KOTA, Radar Trenggalek – Sistem online untuk memantau ikan di laut sekaligus melelang secara online hasil tangkapan, ternyata masih asing bagi sebagian besar nelayan di Trenggalek. Mereka berharap ada sosialisasi lebih intens dari Dinas Perikanan (Diskan) Trenggalek agar nelayan lebih melek teknologi.
Setelah tiga pekan sejak pencanangan aplikasi online yang diharapkan dapat mensejahterakan nelayan, hingga seminggu lalu ternyata masih belasan nelayan yang terdaftar di dalam aplikasi. Padahal, Diskan Kabupaten Trenggalek menargetkan setidaknya setengah juta nelayan di Kecamatan Watulimo mengakses aplikasi ini.
Diketahui, aplikasi tersebut berfungsi sebagai wadah untuk nelayan, tengkulak, masyarakat, agar dapat saling tawar-menawar harga secara online. Sehingga, bisa menciptakan iklim usaha yang sehat, transparan. Namun sayangnya masih banyak nelayan yang enggan mendaftar dalam komunitas yang diwadahi dinas.
Seperti disampaikan salah seorang nelayan Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo Tonda Yudi. Dia mengaku belum mengetahui adanya aplikasi online tersebut. Selain itu, pihaknya mengakui belum pernah mendapatkan sosialisasi dari dinas. "Saya belum mengetahui kalau ada lelang online. Selain itu, jika ada lelang online akan sulit bagi nelayan untuk berkomunikasi maupun membuka aplikasi, soalnya tidak ada sinyal di laut dengan jarak 15 mil,' ucap nelayan sebagai Nakhoda Kapal Slerek dan juga Kapal Pancing.
Senada diungkapkan warga Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo Sirat. Dia mengaku, sudah mengetahui adanya aplikasi online untuk nelayan, namun masih perlu adanya sosialisasi karena masih banyak nelayan yang khawatir dengan aplikasi tersebut justru merugikan nelayan. "Banyak pemilik kapal di sini belum tahu sistem kerja aplikasi itu. Khawatirnya kita salah melangkah, sehingga lebih baik kita lelang ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) seperti biasanya." katanya. (*)
Editor : Dharaka Russiandi Perdana