Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Dihelat Sederhana, Tetap Semangat Berebut Kepala Kerbau

Choirurrozaq • Sabtu, 4 Juli 2020 | 17:05 WIB
dihelat-sederhana-tetap-semangat-berebut-kepala-kerbau
dihelat-sederhana-tetap-semangat-berebut-kepala-kerbau

KOTA, Radar Trenggalek - Pandemi korona yang ada kini tak menghalangi keriuhan di aliran Sungai Bagong masuk wilayah Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek, kemarin (3/7). Warga Ngantru dan sekitar berkumpul untuk menyaksikan bersih Dam Bagong yang menjadi agenda tahunan di kelurahan setempat. Mereka menantikan tradisi turun-temurun, yakni melempar kepala kerbau untuk diperebutkan masyarakat yang mau menceburkan diri ke sungai.


Berdasarkan informasi yang didapat Jawa Pos Radar Trenggalek di lokasi, sejak pagi masyarakat sudah menyemut di lokasi yang tidak jauh dari Makam Ki Ageng Menak Sopal yang diyakini sebagai tokoh penyebar Islam di Trenggalek. Mereka juga menunggu puncak prosesi berupa melempar kepala kerbau ke tengah sungai yang kebetulan volumenya tidak terlalu banyak.


Itu terjadi lantaran tradisi adat yang dilakukan di tengah pandemi korona itu pelaksanaannya disederhanakan. Sehingga beberapa pertunjukan seperti pagelaran wayang kulit yang biasanya dilakukan, kini tidak ada. Selain itu, protokol kesehatan bagi para pengunjung tetap dilakukan. Seperti memakai masker, jaga jarak, dan sebagainya.


Kendati demikian, hal tersebut tak menghalangi kemeriahan prosesi adat. Buktinya, masyarakat yang menceburkan diri ke tengah sungai pun langsung semburat mengejar kepala kerbau. Ada juga yang mengejar kulit hewan rajakaya yang di dalamnya juga ada daging dan tulang. 


Salah satu pengunjung, Sugeng Riyanto, kepada Koran ini mengatakan, acara ini merupakan tradisi tahunan yang terus dilestarikan masyarakat setempat. Bahkan, acara ini selalu menjadi tontonan masyarakat yang ingin melihat lebih dekat prosesi ini. Khususnya daya tarik dari pelemparan kepala kerbau sebagai wujud syukur ke tengah sungai. “Acara ini selalu saya ikuti sejak lama,” katanya.


Dari situ, dirinya berharap acara tersebut bisa terus lestari. Di samping itu, harus ada inovasi agar semakin menarik minat pengunjung. Namun jika pelaksanaannya di tengah pandemi korona seperti kini, harus memperhatikan beberapa hal untuk meminimalisasi risiko penularan. “Harus dipertahankan karena ini merupakan aset budaya daerah. Semoga nanti bisa dikemas dengan baik hingga dapat menarik wisatawan datang,” tuturnya.


Sementara itu, Bupati Trenggalek Moch. Nur Arifin ketika ditemui di lokasi mengatakan, tradisi seperti ini bakal terus dilestarikan. Sebagai bentuk syukur atas karunia yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Dalam hal ini, yang berbeda adalah dilakukan terbatas dan sederhana. Beberapa acara dihilangkan, langsung dimulai dengan kirim doa kepada mendiang Menak Sopal dan tokoh lain yang berjasa bagi Trenggalek. “Acara dilanjutkan dengan pelarungan kepala kerbau atau kepala kerbau itu diberikan kepada masyarakat yang siap untuk menerima,” imbuhnya.


Itu lantaran pelarungan tersebut merupakan simbul rejeki. Bupati berharap tradisi tersebut tetap lestari. Selain itu, kepada masyarakat yang memiliki rejeki yang berlebih, diharapkan disedekahkan. “Pasti kami akan terus mendukung tradisi semacam ini. Semoga anak cucu nanti masih bisa melihat kendati sudah ada perubahan zaman,” jelasnya. (jaz/ed/tin)

Editor : Choirurrozaq
#kabupaten trenggalek