TULUNGAGUNG - Fenomena klub siluman Liga 1 kembali menjadi sorotan publik sepak bola nasional. Perpindahan kepemilikan, perubahan identitas, jual beli lisensi klub hingga perpindahan markas menjadi dinamika yang tak asing di kompetisi Indonesia. Celah regulasi inilah yang kerap dimanfaatkan investor untuk langsung membawa tim tampil di kasta tertinggi tanpa harus merangkak dari Liga 3.
Dalam praktiknya, induk sepak bola Indonesia, PSSI, tidak melarang jual beli lisensi klub. Akibatnya, sejumlah tim yang disebut sebagai klub siluman Liga 1 lahir dari proses akuisisi dan merger yang panjang. Meski sering mendapat stigma negatif, tak sedikit dari klub tersebut justru menjelma menjadi kekuatan baru dan bahkan meraih gelar juara.
Berikut deretan klub siluman Liga 1 dengan sejarah paling rumit yang mewarnai perjalanan sepak bola nasional.
Bhayangkara FC: Dari Kalimantan hingga Jadi The Guardian
Bhayangkara FC menjadi salah satu contoh paling kompleks. Klub ini berawal dari Persikubar Kalimantan Barat pada 2010. Tak lama berselang, namanya berubah menjadi Persebaya Surabaya United dan dikelola PT Mitra Muda Inti Berlian (MMIB).
Namun persoalan hak paten logo Persebaya membuat klub tersebut harus kembali berganti identitas. Sempat menggunakan nama Bonek FC dan Surabaya United, pada 2016 klub ini melebur dengan PS Polri dan resmi menjadi Bhayangkara FC.
Perjalanan belum berhenti. Bhayangkara FC juga sempat memakai identitas Bhayangkara Solo FC dan bermarkas di Stadion Manahan, Solo. Perubahan nama dan homebase yang berulang membuat tim berjuluk The Guardian ini lekat dengan label klub siluman.
Persikabo: Transformasi Panjang dari Persiram hingga Persikabo 1973
Persikabo juga dikenal sebagai salah satu klub dengan riwayat paling berliku. Akar sejarahnya berasal dari Persiram Raja Ampat, Papua. Pada 2015, terbentuk PSTNI yang diperkuat mayoritas pemain PSMS Medan untuk tampil di turnamen Piala Jenderal Sudirman.
PSTNI kemudian mengakuisisi lisensi Persiram agar bisa tampil di Indonesia Soccer Championship. Bermarkas di Kabupaten Bogor, minimnya dukungan membuat tim ini sempat pindah ke Bantul dan berganti nama menjadi PS Tira.
Tak bertahan lama, klub kembali ke Bogor dan melakukan merger dengan klub Liga 3 Persikabo. Lahirlah Tira Persikabo. Pada 2020, embel-embel TNI dilepas dan nama berubah menjadi Persikabo 1973.
Rangkaian perubahan tersebut menjadikan Persikabo sebagai salah satu klub siluman dengan sejarah administrasi paling kompleks di Liga 1.
Borneo FC: Lahir dari Akuisisi Persebaya Super Bangkalan
Borneo FC berdiri setelah pengusaha Nabil Husein membeli Persebaya Super Bangkalan pada 2014. Klub itu kemudian diubah namanya menjadi Pusamania Borneo FC.
Kehadiran Pusamania Borneo FC dipicu ketidakpuasan terhadap prestasi Putra Samarinda. Setelah menjuarai Divisi Utama 2014, klub ini promosi ke Liga Super Indonesia 2015.
Pada 2017, nama Pusamania dihapus dan resmi menjadi Borneo FC hingga sekarang. Transformasi tersebut membuat Borneo FC menjadi representasi baru sepak bola Samarinda di Liga 1.
Bali United: Dari Putra Samarinda Menuju Juara Liga 1
Bali United termasuk contoh sukses dari transformasi klub. Tim ini berasal dari Putra Samarinda yang mengalami krisis finansial dan kehilangan pamor.
Manajemen kemudian menjual klub kepada keluarga Tanuri pada 2015. Nama baru Bali United resmi digunakan dan sejak itu klub ini berkembang pesat. Bahkan, Bali United berhasil meraih gelar juara Liga 1 dan menjadi salah satu klub paling stabil secara manajemen.
Perubahan identitas yang awalnya dipandang sinis justru menjadi titik balik kebangkitan klub asal Pulau Dewata tersebut.
Madura United: Jejak Panjang dari Pelita Jaya
Madura United juga memiliki garis sejarah panjang. Klub ini merupakan turunan dari Pelita Jaya yang berkali-kali berganti nama, mulai dari Pelita Krakatau Steel, Pelita Jaya Purwakarta, Pelita Jaya Karawang, Pelita Bandung Raya, hingga Persipasi Bandung Raya.
Pada 2015, identitas baru Madura United resmi digunakan. Sejak itu, Laskar Sape Kerrab menjelma sebagai kekuatan kompetitif dan bahkan sempat memimpin klasemen Liga 1.
Transformasi panjang tersebut memperlihatkan bahwa label klub siluman tidak selalu berkonotasi negatif. Di balik perubahan identitas dan akuisisi, terdapat upaya membangun stabilitas finansial dan prestasi.
Fenomena klub siluman Liga 1 menjadi refleksi dinamika sepak bola nasional. Di satu sisi, sistem ini membuka peluang investasi dan percepatan prestasi. Namun di sisi lain, muncul perdebatan soal identitas, loyalitas suporter, dan keberlanjutan tradisi klub.
Yang pasti, sejarah panjang perubahan nama dan kepemilikan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari wajah Liga 1 Indonesia saat ini.
Editor : Axsha Zazhika