HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA, Bendungan, Radar Trenggalek
TENTU dalam menjalani karir sebagai penulis, pasti ada halangan dan rintangan. Begitu pun yang dialami Evi Triningsih. Dia berprofesi sebagai guru tidak tetap (GTT) dan sebagai ibu rumah tangga. Dua kewajiban itu cukup membuat Evi kelimpungan mencuri-curi waktu di sela-sela kesibukannya. Namun, demi mewujudkan karir sebagai penulis, Evi pun rela melepas waktu istirahat sekolah dan setelah anak tertidur sebagai momen yang tepat untuk menulis. Bahkan tak jarang, Evi menulis hingga larut malam.
Gairah menulis Evi dimulai sejak menempuh pendidikan di perguruan tinggi pada 2014. Semasa kuliah, anak dari pasangan Yanto dan Mutini itu kerap kali membuat karya ilmiah. Semangat menulis pun kian memuncak, ketika karya-karya ilmiahnya diapresiasi dalam bentuk honorarium. Itu cukup membantu untuk mencukupi kebutuhan anak kuliah. "Biasanya sekitar Rp 750-800 ribu. Pernah juga sebulan sampai 8 karya ilmiah," ungkapnya.
Kebiasaan menulis sewaktu kuliah itu terbawa hingga kini. Namun, karya-karya tulisan Evi tak sekadar keilmuan, juga ada cerpen, puisi, dan sejarah. Bahkan, Evi mengatakan, dalam waktu dekat akan menerbitkan buku sejarah desanya setebal 45 halaman yang masih jarang ditulis, yakni Desa Srabah, Kecamatan Bendungan. "Mengumpulkan data melalui sesepuh-sesepuh yang ada di desa," ujarnya.
Evi bercerita, sejarah Watu Jago berisi nilai-nilai moral di balik perkelahian perebutan kekuasaan Raja Bedander dengan Adipati Bumi Menak Sopal. "Agar mereka tahu (khususnya peserta didiknya, Red), segala sesuatu itu bisa diselesaikan tanpa adanya permusuhan atau perselisihan. Kedua, agar masyarakat umum mengetahui sejarah Watu Jago," ungkap guru yang mengabdi di SDN 3 Srabah itu.
Tak sebatas itu, karya tulisan Evi juga pernah meraih peringkat dua pada lomba literasi demokrasi yang digelar Komisi Penyelenggaraan Pemilu (KPU) Kabupaten Trenggalek saat Pilbup 2020 lalu.
Wanita kelahiran 1992 itu mengakui latar belakangya terjun di dunia literasi karena terinspirasi dari Ir Soekarno. Evi menyebut dirinya Soekarnoid, karena salah satu orang yang terkesan dengan karya-karya tulisan Soekarno. Karya itu bersifat abadi, yang tak lekang oleh zaman. Pola pikir menulis Evi itu juga datang dari latar pendidikan keguruannya. "Berbagi ilmu yang saya pelajari," kata ibunda Hanindito Anung Prabaswara ini.
Dan, Evi berharap dapat menjadi pribadi yang bermanfaat untuk orang lain, dengan cara menuangkan ide, ilmu pengetahuan, melalui karya tulisan. (*)
Editor : Choirurrozaq