TULUNGAGUNG - Sejarah Liverpool FC kembali menjadi sorotan setelah kemenangan dramatis di final Liga Champions 2019. Laga yang digelar 1 Juni 2019 di Stadion Metropolitano, Madrid, mempertemukan dua wakil Inggris: Tottenham Hotspur dan Liverpool FC. Bagi The Reds, laga tersebut bukan sekadar final, melainkan momentum penebusan setelah kegagalan musim sebelumnya.
Sejarah Liverpool FC mencatat bahwa klub ini kerap bangkit dari keterpurukan. Di final Liga Champions 2019, Mohamed Salah membuka keunggulan lewat penalti cepat pada menit kedua. Gol Divock Origi di menit ke-87 memastikan kemenangan 2-0 dan mengantar Liverpool meraih trofi keenam Liga Champions.
Kemenangan tersebut menjadi bukti bahwa sejarah Liverpool FC selalu dipenuhi siklus jatuh dan bangkit. Dari konflik internal saat berdiri hingga tragedi besar, klub ini tetap bertahan dan berkembang menjadi raksasa sepak bola Eropa.
Lahir dari Konflik dengan Everton
Liverpool berdiri pada 1892 akibat perseteruan antara John Houlding dan dewan direksi Everton. Houlding, pengusaha sekaligus pemilik Anfield, menaikkan biaya sewa stadion yang memicu konflik. Everton memilih pindah ke Goodison Park, meninggalkan Anfield kosong.
Tak ingin stadionnya mangkrak, Houlding mendirikan Liverpool Football Club. Dalam waktu relatif singkat, Liverpool meraih gelar Liga Inggris pertama pada 1901, disusul gelar kedua pada 1906. Popularitas mereka pun tumbuh pesat di Inggris.
Dampak Perang Dunia dan Inkonsistensi
Perang Dunia I (1914-1918) menghentikan kompetisi sepak bola Inggris. Liverpool yang sedang berkembang kehilangan momentum. Usai perang, mereka sempat bangkit dengan gelar liga beruntun pada 1921-22 dan 1922-23.
Namun inkonsistensi menjadi masalah klasik. Perang Dunia II kembali menghentikan kompetisi. Kota Liverpool bahkan menjadi sasaran bom Jerman, menyebabkan kerusakan besar dan memengaruhi kondisi klub.
Revolusi Bill Shankly dan Era Keemasan
Kebangkitan besar dimulai pada 1959 ketika Bill Shankly ditunjuk sebagai manajer. Saat itu Liverpool terpuruk di divisi dua. Shankly merombak total skuad, memperbaiki fasilitas latihan, serta menanamkan disiplin tinggi.
Hasilnya, Liverpool promosi ke kasta tertinggi dan meraih Piala FA 1965. Filosofi Shankly menjadi fondasi kejayaan klub. Penerusnya, Bob Paisley, membawa Liverpool ke level lebih tinggi dengan dua gelar European Cup berturut-turut pada 1977 dan 1978.
Di bawah dua manajer ini, Liverpool menjelma menjadi kekuatan dominan di Inggris dan Eropa.
Era Modern dan Tantangan Finansial
Memasuki era Premier League, Liverpool tetap masuk jajaran “Big Six” bersama Manchester United, Arsenal, Chelsea, Manchester City, dan Tottenham. Namun konsistensi gelar liga sulit diraih.
Pada 2010, klub diambil alih Fenway Sports Group (FSG). Kebijakan transfer dan manajemen sempat menuai kritik. Liverpool dinilai kehilangan arah dan terlalu bergantung pada figur manajer.
Kebangkitan Bersama Jurgen Klopp
Perubahan signifikan terjadi saat Jurgen Klopp datang pada 2015. Pelatih asal Jerman itu meminta waktu empat tahun untuk membangun ulang tim. Janji tersebut terbayar.
Liverpool menjuarai Liga Champions 2018-2019 usai mengalahkan Tottenham di final. Mohamed Salah, Sadio Mane, dan Virgil van Dijk menjadi tulang punggung tim. Setahun kemudian, Liverpool mengakhiri puasa gelar Liga Inggris selama 30 tahun pada musim 2019-2020.
Klopp berhasil mengembalikan mentalitas juara dan identitas agresif Liverpool.
Ketergantungan pada Manajer?
Meski sukses, muncul pertanyaan soal ketergantungan Liverpool pada sosok manajer. Situasi ini mengingatkan publik pada Manchester United pasca-Sir Alex Ferguson. Jika Klopp pergi, mampukah Liverpool menjaga stabilitas?
Sejarah Liverpool FC menunjukkan bahwa klub ini selalu menemukan cara untuk bangkit. Dari konflik berdirinya, dampak perang dunia, hingga final Liga Champions 2019, Liverpool membuktikan daya tahannya.
Dengan fondasi sejarah kuat dan dukungan Kopites yang militan, Liverpool tetap menjadi salah satu klub paling berpengaruh di dunia sepak bola. Final Liga Champions 2019 hanyalah satu bab dari perjalanan panjang penuh drama dan kejayaan.
Editor : Axsha Zazhika