TULUNGAGUNG - Manajemen PSBI Blitar akhirnya buka suara soal alasan klub kebanggaan Kabupaten Blitar itu vakum dari kompetisi sepak bola nasional musim ini. Dalam pernyataan panjang yang direkam dalam sebuah video YouTube, manajemen mengungkap beragam kendala yang membuat PSBI Blitar tak ikut Liga 3 maupun Liga 4, termasuk keterbatasan finansial, perubahan format kompetisi, hingga dinamika internal kepengurusan.
PSBI Blitar merupakan salah satu klub tertua di Indonesia. Namun selama beberapa tahun terakhir, kiprahnya di sepak bola Indonesia tidak stabil. Pernyataan manajemen kali ini menjadi penjelasan paling komprehensif tentang penyebab vakumnya klub berjuluk Laskar Bung Karno tersebut.
Dalam penjelasan yang disampaikan, keyword utama yang menjadi sorotan dalam diskusi ini adalah PSBI vakum kompetisi, tema yang diulang sejak membuka pembicaraan, di tengah pembahasan kronologi permasalahan klub selama beberapa musim terakhir.
“PSBI Vakum Kompetisi Karena Kendala Besar”
Manajemen mengawali penjelasan dengan fakta bahwa PSBI Blitar harus vakum dari kompetisi sejak pandemi Covid-19. “Musim ini kita tidak ikut kompetisi dan harus vakum,” katanya. Sejak 2021, pandemi membawa dampak besar bagi manajemen klub, hingga persiapan untuk musim 2022 digagalkan karena tragedi Kanjuruhan.
Kosongnya kompetisi membuat manajemen harus menanggung biaya besar tanpa hasil. “Habisnya hampir Rp500 juta, namun pada menit terakhir gagal ikut kompetisi,” tulis manajemen. Bahkan pengalaman serupa sebelumnya juga terjadi pada 2015, ketika masalah politik sepak bola membuat PSBI sulit berjalan.
Masalah itu membuat tim dan manajemen berada pada titik nadir. Meski demikian, semangat untuk menjaga klub tetap hidup tetap dikedepankan.
Tawaran Sponsor & Perubahan Kompetisi
PSBI vakum kompetisi bukan tanpa usaha. Manajemen sempat mendapat tawaran dari dua pihak besar yang siap mengambil alih pengelolaan klub, termasuk seorang sponsor yang sudah mencapai kesepakatan awal.
Namun pada saat genting, satu pihak menarik diri secara sepihak karena alasan pribadi, membuat manajemen syok dan kembali berada dalam kebingungan.
“Kemudian ada pengusaha besar yang mau membeli saham, tapi ketika format liga berubah dari Liga 3 ke Liga 4, bosnya tidak tertarik lagi,” jelas manajemen.
Perubahan format kompetisi ini dianggap memberi beban baru bagi investor yang tadinya serius mengakuisisi saham PSBI. Ketidaksiapan skema dan perubahan kompetisi membuat tawaran potensial itu akhirnya batal.
Opsi Hibah Saham hingga Serahkan ke Suporter
Manajemen mengaku sempat mempertimbangkan opsi mengembalikan klub ke Pemkab Blitar. Namun menurut aturan, pemerintah daerah tidak memiliki basis hukum untuk mengelola klub sepak bola secara langsung. Bahkan tawaran untuk hibah tanpa transaksi pun pernah ditawarkan kepada beberapa pejabat publik dan pengusaha.
“Saya tawarkan PSBI untuk dihibahkan gratis, tetapi karena aturan dan ketentuan, itu tidak bisa dilakukan oleh pemkab,” jelasnya.
Selain itu, muncul pula opsi untuk menghibahkan saham secara mayoritas kepada publik atau komunitas suporter. Suporter PSBI yang memiliki loyalitas tinggi pun disebut bisa menjadi calon pengelola klub. Manajemen bahkan sempat memikirkan pembentukan koperasi yang kemudian memiliki saham klub untuk diserahkan kepada pendukung lokal.
“Kita pikir kami bisa hibahkan saham ke suporter atau badan hukum tertentu, bukan hanya individu,” kata manajemen.
Opsi tersebut mencerminkan upaya mencari solusi terobosan agar PSBI Blitar tetap hidup tanpa beban besar finansial yang tidak realistis ditanggung satu pihak saja.
Ketidakpercayaan Suporter dan Harapan Manajemen
Manajemen juga mengakui hubungan yang sempat tegang dengan suporter fanatik PSBI Blitar. Kesalahpahaman dan harapan yang tak terpenuhi membuat sebagian pendukung kehilangan kepercayaan. Manajemen menerima kritik tersebut dengan lapang dada, bahkan menggambarkannya sebagai bagian dari dinamika sepak bola lokal.
“Kita tidak membela diri, tetapi kita ingin suporter memahami bahwa jalannya membangun klub bukan hal instan,” katanya.
Ia juga menyampaikan bahwa tetap butuh waktu untuk membenahi manajemen, termasuk aspek pemasaran, pembinaan, dan regenerasi pemain muda. PSBI vakum kompetisi dianggap sebagai fase evaluasi untuk membangun dasar yang lebih kuat sebelum kembali berkompetisi.
Lebih jauh, ia berharap komunitas suporter, pemerintah, dan investor bisa bersatu membangun rumah besar PSBI yang layak. PSBI Blitar, menurutnya, adalah simbol sejarah sepak bola lokal yang harus dipertahankan.
“Ini bukan hanya klub sepak bola Blitar. Ini sejarah dan kebanggaan masyarakat,” ujarnya.
Menatap Masa Depan PSBI
Walau musim ini tidak bermain, manajemen menegaskan niatnya untuk kembali aktif. Mereka menyebut bahwa masih membuka peluang kolaborasi dan hibah saham kepada pihak yang benar-benar memiliki itikad baik untuk memajukan klub.
PSBI vakum kompetisi, menurut manajemen, adalah tantangan yang harus ditempuh dalam proses panjang membangun klub profesional yang sehat dan berkelanjutan.
Dengan opsi yang ada—hibah saham, koperasi suporter, hingga kolaborasi dengan pihak yang kredibel—PSBI Blitar masih punya peluang untuk bangkit dari posisi vakum dan kembali menjadi kekuatan di Liga 3 Indonesia.
Editor : Axsha Zazhika