Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pada Salah Satu Pasar di Kabupaten Tulungagung Ini, Para Pembeli Bisa Bersenggolan Satu Sama Lain

Rinto Wahyu Hidayat • Jumat, 3 Januari 2025 | 14:00 WIB

SENANG: Masyarakat setelah belanja di Pasar Senggol.
SENANG: Masyarakat setelah belanja di Pasar Senggol.

TULUNGAGUNG
– Pasar Senggol di Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, memiliki cerita panjang yang kaya sejarah.

Menurut cerita, pemberian nama “Pasar Senggol” sendiri muncul dari suasananya yang ramai orang dan sering bersenggolan.

Kepala Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, Budi Setiawan menjelaskan, munculnya pasar tersebut bermula pada tahun 1980-an.

Lokasinya di sebuah perempatan yang ada di Desa Bangoan.

Dia bercerita dulunya para pedagang gendongan yang sebenarnya berkeliling sering berhenti di lokasi tersebut.

Kehadiran mereka menarik banyak pembeli hingga jalanan penuh sesak dengan orang-orang yang berdesakan.

"Dinamakan Pasar Senggol karena suasananya ramai dan orang-orang sering bersenggolan," ungkap Budi, sapaan akrabnya.

Pasar Senggol sejak awal dikenal dengan berbagai kuliner tradisional berbahan dasar ketela dan jagung.

Sebut saja seperti cenil, tiwul, gatot, gerontol, serta lontong sayur.

Hidangan-hidangan khas ini tetap menjadi daya tarik utama hingga sekarang.

"Kuliner di sini punya rasa yang khas dan berbeda dari tempat lain," paparnya.

Menurut Budi, perkembangan dan Potensi Pasar Senggol saat ini tidak hanya menjadi pusat aktivitas ekonomi saja.

Melainkan juga ikon yang dikenal luas di Tulungagung.

Pihak Pemerintah Desa (Pemdes) berharap pasar ini terus berkembang dengan mengedepankan potensi lokal.

“Kami ingin masyarakat berdagang sesuai keahliannya masing-masing sehingga pasar ini tidak hanya menjadi tempat berjualan, tetapi juga mencerminkan kekayaan budaya Desa Bangoan,” jelasnya.

RAMAI: Pengunjung Pasar Senggol menikmati jajanan kuliner yang ada.
RAMAI: Pengunjung Pasar Senggol menikmati jajanan kuliner yang ada.

Sejak tahun 2016, pengelolaan pasar ini beradadi bawah naungan BUMDes Maju Mapan.

Badan usaha yang yang dimiliki desa itu bekerja sama dengan pemerintah desa melalui AD/ART yang telah disusun.

Pemasukan dari Pasar Senggol kini menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Desa (PADes).

Budi bercita-cita agar Pasar Senggol ke depannya memiliki tata kelola yang lebih modern.

Dari segi manajemen, penyajian kuliner, maupun digitalisasi.

“Kami ingin sistemnya lebih tertata, dengan pengelolaan perdagangan dan keuangan yang rapi, sehingga pemasukan untuk desa juga semakin meningkat,” katanya.

Pun begitu, dia menyadari bahwa digitalisasi seperti pemasaran online dan sistem antar-jemput barang (COD) masih menjadi tantangan karena kondisi pasar yang terbatas.

Tetapi masih ada harapan bahwa langkah-langkah inovatif dapat diterapkan secara bertahap.

Untuk mendukung visi ini, pihaknya mengimbau pengurus BUMDes agar lebih kreatif dalam mengelola pasar.

"Supaya pedagang dan pengunjung tidak jenuh, pengelola harus menciptakan suasana yang menarik dan relevan dengan perkembangan zaman," ujarnya.

Kuliner tradisional tetap menjadi ciri khas utama Pasar Senggol.

Bahkan, dalam acara-acara tertentu, pemerintah desa juga memesan hidangan khas pasar ini sebagai bentuk apresiasi terhadap budaya lokal.

"Ke depan, kami ingin penyajian dan sistem kuliner ini lebih modern tanpa menghilangkan kekhasan rasanya," tutup Budi Setiawan.

Dengan potensi yang dimilikinya, Pasar Senggol tidak hanya menjadi ruang transaksi ekonomi. Petapi juga simbol semangat tradisi dan inovasi masyarakat Desa Bangoan. ***

Editor : Mukhamad Zainul Fikri
#gatot #Kabupaten Tulugagung #pasar senggol bangoan #kuliner #pasar senggol #tiwul