TULUNGAGUNG - Sejarah Kota Liverpool bukan sekadar kisah tentang sepak bola dan The Beatles. Kota di barat laut Inggris ini memiliki perjalanan panjang yang membentuk identitas warganya hingga kini lebih bangga disebut “Scouse” ketimbang orang Inggris. Dari pusat perdagangan budak terbesar di Eropa hingga kota dengan tradisi perlawanan kelas pekerja, sejarah Kota Liverpool penuh dinamika.
Sejarah Kota Liverpool bahkan dimulai ribuan tahun sebelum Masehi. Wilayah di tepi Sungai Mersey itu telah dihuni komunitas nomaden sekitar 10.000 tahun lalu. Seiring waktu, kawasan tersebut menjadi tempat percampuran berbagai bangsa seperti Celtic Britain, Anglo-Saxon, hingga Viking Norwegia.
Tak heran jika identitas Liverpool hari ini begitu unik. Sejarah Kota Liverpool menciptakan budaya hybrid yang membedakannya dari kota-kota lain di Inggris, termasuk dalam hal aksen, karakter sosial, hingga sikap politik warganya.
Asal-Usul dan Pengaruh Viking
Pada awal abad Masehi, wilayah barat laut Inggris dihuni bangsa Celtic Britain. Setelah kekuasaan Romawi runtuh, datang migrasi Anglo-Saxon dari wilayah Eropa utara. Meski sempat terjadi konflik, kedua kelompok ini akhirnya berasimilasi.
Gelombang berikutnya datang dari bangsa Viking Norwegia pada abad ke-8. Mereka menyerbu pesisir Irlandia, Skotlandia, hingga barat laut Inggris, termasuk kawasan yang kini menjadi Liverpool. Setelah periode konflik, Viking dan penduduk lokal hidup berdampingan, saling menikah, dan membentuk identitas baru.
Pengaruh Viking inilah yang diyakini menjadi salah satu akar genetik dan budaya masyarakat Liverpool modern.
Diresmikan Raja John dan Tumbuh Jadi Kota Pelabuhan
Secara resmi, Liverpool didirikan pada 1207 oleh Raja John melalui Royal Charter. Kota ini dirancang sebagai pelabuhan strategis untuk perdagangan dan akses militer ke Irlandia.
Awalnya pertumbuhan Liverpool berjalan lambat dan kalah pamor dibanding pelabuhan seperti London dan Bristol. Namun pada abad ke-16, pelabuhan Chester mengalami pendangkalan. Kondisi ini membuat Liverpool menjadi alternatif utama bagi kapal-kapal besar.
Momentum itu membawa Liverpool ke era emas perdagangan internasional. Saat Revolusi Industri, pelabuhan Liverpool menjadi pusat ekspor-impor barang manufaktur, gula, kapas, teh, tembakau, dan—yang paling kontroversial—budak.
Baca Juga: Proliga 2026: Bandung BJB Tandamata Gagal ke Final Four Usai Tumbang dari Jakarta Popsivo Polwan
Pusat Perdagangan Budak Atlantik
Pada abad ke-18, Liverpool menjadi pusat perdagangan budak terbesar di Inggris. Lebih dari 5.000 perjalanan kapal budak dilakukan antara 1700 hingga 1807.
Liverpool menguasai sekitar 80 persen perdagangan budak Inggris dan 40 persen dari seluruh Eropa. Skema “segitiga perdagangan” menjadi mesin ekonomi kota: barang dari Inggris ditukar dengan budak di Afrika Barat, budak dijual di Amerika dan Karibia, lalu hasil perkebunan dibawa kembali ke Eropa.
Keuntungan besar dari sistem tidak manusiawi itu menjadikan Liverpool kota kaya raya. Infrastruktur berkembang pesat, bank dan gedung megah berdiri. Namun, sejarah kelam ini tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kota.
Lahirnya Identitas Scouse
Sebutan “Scouse” berasal dari makanan pelaut bernama lobscouse, semacam sup daging dan kentang yang populer di pelabuhan. Seiring waktu, istilah itu digunakan untuk menyebut warga Liverpool.
Aksen Scouse terbentuk dari percampuran bahasa Irlandia, Wales, Norwegia, dan Inggris. Kota pelabuhan yang multikultural ini melahirkan karakter masyarakat yang terbuka, tetapi juga keras dan vokal.
Identitas lokal yang kuat membuat banyak warga Liverpool lebih bangga disebut Scouse daripada Inggris.
Rivalitas dengan Manchester dan Gerakan Buruh
Memasuki abad ke-19, Liverpool menghadapi persaingan sengit dengan Manchester. Pembangunan Manchester Ship Canal pada 1894 memungkinkan Manchester mengekspor barang tanpa melalui pelabuhan Liverpool.
Warga Liverpool menilai proyek itu sebagai ancaman ekonomi. Ketegangan berkembang menjadi rivalitas struktural yang kemudian merembet ke budaya dan sepak bola.
Di awal abad ke-20, Liverpool juga dikenal sebagai pusat gerakan buruh. Gelombang mogok nasional 1911 menjadikan kota ini simbol perlawanan kelas pekerja. Pemerintah bahkan mengirim ribuan tentara dan kapal perang untuk meredam aksi.
Peristiwa tersebut memperkuat citra Liverpool sebagai kota yang kritis terhadap kekuasaan.
Tragedi Hillsborough dan Stigma Nasional
Hubungan Liverpool dengan pemerintah pusat semakin renggang setelah tragedi Hillsborough 1989. Sebanyak 97 suporter Liverpool meninggal dunia akibat kelalaian pengamanan di semifinal Piala FA.
Ironisnya, sejumlah media nasional justru menyalahkan suporter. Butuh 27 tahun hingga pengadilan memutuskan bahwa fans tidak bersalah dan polisi bertanggung jawab.
Peristiwa ini memperdalam rasa ketidakpercayaan warga Liverpool terhadap otoritas nasional. Sejak itu, identitas Scouse semakin menguat.
Hingga kini, sejarah Kota Liverpool membentuk mentalitas unik: kota dengan warisan kelam perdagangan budak, tradisi solidaritas buruh, serta kebanggaan lokal yang mengalahkan nasionalisme formal. Bagi banyak warganya, menjadi Scouse adalah identitas yang tak tergantikan.
Editor : Axsha Zazhika