Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Daya Serap  Stabil, Harga Ikan Tangkapan Normal

Choirurrozaq • Senin, 29 Juni 2020 | 22:00 WIB
daya-serap-stabil-harga-ikan-tangkapan-normal
daya-serap-stabil-harga-ikan-tangkapan-normal

KOTA, Radar Trenggalek - Setelah sempat mengalami penurunan harga saat awal-awal kemunculan pandemi Covid-19, kini harga ikan tangkapan nelayan disinyalir mulai stabil di tingkat pedagang.


Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Trenggalek Cusi Kurniawati tak memungkiri, pada awal kemunculan pandemi Covid-19, kebijakan physical distancing berdampak signifikan terhadap kelesuan pasar. Tak ayal, harga ikan pun merosot secara signifikan. Dari semula turun 10 persen, kemudian 30 persen. “Bahkan saat pertengahan pandemi, harga ikan laut pernah turun sampai 50 persen,” kata dia.


Menjelang new normal, kata Cusi, harga ikan mulai pulih kembali. Seperti di Pasar Subuh, harga ikan bandeng Rp 16 ribu per kilogram (kg), kembung Rp 26 ribu per kg, tongkol Rp 20 ribu per kg, dan cakalang Rp 22 ribu per kg. Sementara di Pasar Basah, ikan bandeng Rp 26 ribu per kg, tongkol Rp 22 ribu per kg, cakalang Rp 15 ribu per kg, dan tuna Rp 25 ribu per kg. “Harga untuk beberapa komoditas ikan laut sudah mulai membaik. Di antaranya ikan tuna, cakalang, kakap, kerapu, layang, dan ikan kuwe,” ungkapnya.


Menurut dia, alasan harga ikan tangkapan dari nelayan beranjak stabil. Tak lain karena daya serap pasar kembali normal. Pasalnya, rumah makan yang semula ditutup untuk mencegah penularan Covid-19, kini bisa dibuka meskipun harus tetap mematuhi protokol kesehatan. “Seperti pemakaian masker, sering cuci tangan pakai sabun, maupun memakai hand sanitizer.


Ketua Paguyuban Nelayan Bambang Supiyat membenarkan, harga ikan tangkapan nelayan mulai stabil sejak Mei lalu. Itu karena daya serap pasar yang beranjak normal. “Mulai ada new normal, jadi rumah banyak yang buka lagi,” kata dia. (*)

Editor : Choirurrozaq