WATULIMO, Radar Trenggalek - Tradisi Larung Sembonyo di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi digelar secara berbeda pada Sabtu (27/6). Tradisi itu kali pertama digelar pada malam hari dan tanpa pengeras suara. Hal itu untuk menghindari adanya kerumunan di tengah pandemi Covid-19.
Kepala Desa Tasikmadu, Wignyo Handaya membenarkan, tradisi larung sembonyo atau sedekah laut digelar secara berbeda, tidak seperti sebelum-sebelumnya. Tradisi yang memiliki simbol sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta atas hasil ikan tangkapan itu digelar secara sederhana. “Gelaran larung sembonyo itu hanya sesederhana mungkin, tanpa pakai pengeras suara,” ungkapnya.
Wignyo tak memungkiri, tradisi larung sembonyo memang dibuat secara sederhana. Alasannya tak lain untuk menghindari terjadinya kerumunan, kendati yang datang hingga mencapai 400 orang. Sehingga prosesi tradisi yang digelar tiap bulan Sela itu banyak yang hilang. Seperti tradisi balapan perahu usai pelarungan sesaji maupun perahu yang mengiringi saat melarungkan ke tengah laut. “Kemarin itu cuma pakai dua atau tiga kapal. Biasanya kapal-kapal di satu pelabuhan itu keluar semua,” kata dia.
Selain prosesi larung yang berbeda dari yang sebelum-sebelumnya, lanjut Wignyo, para pengunjung juga harus mematuhi peraturan untuk memakai masker jika ingin melihat prosesi. Sebagai bentuk antisipasi untuk menghindari paparan Covid-19. “Di gerbang itu sudah disuruh pakai masker dan balik kanan kalau tidak pakai masker,” cetusnya.
Banyak prosesi larung sembonyo yang mengalami perubahan. Dia mengatakan, itu tidak mengurangi esensi dari tradisi turun-temurun itu. Menurut dia, esensi dari larung sembonyo adalah simbol dari wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta. Sehingga ketika prosesi tidak memakai pengeras suara, tidak ada balapan perahu, dan digelar malam hari itu, tak tak mengurangi esensinya. “Namanya tradisi, kalau itu tidak dilakukan nanti takut ada apa-apa,” pungkasnya. (*)
Editor : Choirurrozaq