Radar Tulungagung - Era pertengahan 2000-an hingga awal 2010-an dikenal sebagai masa kejayaan Fantastic Four MotoGP, sebutan bagi empat pembalap legendaris yang mendominasi lintasan Grand Prix. Keempat pembalap tersebut adalah Valentino Rossi, Dani Pedrosa, Casey Stoner, dan Jorge Lorenzo.
Para penggemar menyebut mereka Fantastic Four karena keempat pembalap ini hampir selalu mengisi barisan depan balapan MotoGP. Mereka juga menjadi tulang punggung tiga pabrikan utama saat itu, yaitu Yamaha, Honda, dan Ducati.
Dominasi mereka begitu kuat sehingga hingga kini banyak pengamat menilai pembalap modern belum mampu menyamai karisma dan pengaruh yang mereka tinggalkan.
Awal Dominasi Valentino Rossi
Valentino Rossi menjadi pembalap paling senior dalam kelompok Fantastic Four. Sebelum Pedrosa, Stoner, dan Lorenzo naik ke kelas MotoGP, Rossi sudah lebih dulu meraih tujuh gelar juara dunia di berbagai kelas.
Gelar tersebut diraih pada kelas 125 cc (1997), 250 cc (1999), 500 cc (2001), serta MotoGP dari tahun 2002 hingga 2005. Rossi bahkan berhasil menjadi juara dunia bersama dua pabrikan berbeda, Honda dan Yamaha.
Pada awal 2000-an, Rossi mendominasi MotoGP hampir tanpa perlawanan berarti. Namun situasi mulai berubah pada 2006 ketika rival-rival baru mulai bermunculan.
Generasi Baru Mulai Muncul
Musim 2006 menjadi titik awal perubahan kekuatan di MotoGP. Pada tahun tersebut, Casey Stoner dan Dani Pedrosa memulai debut mereka di kelas utama setelah tampil gemilang di kelas 250 cc.
Pedrosa langsung bergabung dengan tim pabrikan Repsol Honda, sementara Stoner membela tim satelit LCR Honda. Keduanya menunjukkan potensi besar sejak musim pertama.
Setahun kemudian, Stoner membuat kejutan besar ketika bergabung dengan Ducati. Saat itu Ducati dikenal sebagai motor yang sangat kencang namun sulit dikendalikan.
Namun Stoner berhasil menjinakkan motor Ducati Desmosedici GP7 dan mendominasi musim 2007 dengan 10 kemenangan. Ia akhirnya meraih gelar juara dunia dengan selisih poin yang sangat besar.
Rivalitas Rossi dan Lorenzo
Persaingan internal Yamaha mulai memanas sejak kedatangan Jorge Lorenzo pada musim 2008. Hubungan Rossi dan Lorenzo sempat memanas hingga garasi Yamaha harus dipisahkan dengan sekat pembatas.
Pada musim 2008, Rossi berhasil merebut kembali gelar juara dunia setelah mengalahkan Stoner dalam persaingan sengit sepanjang musim.
Rivalitas Rossi dan Lorenzo mencapai puncaknya pada musim 2009. Keduanya sering bertarung ketat di setiap balapan, termasuk duel legendaris di GP Catalunya yang dimenangkan Rossi pada tikungan terakhir.
Lorenzo Menguasai MotoGP
Musim 2010 menjadi titik balik ketika Jorge Lorenzo tampil dominan dan meraih gelar juara dunia pertamanya.
Keberhasilan Lorenzo tidak lepas dari cedera parah yang dialami Rossi di GP Italia yang membuatnya absen cukup lama dari kompetisi.
Lorenzo akhirnya menjadi juara dunia dengan 10 kemenangan, sementara Dani Pedrosa menjadi runner-up dan Rossi berada di posisi ketiga.
Masa Kejayaan Casey Stoner
Pada musim 2011 terjadi perubahan besar ketika Stoner pindah ke Honda dan Rossi bergabung dengan Ducati.
Hasilnya sangat kontras. Stoner tampil dominan dan meraih gelar juara dunia keduanya bersama Honda. Sebaliknya Rossi kesulitan beradaptasi dengan Ducati dan hanya mampu finis di posisi ketujuh klasemen akhir.
Musim tersebut juga diwarnai tragedi meninggalnya Marco Simoncelli yang mengguncang dunia MotoGP.
Akhir Era Fantastic Four
Musim 2012 menjadi awal berakhirnya era Fantastic Four. Casey Stoner mengumumkan pensiun di usia muda karena kehilangan motivasi balapan.
Pada musim yang sama, Jorge Lorenzo kembali meraih gelar juara dunia setelah mengalahkan Dani Pedrosa dalam persaingan ketat.
Musim 2013 menjadi periode terakhir Fantastic Four tampil kompetitif sebelum munculnya generasi baru seperti Marc Marquez yang mulai mendominasi MotoGP.
Satu per satu anggota Fantastic Four akhirnya pensiun. Dani Pedrosa berhenti balapan pada 2018, diikuti Lorenzo pada 2019. Valentino Rossi menjadi yang terakhir pensiun pada akhir musim 2021.
Meski era mereka telah berakhir, warisan Fantastic Four tetap dikenang sebagai salah satu periode terbaik dalam sejarah MotoGP.
Editor : Auliya Nur'Aini Khafadzoh