TULUNGAGUNG – Di jalur kereta mati Tulungagung-Trengalek pada masanya berdiri lima stasiun. Namun dari kelima stasiun tersebut, hanya ada satu yang masih berdiri dan melayani masyarakat Tulungagung dan sekitarnya.
Yakni Stasiun Tulungagung di Jalan Pangeran Antasari, Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Tulungagung.
Semuanya dibangun Staatspoorwegen (SS) sebuah perusahaan kereta api milik Belanda yang beroperasi di Indonesia pada tempo dulu.
Baca Juga: Ini Cerita Jalur Lori PG Modjopanggoong Tulungagung, Salah Satunya Mengarah ke Stasiun Tulungagung
Empat lainnya saat ini tinggal cerita, termasuk Stasiun Bandung (bukan di Jawa Barat) yang akan dibahas kali ini.
Dilansir dari indonesiarailmap.com, Stasiun Bandung pada peta berada di Desa Suruhan Kidul, Kecamatan Bandung, Tulungagung.
Saat ini di lokasi tersebut sudah tidak ditemukan sisa-sisa bangunan stasiun ini. Yang ada justru bangunan SMA 45 yang diduga menjadi lokasi Stasiun Bandung.
Yakni sebuah sekolah swasta yang bertetangga dengan lapangan Desa Suruhan Kidul. Sehingga belum diketahui seperti apa bentuk sebenarnya dari bangunan stasiun ini.
Tidak jauh dari stasiun ini juga ada halte Bandungpasar. Lokasinya diperkirakan berada di dalam gang depan kantor Desa/Kecamatan Bandung, Tulungagung. Tepatnya berada di sekitar perempatan Bundaran Soko Pitu.
Hal ini terungkap dari koran "De Indische Courant" edisi 25 April 1930. Koran ini mengabarkan bahwa SS berencana membuka perhentian baru di lintas ini.
Yang kelak bernama Stopplaats Bandoengpasser pada km 21+300 pada 1 Mei 1930 seperti dikutip dari kereta.id.
Dalam Buku Jarak penerbitan Mei 2004, nama perhentian ini disesuaikan dengan ejaan yang berlaku sehingga ditulis sebagai Bandungpasar, tetapi letak km-nya ditulis km 21+285 atau 15 meter lebih awal dari pernyataan koran, sehingga terdapat dualisme letak km-nya.
Begitulah sekilas cerita mengenai Stasiun Bandung yang akhirnya hilang ditelan zaman. Khususnya karena dampak krisis malaise pada 1930 yang membuat jalur Tulungagung-Trenggalek-Tugu tinggal nama.
Editor : Dharaka R. Perdana