RADAR TULUNGAGUNG - Gunung Arjuno adalah gunung berapi yang tidak aktif di Jawa Timur.
Terletak di antara Kota Batu, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Pasuruan, Gunung Arjuno memiliki ketinggian 3.339 mdpl dan menjadi salah satu gunung tertinggi di Pulau Jawa.
Baca Juga: Benarkah Gunung Semeru Berasal dari India? Berikut Isi Kitab Tantu Pagelaran
Nama "Arjuno" diambil dari tokoh pewayangan Mahabharata, yaitu Arjuna, yang terkenal sebagai ksatria gagah berani dan memiliki sifat bijaksana.
Pendakian Gunung Arjuno mulai populer sejak era kolonial Belanda, di mana gunung ini menjadi salah satu destinasi favorit bagi para pendaki Eropa.
Baca Juga: Tak Hanya Menyehatkan, Olahraga Lari Juga Berpengaruh ke Ekonomi, Kok Bisa?
Hingga saat ini, Gunung Arjuno tetap menjadi tujuan pendakian yang populer, menawarkan pemandangan indah dan jalur menantang.
Gunung Arjuno juga memiliki beragam mitos yang berkembang di kalangan masyarakat setempat.
Berikut adalah beberapa mitos terkenal yang terkait dengan Gunung Arjuno:
1. Kerajaan Gaib
Gunung Arjuno dipercaya menjadi tempat bersemayamnya makhluk halus dan kerajaan gaib yang dipimpin oleh seorang raja spiritual.
Baca Juga: Kejadian Lucu Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis, Tulungagung Perdana di Al Azhaar
Kerajaan ini konon dihuni oleh para leluhur dan makhluk gaib yang menjaga keseimbangan alam di gunung tersebut.
Beberapa pendaki mengaku melihat tanda-tanda keberadaan kerajaan ini, seperti bayangan istana atau suara-suara misterius.
2. Jalur Pendakian yang Menyesatkan
Pendaki sering mendengar cerita tentang jalur-jalur yang tiba-tiba berubah menjadi membingungkan, sehingga membuat mereka tersesat.
Fenomena ini sering dikaitkan dengan makhluk gaib yang "menggoda" para pendaki yang tidak sopan atau melanggar pantangan tertentu, seperti berbicara kasar, merusak alam, atau memetik tanaman.
Baca Juga: Gagal Gelar Car Free Night, Dinkop UM Tulungagung Wacanakan Agenda Ini di 2025
3. Pantangan Berbicara Sembarangan
Pendaki dilarang keras berbicara sembarangan atau mengucapkan kata-kata yang tidak pantas di Gunung Arjuno.
Hal ini dipercaya dapat memancing amarah makhluk gaib penghuni gunung, yang bisa menyebabkan gangguan fisik atau bahkan membuat pendaki hilang.
4. Legenda Gamelan Gaib
Beberapa pendaki mengaku mendengar suara gamelan yang datang dari arah yang tidak jelas, terutama di malam hari.
Suara gamelan ini dianggap sebagai pertanda adanya ritual atau aktivitas makhluk gaib. Pendaki disarankan untuk tidak mencari asal suara tersebut agar tidak tersesat atau terkena musibah.
Baca Juga: Tak Hanya PMK, Peternak di Tulungagung Wajib Waspadai Penyakit Lain di Musim Penghujan
5. Pusaka Tosan Aji
Gunung Arjuno disebut sebagai tempat penyimpanan pusaka gaib bernama Tosan Aji, yaitu senjata sakti yang diyakini memiliki kekuatan luar biasa. Pusaka ini konon tersembunyi di suatu tempat di gunung dan hanya dapat ditemukan oleh mereka yang memiliki hati bersih dan niat tulus.
6. Penjaga Spiritual Gunung Arjuno
Masyarakat percaya bahwa Gunung Arjuno dijaga oleh makhluk gaib bernama Eyang Semar dan para leluhur.
Eyang Semar dianggap sebagai penjaga spiritual yang melindungi pendaki yang menghormati adat dan menjaga perilaku.
Beberapa orang bahkan melakukan ritual khusus untuk memohon izin sebelum mendaki.
Lokasi petilasannya melalui jalur pendakian rute Purwoasri pada ketinggian 2.300 mdpl.
Baca Juga: Perlu Dijewer, 530 Pelanggar Lalu Lintas di Tulungagung Belum Bayar Tilang
7. Tempat Bermeditasi Para Raja
Mitos lain menyebutkan bahwa Gunung Arjuno adalah tempat sakral di mana raja-raja kuno, seperti dari Kerajaan Singhasari dan Majapahit, melakukan meditasi dan mencari pencerahan spiritual.
Energi spiritual ini masih dipercaya terasa kuat hingga sekarang, menarik banyak orang untuk melakukan ritual atau meditasi di gunung ini.
8. Fenomena Hilangnya Pendaki
Kasus pendaki yang hilang di Gunung Arjuno sering dianggap sebagai akibat ulah makhluk gaib.
Beberapa orang yang selamat menceritakan pengalaman aneh, seperti melihat "jalan palsu," bertemu dengan orang asing yang ternyata tidak nyata, atau merasa seolah-olah ditarik ke dalam dimensi lain.