Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah Liverpool FC: Dari Proyek Balas Dendam di Anfield, Tragedi Hillsborough hingga Akhir Penantian 30 Tahun Premier League

Axsha Zazhika • Jumat, 20 Februari 2026 | 20:50 WIB

Sejarah Liverpool FC: Dari Proyek Balas Dendam di Anfield, Tragedi Hillsborough hingga Akhir Penantian 30 Tahun Premier League
Sejarah Liverpool FC: Dari Proyek Balas Dendam di Anfield, Tragedi Hillsborough hingga Akhir Penantian 30 Tahun Premier League
 

TULUNGAGUNG - Sejarah Liverpool FC tak bisa dilepaskan dari drama, tragedi, dan loyalitas tanpa batas para suporternya. Klub Premier League ini dikenal memiliki basis fans paling setia di dunia. Bahkan ketika puasa gelar Liga Inggris selama 30 tahun, lagu “You’ll Never Walk Alone” tetap menggema di Anfield tanpa henti.

Sejarah Liverpool FC bermula bukan dari kejayaan, melainkan konflik internal. Klub ini lahir dari perpecahan dengan Everton dan berdiri atas dasar sakit hati sang pemilik stadion. Dari situlah perjalanan panjang Liverpool dimulai, hingga menjelma menjadi salah satu raksasa sepak bola Eropa.

Dalam sejarah Liverpool FC, Anfield bukan sekadar stadion. Ia adalah simbol identitas, tempat lahirnya kultur Kopites, dan saksi bisu berbagai tragedi yang membentuk mentalitas klub hingga hari ini.

Baca Juga: Di Balik Pertunjukan Barongsai TITD Tjoe Tik Kiong Tulungagung, Pemain Ungkap Tantangan dan Tradisi Sakral di Klenteng

Lahir dari Konflik dengan Everton

Kisah Liverpool dimulai pada 1885 saat John Houlding membeli Stadion Anfield. Saat itu Anfield merupakan kandang Everton. Namun konflik muncul ketika Houlding menaikkan harga sewa dan memonopoli berbagai kebijakan komersial.

Pada 1892, 279 anggota Everton memutuskan hengkang dan membangun stadion baru, Goodison Park. Houlding yang merasa dikhianati akhirnya mendirikan klub baru pada 3 Juni 1892 bernama Liverpool Football Club.

Awalnya Liverpool mengenakan seragam biru-putih. Manajer pertama mereka, John McKenna, merekrut mayoritas pemain asal Skotlandia. Skuad awal bahkan dijuluki “Team of the Macs” karena banyaknya pemain bermarga Mac.

Baca Juga: Megawati Dipuji dan Dikritik Rival Serbia, Jakarta Pertamina Enduro Tumbangkan Livin Mandiri di Proliga Medan

Awal Prestasi dan Rivalitas Derby

Liverpool memulai kompetisi di Lancashire League sebelum akhirnya diterima di Football League Divisi 2. Mereka langsung promosi ke Divisi 1 dan bertemu rival sekota, Everton, dalam Derby Merseyside pertama.

Meski sempat terdegradasi, Liverpool bangkit dan meraih gelar Liga Inggris pertamanya pada musim 1900-1901. Trofi kedua menyusul pada 1906. Pada periode ini pula Tribun Spion Kop dibangun, yang kemudian melahirkan istilah Kopites bagi fans fanatik Liverpool.

Setelah itu, performa Liverpool naik turun. Mereka sempat menambah gelar liga pada 1921-22 dan 1922-23, namun konsistensi sulit dijaga.

Baca Juga: Megawati Menggila di Proliga 2026, Coach Lodi Siapkan Taktik Khusus Redam Megatron.

Revolusi Bill Shankly

Titik balik besar dalam sejarah Liverpool FC datang pada 1959 saat Bill Shankly ditunjuk sebagai manajer. Ia merombak total skuad dan membangun budaya kerja keras yang menjadi fondasi klub.

Shankly membawa Liverpool promosi ke Divisi 1 dan mempersembahkan tiga gelar liga, dua Piala FA, serta satu Piala UEFA. Namun warisan terbesarnya bukan sekadar trofi, melainkan filosofi sepak bola dan mentalitas juara.

Estafet kepemimpinan diteruskan Bob Paisley. Dalam sembilan tahun, Paisley menghadirkan 20 trofi, termasuk tiga European Cup (sekarang Liga Champions). Liverpool pun menjelma menjadi kekuatan dominan di Eropa pada era 1970-1980-an.

Baca Juga: Jadwal Proliga 2026 Putaran Kedua: Gresik Petro Kimia vs Jakarta Elektrik PLN

Tragedi yang Mengguncang Dunia

Sejarah Liverpool FC juga diwarnai dua tragedi besar. Pertama, Tragedi Heysel pada 29 Mei 1985 saat final European Cup melawan Juventus di Brussels. Kerusuhan suporter menyebabkan runtuhnya bagian stadion dan menewaskan 39 orang. Akibatnya, klub-klub Inggris dilarang tampil di kompetisi Eropa selama lima tahun.

Empat tahun kemudian, Tragedi Hillsborough terjadi pada semifinal Piala FA 1989. Penumpukan suporter di stadion menyebabkan 97 fans Liverpool meninggal dunia. Insiden ini menjadi salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah sepak bola Inggris dan memicu reformasi besar sistem keamanan stadion.

Banyak pihak mengaitkan dua tragedi ini dengan puasa gelar Liga Inggris yang berlangsung tiga dekade.

Baca Juga: Prediksi Line Up Persib Bandung vs Persita Tangerang Pekan ke-22 BRI Super League 2025-2026: Maung Bandung Kunci Puncak Klasemen?

Puasa Gelar 30 Tahun dan Kebangkitan

Setelah terakhir menjuarai liga pada 1990, Liverpool harus menunggu hingga 2020 untuk kembali meraih trofi Premier League. Selama periode itu, mereka sempat empat kali nyaris juara.

Salah satu momen paling dikenang adalah musim 2013-2014 saat peluang juara sirna usai sang kapten terpeleset dalam laga krusial.

Kebangkitan mulai terlihat sejak kedatangan Jurgen Klopp. Pelatih asal Jerman itu membawa Liverpool menjuarai Liga Champions 2018-2019 sebelum akhirnya mengakhiri penantian 30 tahun gelar Premier League pada musim 2019-2020.

Baca Juga: Bruno Moreira dan Tony Firmansyah Masuk APPI Best 11 Januari 2026, Persebaya Dapat Suntikan Moral Jelang Tandang ke Persijap

Kini, di bawah pelatih anyar Arne Slot, harapan baru kembali tumbuh. Loyalitas Kopites tetap menjadi kekuatan utama klub ini.

Sejarah Liverpool FC membuktikan satu hal: klub ini bukan sekadar tentang trofi, melainkan tentang identitas, solidaritas, dan semangat pantang menyerah. Dari konflik di Anfield hingga tragedi dan kebangkitan, Liverpool tetap berdiri dengan satu keyakinan: You’ll Never Walk Alone.

Editor : Axsha Zazhika
#hillsborough #sejarah liverpool fc #premier league #jurgen klopp #anfield