TULUNGAGUNG - Sejarah PSBI Blitar menjadi cerita panjang perjalanan salah satu klub sepak bola tertua di Indonesia yang kini berjuang di Liga 3. Berdiri sejak 1928, PSBI Blitar tetap eksis meski harus bersaing dari kasta bawah kompetisi nasional.
Nama PSBI Blitar mungkin tak sepopuler klub besar Jawa Timur lainnya. Namun sejarah PSBI Blitar menyimpan nilai historis yang kuat. Klub ini lahir pada 8 Desember 1928 dengan nama Persatuan Sepakbola Bangsa Indonesia, sebuah simbol perlawanan dan identitas pribumi di masa penjajahan.
Kini, PSBI Blitar yang bermarkas di Stadion Gelora Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, terus berjuang mengangkat nama daerah di kancah sepak bola nasional. Meski berkompetisi di Liga 3 zona Jawa Timur, semangat Laskar Bung Karno tak pernah padam.
Berdiri Sejak 1928, Sarat Nilai Nasionalisme
PSBI Blitar termasuk salah satu klub tertua di Indonesia. Saat didirikan, klub ini menggunakan warna merah putih pada logo sebagai representasi identitas bangsa.
Nama awalnya adalah Persatuan Sepakbola Bangsa Indonesia. Setelah Ir Soekarno tidak lagi menjabat Presiden Republik Indonesia, tim ini kemudian dibawa dan bermarkas di Blitar, tanah kelahiran Bung Karno. Sejak itu namanya berubah menjadi Persatuan Sepakbola Indonesia Blitar.
Julukan Laskar Bung Karno melekat kuat pada PSBI Blitar. Julukan tersebut bukan sekadar simbol, tetapi juga kebanggaan masyarakat Blitar terhadap sejarah nasional yang melekat pada klub ini.
Stadion Gelora Penataran Jadi Saksi Perjalanan
PSBI Blitar bermarkas di Stadion Gelora Penataran, Nglegok, Kabupaten Blitar. Stadion ini memiliki kapasitas sekitar 15.000 penonton dan menjadi saksi perjalanan panjang klub sejak era perserikatan hingga Liga 3.
Dalam sejarahnya, PSBI Blitar pernah berkompetisi di ajang Perserikatan PSSI. Prestasi terbaik diraih pada musim 1971-1973 dengan menempati peringkat keenam.
Memasuki era liga profesional, PSBI sempat bermain di kasta kedua kompetisi nasional. Bahkan pada awal 2000-an, klub ini pernah tampil di Divisi 2. Momentum penting kembali datang saat PSBI tampil di Liga 2 musim 2017.
Namun pada musim tersebut, PSBI Blitar harus menerima kenyataan pahit terdegradasi ke Liga 3. Sejak musim 2018, Laskar Bung Karno rutin berlaga di Liga 3 zona Jawa Timur.
Dukungan Blitzman dan Freedom Gate
Meski saat ini bermain di kasta ketiga, dukungan suporter tetap mengalir deras. PSBI Blitar memiliki dua kelompok suporter utama, yakni Blitzman dan Freedom Gate.
Kedua kelompok suporter ini selalu hadir memberikan dukungan, baik saat laga kandang maupun tandang. Loyalitas mereka menjadi kekuatan tersendiri bagi klub.
Para suporter menyadari bahwa PSBI Blitar belum mampu bersaing dengan klub-klub besar Jawa Timur seperti Persebaya atau Arema. Namun kecintaan terhadap klub daerah tak pernah surut.
Atmosfer Stadion Gelora Penataran tetap terasa hidup setiap PSBI berlaga. Nyanyian, koreografi sederhana, hingga atribut merah putih menjadi bukti bahwa identitas klub masih terjaga.
Tantangan di Liga 3 dan Harapan Bangkit
Berkompetisi di Liga 3 tentu bukan perkara mudah. Persaingan ketat antar klub zona Jawa Timur menuntut manajemen dan pemain bekerja ekstra keras.
Namun keberadaan PSBI Blitar di Liga 3 bukan akhir segalanya. Justru dari sinilah fondasi kebangkitan sedang dibangun. Dengan sejarah panjang sejak 1928, PSBI memiliki modal identitas dan loyalitas yang kuat.
Sebagai klub dengan akar sejarah nasionalisme, PSBI Blitar bukan sekadar tim sepak bola. Klub ini menjadi simbol kebanggaan daerah sekaligus warisan sejarah yang harus dijaga.
Harapan masyarakat Blitar tentu ingin melihat Laskar Bung Karno kembali naik kasta dan bersaing di level yang lebih tinggi. Dukungan suporter, pembinaan pemain muda, serta manajemen profesional menjadi kunci untuk mewujudkan mimpi tersebut.
Sejarah PSBI Blitar telah membuktikan bahwa klub ini mampu bertahan hampir satu abad. Kini, tantangan berikutnya adalah membawa kembali kejayaan itu ke pentas sepak bola nasional.
Editor : Axsha Zazhika