TULUNGAGUNG - Lebaran sebentar lagi. Hari raya Idul Fitri merupakan hari raya umat Islam yang terjadi dalam 1 tahun sekali, hari dimana sanak keluarga berkumpul dan saling memaafkan.
Hari raya Idul Fitri tak lengkap rasanya jika tidak da makanan yang dihidangkan utuk para tamu yang datang.
Jenang Syabun merupakan jajanan yang cocok disajikan waktu Lebaran.
Nama Jenang Syabun berasal dari kata bahasa Arab Shobun yang berarti pemuda, dan lama kelamaan Shobun berubah menjadi Syabun karena pelafalannya lebih mudah untuk masyarakat Tulungagung.
Awalnya pencipta jenang syabun sedang melakukan ihram, dan menemukan kata shobun yang memiliki makna pemuda diartikan disini bahwa pemuda harus kreatif dan tidak hanya ikut- ikut orang tua saja.
Jenang yang berasal dari Tulungagung ini mempunyai tekstur lebih kenyal dibanding Jenang yang lain. Untuk rasanya Jenang Syabun memiliki rasa yang manis dan sedikit gurih.
Biasanya diatas Jenang Syabun terdapat taburan Wijen dan warna Jenang Syabun sendiri adalah hitam dan putih.
Jenang Syabun merupakan makanan khas dari Tulungagung yang diciptakan oleh Hj. Iskandar mulai tahun 1953.
Home industri Jenang Syabun berada di Kelurahan Sembung Kecamatan Tulungagung Kabupaten Tulungagung.
Jenang Syabun berbahan dasar kelapa, santan, ketan dan susu. Proses penggorengan dan pengadukan jenang syabun membutuhkan waktu selama 5 jam, setelah selesai proses pengadukan Jenang Syabun ditaruh ke dalam loyang atau cetakan.
Proses pembuatan Jenang Syabun mirip dengan pembuatan Dodol, di Home Industry Sembung mereka menggoreng Jenang Syabun menggunakan berbahan bakar kayu.
Usaha Jenang Syabun sudah berdiri selama 71 tahun, dan dijual hanya di wilayah Tulungagung saja karena Jenang Syabun tidak menggunakan pengawet sehingga hanya bertahan selama 7 hari.
Selain menjadi jajanan untuk hari raya Idul Fitri biasanya Jenang Syabun juga bisa dijadikan sebagai oleh- oleh khas Tulungagung.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra