Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

IPAL Belum Mampu Akomodasi, Sungai Jadi Sasaran Limbah

Anggi Septian Andika Putra • Jumat, 3 Mei 2019 | 21:05 WIB
ipal-belum-mampu-akomodasi-sungai-jadi-sasaran-limbah
ipal-belum-mampu-akomodasi-sungai-jadi-sasaran-limbah

TRENGGALEK – Persoalan pencemaran sungai masih menyelimuti Kota Keripik Tempe, khususnya di wilayah Kecamatan Watulimo. Sebab, belum ada sarana pengolah air limbah yang memadai untuk proses pemindangan masyarakat.


Akibatnya, sungai menjadi sasaran untuk pembuangan dari proses produksi tersebut. Berdasar informasi yang diterima Koran ini, tahun lalu pemerintah membangun instalasi pengolah air limbah (IPAL) di Desa Marogomulyo, Kecamatan Watulimo.


Sayangnya, sarana pengolah air limbah tersebut tidak cukup untuk mengakomodasi seluruh pembuangan limbah dari aktivitas pemindangan di desa tersebut. Akibatnya, sungai yang melintas di desa ini menjadi sasaran pencemaran limbah pemindangan.


Kepala Desa Margomulyo, Kamali Ali mengatakan, bantuan IPAL dari pemerintah tersebut sudah mulai dimanfaatkan. Namun, pihaknya menyadari keberadaan IPAL ini belum bisa maksimal. Tidak hanya karena jumlah pemindang ikan yang cukup banyak, tapi juga aktivitas pemindangan puluhan tahun di desa ini tidak mungkin bisa langsung dihilangkan efeknya. “Masih ada bau. Air yang dibuang ke sungai itu juga masih keruh,” akunya.


Bukan perkara mudah untuk mengurangi masalah limbah pemindangan ikan. Dibutuhkan anggaran yang sangat besar jika semua pemindang difasilitasi IPAL oleh pemerintah. Di sisi lain, menjadi beban berat jika pemindang dipaksa membangun IPAL yang notabene butuh biaya besar.


“Kalau mengandalkan pemerintah untuk memberi IPAL bagi semua masyarakat itu tidak mungkin. Tapi kalau masyarakat suruh bangun sendiri, tentu juga berat,” jelas dia.

Editor : Anggi Septian Andika Putra