TULUNGAGUNG – Tidak bisa dipungkiri, keberadaan Stasiun Tulungagung bisa ikut menggerakkan roda perekonomian Tulungagung.
Apalagi stasiun yang berada di Jalan Pangeran Antasari, Tulungagung ini dahulu memiliki banyak percabangan jalur kereta api.
Baik menuju Kediri, Blitar, Trenggalek, maupun menunjang industri gula menuju Pabrik Gula (PG) Modjopanggoong.
Sekadar diketahui, PG Modjopanggoong merupakan salah satu pabrik gula yang sudah tua, karena dibangun pada 1852. Hingga kini, pabrik yang berada di Kecamatan Kauman, Tulungagung ini masih beroperasi.
Seperti halnya pabrik gula lain, dipastikan juga memiliki jalur lori. Hal ini dianggap dianggap lebih efisien dan mudah dibandingkan transportasi lainnya pada zaman Belanda. Walaupun sekarang lebih banyak menggunakan truk.
Di sini akan dijelaskan jalur lori PG Modjopanggoong. Umumnya sebagian sudah tertutup aspal, khususnya yang berada di sekitar Stasiun Tulungagung.
1. Dari peta menunjukkan ke arah utara menuju Karangrejo hingga Jeli berbelok arah ke Timur bersilang dengan jalur lori milik Staatspoorwegen (SS). Jika ditelusuri terhubung dengan jaringan lori PG Ngadiredjo, Kediri.
2. Dari pabrik gula ke timur merupakan jalur untuk angkutan tetes tebu/angkutan gula menuju Stasiun Tulungagung untuk diangkut kereta api ke luar kota.
3. Dari pabrik gula ke selatan terdapat 3 percabangan. Yaitu ke barat menuju Durenan hingga Kedunglurah (Trenggalek).
Lalu ke selatan sampai menuju Gondang dan jalur lori bersambung kembali dengan rel lori ke Trenggalek.
Dan yang terakhir ke timur menuju ke Lembu Peteng yang dahulunya di merupakan ladang tebu.
Begitulah sejarah sekilas mengenai jalur lori PG Modjopanggoong. Hal ini menandakan jika industri gula di Tulungagung begitu luar biasa pada tempo dulu. ***
Editor : Dharaka R. Perdana