BANYUMAS - Fenomena Sungai Serayu kering saat musim kemarau justru menghadirkan pemandangan berbeda di Kabupaten Banyumas. Dasar sungai yang biasanya dipenuhi air berubah menjadi lokasi wisata dadakan yang ramai dikunjungi warga.
Sungai Serayu kering ini berada di kawasan yang oleh warga dikenal sebagai Wadas Cinta. Ketika debit air sungai menyusut, area yang biasanya terendam berubah menjadi ruang untuk bermain, berenang, memancing hingga sekadar piknik.
Fenomena Sungai Serayu kering tersebut semakin menarik karena warga lokal memanfaatkannya sebagai objek wisata sederhana. Pengunjung bahkan bisa menikmati wisata perahu dengan tarif hanya Rp5.000 per orang.
Sungai Serayu Surut, Warga Bikin Wisata Dadakan
Pemandangan Sungai Serayu saat kemarau memang berbeda dibandingkan musim penghujan. Dasar sungai yang biasanya terisi air kini terlihat luas dan bisa digunakan warga untuk berbagai aktivitas.
Lokasi wisata Wadas Cinta berada di Desa Serowot. Akses menuju lokasi sudah dilengkapi sejumlah papan petunjuk yang dibuat untuk membantu pengunjung menemukan area wisata.
Jalan menuju lokasi memang cukup sempit dan terdapat beberapa bagian yang rusak. Namun, kendaraan seperti mobil masih bisa masuk hingga mendekati area wisata.
Di lokasi, pengunjung juga sudah disediakan area parkir. Tarif parkir yang disebutkan dalam video hanya Rp2.000.
Kondisi tersebut membuat wisata Sungai Serayu menjadi pilihan murah bagi masyarakat. Pengunjung tidak perlu membayar tiket masuk khusus untuk menikmati suasana sungai yang sedang surut.
Ramai untuk Ciblon hingga Piknik
Semakin siang, kawasan Sungai Serayu terlihat semakin ramai. Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang paling menikmati kondisi sungai ketika debit air sedang rendah.
Baca Juga: PKS Wisata Kedaluwarsa, Pemkab Tulungagung Turunkan Target PAD Pariwisata 2026
Mereka memanfaatkan bagian sungai yang dangkal untuk bermain air atau ciblonan. Aktivitas tersebut membuat suasana kawasan terasa seperti tempat rekreasi keluarga.
Selain bermain air, ada pula warga yang datang untuk memancing. Sebagian lainnya sekadar berjalan-jalan, mencari sarapan, membeli jajanan atau membawa anak untuk menikmati suasana alam.
Fenomena sungai surut ini juga dimanfaatkan warga untuk berjualan. Sejumlah pedagang menjajakan makanan dan jajanan seperti kerupuk, peyek hingga bakpau.
Aktivitas warga bahkan tidak hanya berkaitan dengan wisata. Dalam video terlihat ada warga yang mencuci pakaian di sekitar sungai sambil menemani anak-anak bermain.
Suasana tersebut menjadi daya tarik tersendiri. Sungai yang sebelumnya berfungsi sebagai aliran air berubah sementara menjadi ruang publik bagi masyarakat sekitar.
Ada Perahu dan Kuda, Tarifnya Murah
Daya tarik lain di lokasi tersebut adalah wisata perahu. Pengunjung bisa menyusuri Sungai Serayu menggunakan perahu dengan tarif Rp5.000 per orang.
Harga tersebut tergolong murah dibandingkan tarif wisata perahu yang disebut biasanya mencapai sekitar Rp10.000 di tempat lain. Pengunjung juga disebut mendapatkan makanan ringan dari pengelola perahu.
Selain perahu, terdapat penyewaan kuda untuk pengunjung yang ingin berkeliling. Tarifnya sekitar Rp15.000 untuk satu putaran.
Keberadaan wisata dadakan ini sekaligus menjadi berkah bagi warga lokal. Pedagang mendapatkan pembeli, pemilik perahu memperoleh penumpang, sementara warga mempunyai ruang rekreasi baru yang murah.
Baca Juga: Malam 1 Sura di Pantai Popoh Tak Sekadar Tradisi, Jadi Strategi Bangkitkan Pariwisata Tulungagung
Puncak Keramaian Pagi dan Sore
Wisata Sungai Serayu yang surut disebut ramai terutama pada pagi dan sore hari. Pada akhir pekan, jumlah pengunjung bisa meningkat hingga membuat area parkir kendaraan semakin penuh.
Fenomena Sungai Serayu kering menunjukkan bagaimana kondisi alam saat musim kemarau dapat dimanfaatkan masyarakat menjadi daya tarik wisata. Warga tidak hanya mendapatkan tempat rekreasi, tetapi juga peluang ekonomi dari aktivitas perdagangan, parkir, penyewaan perahu dan kuda.
Bagi masyarakat Banyumas yang ingin menikmati suasana alam dengan biaya murah, kawasan Wadas Cinta menjadi salah satu pilihan menarik saat Sungai Serayu sedang surut.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al AkhbariSumber : sentot brekel