TULUNGAGUNG - Sejarah Aremania kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan suporter Arema. Dalam sebuah obrolan santai para pelaku sejarah di Stadion Gajayana Malang, terungkap bagaimana proses panjang lahirnya nama Aremania, termasuk dinamika internal, reformasi suporter, hingga momen istighosah yang disebut sebagai tonggak penting.
Sejarah Aremania tidak lahir dalam satu malam. Ada fase pembentukan awal, konflik kepengurusan, hingga pergerakan bawah tanah yang akhirnya melahirkan identitas besar bagi suporter Arema. Nama Aremania sendiri muncul dari proses diskusi panjang yang melibatkan banyak pihak, termasuk wartawan dan tokoh suporter era 1990-an.
Sejarah Aremania juga tak lepas dari berdirinya Arema Fans Club (AFC) pada 11 September 1997. AFC menjadi wadah awal untuk mengakomodasi aspirasi suporter di Malang yang saat itu merasa belum memiliki organisasi resmi.
Dari Arema Fans Club ke Gerakan Reformasi
Pada akhir 1990-an, suporter Arema mulai menyadari pentingnya wadah resmi. AFC didirikan sebagai bentuk konsolidasi. Namun dalam perjalanannya, muncul miskomunikasi antara pengurus dan suporter di lapangan.
Sejumlah tokoh menyebut, kepengurusan saat itu dinilai kurang mengayomi dan tidak mampu mengakomodasi ide-ide kreatif suporter. Situasi ini memunculkan kegelisahan.
“Tahun 1998 itu masa reformasi. Suporter juga ikut bergerak. Muncul gerakan peduli Arema,” ungkap salah satu narasumber.
Gerakan tersebut menjadi cikal bakal lahirnya identitas baru. Pertemuan demi pertemuan dilakukan, bahkan difasilitasi oleh wartawan lokal. Diskusi berlangsung di sejumlah tempat, termasuk kantor media di kawasan Pulosari.
Dari sinilah muncul ide reformasi suporter. Sebutan “suporter Arema” dirasa kurang memiliki identitas kuat. Diperlukan nama yang merepresentasikan fanatisme dan kebanggaan terhadap klub kebanggaan Malang.
Lahirnya Nama Aremania
Sejarah Aremania mencapai titik penting saat nama “Aremania” disepakati. Kata ini merupakan gabungan dari “Arema” dan “mania” yang berarti kegilaan atau fanatisme.
“Kalau kita maniak terhadap Arema, ya kita Aremania,” ujar salah satu tokoh.
Nama tersebut dianggap mewakili semangat totalitas tanpa batas. Sejak saat itu, Aremania bukan lagi sekadar sebutan, tetapi identitas kolektif.
Menariknya, tidak ada satu pihak yang secara resmi mengklaim sebagai pencetus tunggal nama tersebut. Para pelaku sejarah sepakat bahwa Aremania lahir dari kebersamaan arek Malang.
“Tidak perlu diperdebatkan siapa yang pertama. Yang penting ruh kebersamaan itu tetap ada,” tegasnya.
Istighosah di Tanjung Jadi Momentum
Salah satu momen yang sering disebut dalam sejarah Aremania adalah istighosah di kawasan Tanjung, Gang Songo. Kegiatan itu digelar sebagai bentuk syukur atas terbentuknya identitas suporter.
Dalam acara tersebut, sejumlah pemain dan perwakilan manajemen Arema turut diundang. Meski detail tanggal masih menjadi perdebatan, banyak yang meyakini peristiwa itu terjadi sekitar pertengahan 1990-an.
Momentum itu memperkuat solidaritas antar-suporter. Aremania semakin dikenal sebagai kelompok pendukung tanpa struktur organisasi formal yang kaku.
Tanpa Struktur, Berbasis Kebersamaan
Berbeda dengan banyak suporter lain, Aremania memilih tidak memiliki struktur organisasi resmi yang hierarkis. Prinsipnya sederhana: kebersamaan dan Salam Satu Jiwa.
Keputusan ini diambil agar Aremania tidak mudah ditarik ke ranah politik atau kepentingan tertentu. Siapa pun bisa menjadi Aremania selama mencintai Arema.
Namun dalam perjalanannya, muncul tantangan baru. Fenomena komunitas-komunitas kecil yang lebih menonjol kadang memicu gesekan internal.
“Jangan sampai sesama Aremania konflik. Stadion itu rumah bersama,” pesan salah satu tokoh.
Identitas yang Tak Terbantahkan
Hingga kini, sejarah Aremania menjadi bagian penting perjalanan Arema FC. Meski perdebatan soal tanggal pasti kelahiran masih ada, satu hal yang disepakati: Aremania lahir dari keresahan, semangat reformasi, dan kecintaan mendalam pada Arema.
Nama Aremania kini menjadi barometer suporter di Indonesia. Kreativitas tribun, loyalitas tanpa batas, dan solidaritas tinggi menjadi ciri khas yang sulit ditandingi.
Sejarah Aremania mengajarkan bahwa identitas besar tidak selalu lahir dari deklarasi megah, tetapi dari kebersamaan yang terus dirawat.
Salam Satu Jiwa bukan sekadar slogan. Ia adalah fondasi yang menyatukan ribuan hati di Malang Raya untuk satu nama: Arema.
Editor : Axsha Zazhika