Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Hasil Pertanian Turun 50 Persen

Choirurrozaq • Senin, 9 November 2020 | 18:03 WIB
hasil-pertanian-turun-50-persen
hasil-pertanian-turun-50-persen

KOTA, Radar Trenggalek – Para petani di Desa Sambirejo, Kecamatan Trenggalek enggan untuk berpangku tangan melihat lahan mereka diserang tikus. Karena serangan hama ini membuat hasil pertanian mereka menurun. Hal ini terlihat dari gropyokan yang mereka lakukan kemarin (8/11). Dimana mereka menyerang lubang persembunyian hewan pengerat ini dengan asap belerang.


Kepala Desa Sambirejo, Kecamatan Trenggalek Karyanto mengatakan, sebulan lalu hama tikus sempat menyerang lahan pertanian, yang menyebabkan lahan seluas 30 Ha terdampak serangan. Tak pelak, tanaman jagung, kedelai, hingga kacang tanah mengalami pengurangan produksi, karena tanaman banyak yang rusak. “Kami mengadakan gropyokan dengan emposan asap belerang. Harapannya, tanaman jagung dan palawija bisa selamat (dari serangan hama tikus, Red) sampai masuk masa panen,” ungkapnya.


Gropyokan dilakukan dengan menyemprotkan asap belerang ke sarang-sarang tikus yang ditemukan di areal persawahan. Asap belerang berfungsi dengan baik, karena saat gas memenuhi liang membuat tikus keluar atau tidak keluar karena mati. Sementara gropyokan akan dilakukan secara berkala. “Secara teknis, setelah alat kami terima (bantuan dari dinas, Red), masing-masing kelompok tani (koptan) untuk gropyokan sendiri,” sambungnya. 


Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapan) Kabupaten Trenggalek, Didik Susanto membenarkan, ada laporan masuk ke dinas perihal apabila lahan pertanian di Desa Sambirejo terserang hama tikus. Dia mengaku, gropyokan yang menggunakan emposan asap belerang adalah cara pengendalian hama yang cukup efektif. “Efektif, asap belerang yang dihembuskan itu bisa membuat tikus mati,” ungkapnya.


Namun bukan berarti semua tikus akan mati, Didik berkata, masih ada peluang untuk tikus meloloskan diri, khusunya ketika ada liang yang tidak tertutup. “Jadi semua liang harus ditutup agar tidak lolos,” imbuhnya. 


Didik mengaku, dampak serangan hama tikus di Desa Sambirejo cukup masif, membuat tanaman jagung yang sudah berbuah nyaris habis dimakan tikus. Di sisi lain, Didik menegaskan, imbas serangan hama tikus sepenuhnya mengakibatkan puso (gagal panen, Red), hanya terjadi pengurangan produksi yang signifikan. “Jadi memang penurunan produksi yang cukup besar, bisa mencapai 30-50 persen. Makanya gropyokan bertujuan untuk mengurangi dampaknya, agar petani tetap dapat memanen meski berkurang (produksi, Red) dari yang seharusnya,” jelasnya. 


Sementara itu, Koordinator UPT Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Provinsi Jawa Timur (Prov Jatim) Kabupaten Trenggalek Sumadi menambahkan, emposan asap belerang efektif diterapkan, lebih lagi ketika memasuki musim penghujan (MP). Selain hujan dapat menutup liang secara alamiah, namun metode itu juga sebagai upaya untuk mengantisipasi terjadinya serangan hama di kemudian hari. “Dalam peraturannya, pengendalian hama adalah tanggung jawab petani. Namun, saat petani kuwalahan, pemerintah akan membantu pengendalian OPT-nya. Hematnya, petani berperan penting sebagai pihak pertama pertama untuk pengendalian hama,” ujarnya. (*)

Editor : Choirurrozaq