Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Alasan Kayu Sonokeling Miliki Harga Jual Tinggi dan Banyak Dicari

Didin Cahya Firmansyah • Rabu, 10 April 2019 | 20:50 WIB
alasan-kayu-sonokeling-miliki-harga-jual-tinggi-dan-banyak-dicari
alasan-kayu-sonokeling-miliki-harga-jual-tinggi-dan-banyak-dicari

TRENGGALEK - Penebangan pohon sonokeling di pinggir jalan nasional yang diduga dilakukan ilegal oleh oknum tak bertanggung jawab, ternyata tidak hanya terjadi di Tulungagung, tapi juga di wilayah Trenggalek. Karena itu, Selasa (9/4) Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Jawa Timur (Jatim), Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jatim dan pihak terkait, inventarisasi terkait hal tersebut.


 


 


Dari situ, hingga kini Dishut Provinsi Jatim belum bisa menyampaikan lebih jauh terkait tindakan apa yang akan dilakukan. Sebab, kini masih sebatas inventarisasi, sekaligus pendataan terhadap jumlah pohon kayu sonokeling yang dilaporkan telah hilang.


 


 


Sebelumnya, pengecekan tersebut dilakukan lantaran beberapa hari lalu ada laporan masyarakat jika terdapat penebangan pohon di sepanjang pinggir jalan yang perizinannya tidak jelas. Rata-rata pohon yang ditebang itu seluruhnya dari jenis kayu sonokeling. Apalagi, kini keberadaan jenis kayu sonokeling relatif terbatas sehingga bisa dikatakan sebagai jenis kayu langka.


 


 


Alasan itulah yang membuat jenis kayu tersebut harganya lebih mahal dari kayu jati dan banyak dicari orang. Sekilas, harga pasaran kayu jenis tersebut dengan diameter antara 30-100 sentimeter, dijual lebih dari Rp 10 juta untuk satu pohonnya. “Bisa dibayangkan, jika ada 42 pohon yang ditebang, berapa harganya. Makanya kami akan terus mendata terkait hal ini,” jelas Kabid Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekosistem Dishut Provinsi Jatim Toat Tridjono.

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#trenggalek