setiap garis dan warna lahir dari diskusi, pengorbanan, dan kebersamaan.
Logo tersebut bukan hanya hasil lomba desain, melainkan buah dari rasa cinta terhadap klub.
Kini, ketika Arema terus berkompetisi di level tertinggi sepak bola Indonesia, lambang Singo Edan tetap berdiri kokoh sebagai identitas yang menyatukan.
Sejarah logo Arema menjadi pengingat bahwa identitas besar tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari kreativitas, solidaritas, dan semangat kolektif warga Malang yang ingin melihat klubnya memiliki simbol yang kuat dan membanggakan.
Editor : Axsha Zazhika