KOTA, Radar Trenggalek – Lima tahun silam, Desa Sumberbening, Kecamatan Dongko, menjadi salah satu desa dari rentetan rencana eksplorasi tambang emas PT Sumber Mineral Nusantara (SMN). Namun, rencana itu berujung gagal karena warga sepakat menolak karena khawatir praktik pertambangan dapat merusak sumber mata air warga.
Kepala Desa Sumberbening, Kecamatan Dongko, Suyanto mengatakan, PT SMN dulu menyatakan, ada tujuh titik yang rencananya akan dieksplorasi. Titik itu rencananya tersebar yang termasuk di Dusun Pelem dan Krajan. Mayoritas titik berada di lahan Perhutani. Namun, titik-titik eksplorasi tersebut belum jelas karena saat alat berat dan pipa-pipa besar didatangkan, warga mencegahnya. “Mayoritas warga bersatu, dari Sumberbening serta luar desa (satu kecamatan, Red) untuk menolak. 100 orang lebih,” ungkapnya.
Melalui situs sumberbening-dongko.trenggalekkab.go.id, wilayah Desa Sumberbening mencapai 1.211 hektare (ha), dengan jumlah penduduk sekitar 4.477 jiwa. Mayoritas warga menggantungkan hidup dari hasil pertanian mencapai 85 persen; buruh tani 9 persen PNS/TNI/Polri, dan pekerjaan lain sekitar 2 persen. Menurutnya, karena sektor pertanian sangat membutuhkan air. Warga khawatir dampak tambang dapat merusak sumber mata air. “Kalau ada pertambangan, nanti airnya akan terkontaminasi zat kimia. Kedua, dapat menyebabkan sumber mata air mati. Ketiga, dapat menyebabkan bencana tanah longsor. Sumber mata air di Desa Sumberbening juga mengalir di desa lain sehingga kekhawatiran warga muncul dari satu Kecamatan Dongko,” jelasnya.
Sentimen warga akan pertambangan masih terasa, menurut kades, komitmen warga menolak tambang tak pernah padam hingga kini. “Sementara dipancing, kekhawatirkannya itu memang luar biasa,” tegasnya.
Sementara Kepala Dusun Pelem, Desa Sumberbening, Kecamatan Dongko Sugeng mengatakan, mayoritas warga menolak saat rencana eksplorasi tambang emas PT SMN. Sebab, khawatir pertambangan dapat berdampak buruk bagi lingkungan. “Mayoritas warga menolak semua,” ujarnya. (*)
Editor : Choirurrozaq