TULUNGAGUNG - Nama Sir Alex Ferguson identik dengan era keemasan Manchester United. Di bawah kepemimpinannya selama 26 tahun, Manchester United menjelma menjadi raksasa sepak bola Inggris dan Eropa dengan koleksi 38 trofi, termasuk 13 gelar Premier League dan dua Liga Champions.
Perjalanan Sir Alex Ferguson bersama Manchester United tidak selalu mulus. Tiga musim pertamanya tanpa trofi bahkan sempat menempatkannya di ambang pemecatan. Namun dari tekanan itulah lahir fondasi kejayaan yang mengubah sejarah klub.
Kisah Sir Alex Ferguson adalah tentang revolusi, disiplin, dan kemampuan membangun ulang tim berkali-kali. Dari hampir terdegradasi hingga meraih treble winners, ia membuktikan diri sebagai salah satu manajer terbesar dalam sejarah sepak bola.
Datang Saat MU Terpuruk
Pada 6 November 1986, Ferguson resmi ditunjuk sebagai manajer Manchester United. Saat itu, klub sedang dalam kondisi kacau. Hampir 20 tahun tanpa gelar liga, bahkan sempat terdegradasi pada 1970-an.
Sementara Liverpool menikmati masa emas dengan 11 gelar liga dalam dua dekade, MU justru tertinggal jauh. Budaya minum-minum di ruang ganti memperburuk situasi. Ferguson datang membawa satu misi: mengubah mentalitas.
Ia memulai dengan menegakkan disiplin. Pemain yang tak sejalan dilepas. Profesionalisme menjadi standar utama. Hasilnya tidak instan, namun perlahan United bangkit.
Baca Juga: Jadwal Proliga 2026 Putaran Kedua: Gresik Petro Kimia vs Jakarta Elektrik PLN
Titik Balik Piala FA 1990
Musim 1989-1990 menjadi momen krusial. Tekanan memuncak setelah kekalahan 1-5 dari Manchester City. Suporter membentangkan spanduk menuntut Ferguson dipecat.
Laga Piala FA melawan Nottingham Forest disebut sebagai penentu nasibnya. Gol tunggal Mark Robins menyelamatkan karier Ferguson. MU kemudian melaju hingga final dan menjuarai Piala FA. Trofi itu menjadi awal kebangkitan.
Setahun kemudian, United menjuarai Cup Winners’ Cup setelah mengalahkan Barcelona di final. Harapan kembali tumbuh di Old Trafford.
Eric Cantona dan Lahirnya Dinasti
Musim 1992-1993 menjadi awal era Premier League. Ferguson merekrut Eric Cantona dari Leeds United. Transfer inilah yang menjadi katalis kebangkitan.
Cantona membawa kharisma dan mental juara. Manchester United akhirnya mengakhiri penantian 26 tahun dengan menjuarai Premier League. Dominasi pun dimulai.
Pada musim berikutnya, MU meraih gelar ganda Liga dan Piala FA. Generasi muda seperti Ryan Giggs, Paul Scholes, Gary Neville, dan David Beckham mulai diperkenalkan. Mereka kelak dikenal sebagai Class of ’92.
Treble 1999 yang Melegenda
Puncak era Sir Alex Ferguson terjadi pada musim 1998-1999. Dengan skuad berisi Peter Schmeichel, Roy Keane, Beckham, Giggs, hingga Dwight Yorke, United meraih treble winners: Premier League, Piala FA, dan Liga Champions.
Final Liga Champions di Camp Nou menjadi laga paling dramatis. Tertinggal 0-1 hingga menit ke-90, MU mencetak dua gol di masa injury time lewat Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solskjaer untuk mengalahkan Bayern Munchen 2-1.
“Football, bloody hell,” ujar Ferguson usai laga. Kalimat itu menjadi legenda.
Atas pencapaian tersebut, ia dianugerahi gelar kebangsawanan dan resmi menjadi Sir Alex Ferguson.
Rebuild dan Era Cristiano Ronaldo
Kehebatan Ferguson bukan hanya soal satu generasi. Ia membangun ulang tim setelah era treble memudar. Kedatangan Cristiano Ronaldo pada 2003 menjadi bagian dari rencana jangka panjang.
Meski sempat paceklik gelar liga selama tiga musim, Ferguson kembali bangkit. Dengan rekrutan seperti Nemanja Vidic, Patrice Evra, dan Edwin van der Sar, United kembali menjuarai Premier League pada 2006-2007.
Musim 2007-2008, MU kembali meraih gelar Liga Champions setelah mengalahkan Chelsea lewat adu penalti di Moskow. Ronaldo mencetak 42 gol dan meraih Ballon d’Or.
Baca Juga: Mihailo Perovik Makin Tajam! Bonek Banjiri Pujian, Siap Gempur Persijap di Super League 2025-2026
Menjatuhkan Liverpool dari Singgasana
Salah satu ambisi terbesar Sir Alex Ferguson adalah “menjatuhkan Liverpool dari singgasana”. Target itu tercapai saat United meraih gelar liga ke-19 pada musim 2010-2011, melewati rekor Liverpool.
Musim 2012-2013 menjadi penutup sempurna. Dengan Robin van Persie sebagai mesin gol, United meraih gelar Premier League ke-20. Tak lama setelah itu, Ferguson mengumumkan pensiun.
Selama 26 tahun, ia mempersembahkan 13 gelar Premier League, 5 Piala FA, 4 Piala Liga, 2 Liga Champions, dan berbagai trofi lainnya.
Sir Alex Ferguson bukan sekadar manajer. Ia adalah arsitek dinasti, simbol mental juara, dan sosok yang membentuk identitas Manchester United modern. Warisannya tetap hidup, bahkan setelah ia meninggalkan kursi kepelatihan.
Editor : Axsha Zazhika