Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Demam Turun, Badan Lemas, Waspadai DB

Didin Cahya Firmansyah • Rabu, 19 Februari 2020 | 18:17 WIB
demam-turun-badan-lemas-waspadai-db
demam-turun-badan-lemas-waspadai-db

KOTA, Radar Trenggalek - Demam berdarah dengue (DBD) tengah melanda Trenggalek. Tercatat ada tiga korban meninggal dunia akibat virus ini. Saatnya bagi orang tua lebih waspada dengan mengenali gejala dini DBD. Semakin dini terdeteksi, maka semakin tepat pula penanganannya. 


Dr Endah Setyarini, SpA,MBiomet, salah satu dokter anak di RSUD dr Soedomo Trenggalek menjelaskan, DBD adalah virus dengue yang dibawa oleh vektor nyamuk aedes aegypti. Ada empat jenis dengue, yang paling berbahaya dengue 2 dan 3. Nyamuk yang telah menggigit penderita DB akan menularkan melalui ludahnya saat menggigit pada orang sehat. "Saat gigitan pertama, anak ini mengalami gejala panas, demam atau nggregesi, mual, kadang diare, atau seperti gejala flu. Suatu saat dia membentuk antibodi," ucap Endah. 


Selanjutnya, ketika patosiologi atau terinveksi sekunder, terkena lagi gigitan virus dengue 2 atau 3,  maka anak tersebut mengalami sekunder heterologi. "Jadi, istilahnya dia (sistem kekebalan pada tubuh anak, Red) menganggap itu suatu benda asing yang harus dihancurkan. Maka dengan sistem kekebalan tubuh secara umum, akan melakukan penghancuran pada virus ini. Fase ini yang paling berbahaya bagi anak yang terkena DB," lanjut Endah. 


Nah, waspada akan penularan DB ini, orang tua harus memantau terus demam pada anak. Fase DBD terjadi selama tujuh hari. Panas hari pertama, dijelaskan Endah, panas setelah 24 jam pertama sampai pada hari ketiga biasanya menyerupai gejala pada sakit lain seperti muntaber atau tifus sehingga bisa jadi memang bukan DBD atau DBD ringan. "Yang membedakan adalah pada sakit biasa yang lain, anak masih aktif, masih suka makan, kadang rewel menangis. Sedangkan untuk DBD, anak lemas dan kencing berkurang," lanjut Endah


Ketika masuk di hari keempat, cek darah baru terlihat penurunan jumlah trombosit dalam darah. Padahal, disampaikan dokter alumni Universitas Airlangga ini, trombosit berfungsi agar tubuh tidak mengalami perdarahan. Pada hari keempat, fase yang berbahaya. Hari keempat dan kelima itu terjadi kebocoran total. Sistem kekebalan mengalami kerusakan semuanya sehingga terjadi kebocoran pembuluh darah yang seharusnya mengalir ke jantung, ke otak, itu kebocorannya masuk ke dalam jaringan rongga ketiga. Di selaput paru, perut,dan  jaringan  organ lain yang seharusnya tidak diisi cairan, tidak tampak di luar, tetapi akan mengalami kepekatan darah yang sifatnya singkat. Ketika bocor, turun semua mengakibatkan risiko perdarahan. Jadi misalnya anaknya mimisan atau muncul bintik-bintik, gusi berdarah, dan kencing agak kemerahan," jelas Endah.


Dari fase-fase tersebut, Endah berpesan agar memantau panas anak di hari ketiga dan keempat. Jika anak sudah mendapatkan penanganan, ada penurunan trombosit tidak banyak, anak tidak lemas, maka masih dalam grade 1. Jika muncul perdarahan ringan, masuk pada grade 2. Namun jika saat diperiksa tangan anyep atau dingin, nadi rendah dan suhu turun seperti suhu normal di bawah 36 derajat, maka segera bawa anak ke rumah sakit atau tempat pengobatan yang lengkap dengan laboratorium. Pada kondisi ini anak mengalami preshock. Dan yang lebih berat lagi jika pasien datang sudah mengalami kejang, ini ada dalam kondisi dengue shock syndrome (DSS). 


"Jika masuk grade 3 dan 4 kami waspada. Biasanya di UGD, jika ada konsul dari dokter jaga, maka kami berikan penanganan yang impasif. Kami sesuaikan kebutuhan berat badan cairannya untuk mengisi kebocoran. Karena ada DB itu terapinya adalah cairan. Pada pasien anak, kami terapi cairan secara ketat. Pemantauan darah juga terus dilakukan cek darah tiap enam jam. Kami lihat prognosisnya seperti apa. Yang berat ketika anak datang sudah kejang, dia tidka aware dengan lingkungan, dengan ayah ibunya, ini sudah grade 3 atau 4 pada kondisi DSS. Kami sangat hati-hati dengan pasien dengan kondisi seperti ini. Jika pada pengobatan pasien bisa melewati hari ke 5 dan 6, maka sudah masuk pada fase penyembuhan atau recovery," pungkas Endah. 

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#trenggalek #rsud dr soedomo