RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Candi Dadi merupakan salah satu situs candi yang terletak di Kabupaten Tulungagung. Candi ini memiliki keunikan dan sejarah yang menarik. Penasaran bagaimana kisahnya? Simak yuk.
Sejarah Candi Dadi diperkirakan berasal dari abad ke-14 Masehi, yaitu pada masa Kerajaan Majapahit. Dari beberapa sumber, candi ini dibangun oleh rakyat Majapahit yang diceritakan telah mengasingkan diri agar tetap dapat menjalankan kepercayaan ketika masa berakhirnya kekuasaan Hayam Wuruk.
Candi ini terletak di puncak bukit di Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Candi ini memiliki arsitektur khas agama Hindu dengan ciri-ciri seperti candi bentar (gerbang), candi utama, serta beberapa bangunan pelengkap. Pada bagian tengah Candi Dadi terdapat lingkaran yang berlubang dengan diameter 3,35 meter dan kedalaman kurang lebih 3 meter. Meskipun candi ini tidak utuh, bagian-bagian yang masih tersisa memberikan gambaran tentang keindahan dan keagungan candi tersebut. Beberapa relief menggambarkan cerita dan legenda.
Candi peninggalan Majapahit ini memiliki keunikan tersendiri, lho. Salah satunya, pada arsitektur dan seni ukirannya. Pada arsitekturnya, candi ini memiliki sebuah lubang yang berada ditengah menyerupai sebuah sumur. Entah apa tujuannya dibuatkan lubang dtengah seperti sumur tersebut hingga sekarang masih belum diketahui.
Nah, untuk reliefnya menggambarkan berbagai cerita dan adegan kehidupan pada masa lampau. Uniknya lagi ternyata candi yang berbentuk bujursangkar ini merupakan Candi satu-satunya yang letaknya berada di sebuah bukit, yakni di puncak bukit pegunungan Walikukun.
Selain itu, lokasi candi yang terletak di tengah perbukitan hijau memberikan pemandangan alam yang indah dan menenangkan. Sehingga, pengunjung juga dapat menjelajahi sekitar candi dan menikmati keindahan alam sekitarnya. Tak heran Candi Dadi juga menjadi tujuan wisata budaya dan sejarah yang menarik di Tulungagung.
Untuk kamu yang ingin berkunjung ke Candi Dadi, kamu bisa tempuh dari arah kota menuju ke arah selatan, yakni ke jalan utama Kecamatan Boyolangu. Terdapat dua jalur yaitu jalur barat dan jalur timur. Tinggal lewat ke arah timur kemudian akan disambut bangunan gapura besar dan bertuliskan aksara jawa.
Editor : Nurul Hidayah