KOTA, Radar Trenggalek - Bersahabat sedari bangku sekolah dasar (SD) di SD Negeri 3 Ngantru (dahulu bernama SD Negeri Ngantru IV atau SD Pertiwi) Trenggalek, Wawan Dhewanto dan Tohari Ahmad berhasil dikukuhkan dan menjalankan tugas sebagai profesor. Wawan Dhewanto sebagai profesor di Institut Teknologi Bandung (ITB) Bandung, Jawa Barat, sedangkan Tohari Ahmad sebagai profesor di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya.
Lebih lengkapnya keduanya bergelar Prof. Tohari Ahmad, S.Kom., M.IT., Ph.D. dari Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas ITS dan Prof. Wawan Dhewanto, S.T., M.Sc., Ph.D. dari School of Business and Management (SBM) ITB. “Saya ucapkan selamat untuk dua murid saya yang sukses dengan pendidikannya. Tentu saja saya sangat bangga. Saya doakan semoga sukses dan berhasil dengan apa yang dikerjakan,” ucap Siti Rohani, salah satu guru yang mengajar keduanya di SDN 3 Ngantru.
Masih teringat oleh Anik, sapaan akrabnya, baik Tohari maupun Wawan memiliki sifat pendiam. Namun juga akrab dengan semua teman di kelasnya. Setidaknya Anik mengajar keduanya saat duduk di kelas I sebagai guru kelas dan di kelas V dan VI mengajar bidang studi IPS dan bahasa Indonesia. “Dulu anak-anak bisa sangat fokus belajarnya. Tidak seperti sekarang lebih asyik bermain HP. Dulu kalau mau pulang sekolah ada istilahnya ulih-ulihan, siapa yang bisa menjawab soal bisa segera pulang. Mas Wawan dan Mas Tohari ini juga sering cepat angkat tangan kalau saya menyampaikan pertanyaan,” kenang Anik.
Kesan mendidik siswa semasa Wawan dan Tohari juga dirasakan Deby Geraldine Palekahelu, salah satu guru di SMPN 1 Trenggalek. Kesan yang dirasakan Deby, para murid semasa itu sangat peduli dengan belajar. Kala itu, murid takut dengan para guru jika nilai mereka jelek. “Saya tidak ingat betul masing-masing ya. Yang saya ingat kalau Mas Wawan di kelas B dan Mas Tohari di kelas G, anaknya pendiam dan pintar. Memang anak-anak di masa itu semangat belajarnya tinggi. Benar-benar ke sekolah untuk belajar. Dengan para guru juga punya unggah-ungguh, bertemu di mana saja menyapa, meskipun mungkin gurunya lupa,” ucap Deby.
Kenangan bersama Wawan Dhewanto dan Tohari Ahmad juga dirasakan dua teman mereka, Gunawan Wibisono dan Erda Arief Santoso. Wawan tak lain putra dari Drs. Sarwanto (almarhum) yang menjabat sebagai sekda Kabupaten Trenggalek kala itu (1976-1990). Wawan bersama keluarga menempati rumah dinas sekda tepatnya di Jalan Wahid Hasyim Nomor 5 Trenggalek. Tak jauh dari rumahnya ada rumah orang tua Erda (almarhum Abdul Wahab) dan rumah orang tua Wibisono yang merupakan putra dari Supriyadi. Sedangkan Tohari Ahmad tinggal di Jalan Basuki Rahmad Nomor 3, putra dari almarhum Mukiran. Karena bertetangga, saat SD mereka cukup berjalan kaki ke sekolah, sedangkan waktu SMP mereka biasa pergi dan pulang bersepeda bersama.
Wibisono menceritakan jika mereka berteman bahkan mulai TK. Semasa kecil mereka senang berkumpul dan bermain di rumah Wawan Dhewanto di Jalan Wahid Hasyim Nomor 5 yang dekat dengan SD mereka. Mereka betah menghabiskan waktu dengan membaca aneka buku cerita maupun bermain tenis meja atau pingpong. “Mas Wawan juga punya bola dari kulit beneran. Jadi kami suka bermain bola juga saat sore. Selain itu, Mas Wawan juga suka kegiatan dan bisa memotivasi teman-temannya untuk ikut. Seperti Pramuka, SKI, OSIS. Mas Tohari juga ikut. Alhamdulillah senang bisa melihat keduanya bisa memaksimalkan potensi terbaiknya sampai kini. Semoga Mas Wawan dan Mas Tohari bisa lebih sukses lagi,” harap Wibi.
Erda Arief Santoso, teman lainnya terkesan dengan semangat Wawan dan Tohari dalam menimba ilmu. Keduanya bagi Erda merupakan contoh yang bagus dalam belajar. Meski tanpa melalui bimbingan belajar (bimbel) saat itu, keduanya sangat serius mengutamakan pendidikan. Di mata Erda, buku sudah menjadi makanan bagi Wawan dan Tohari. “Bolpoin dan kertas itu hanya camilan saja. Dan bermain bersama menghabiskan sore dengan bermain sepak bola itu sudah cukup menyenangkan,” kata Erda.
Bagi Tohari Ahmad, semua jenjang pendidikan yang didapatkannya dari TK sampai SMA memberinya banyak manfaat dan berperan besar dalam kesuksesannya kini. “Saya merasakan pendidikan di SD dan SMP cukup baik. Saya mendapatkan banyak hal yang bermanfaat. Baik dari sisi keilmuan maupun sosial karena banyak teman. Demikian juga selama bersekolah di SMA. Semua bapak dan ibu guru di SD dan SMP, semuanya baik dalam mendidik kami. Di SD kami biasanya main bola saat istirahat. Jadi saat masuk kelas lagi, kami biasanya sudah capek. Saat di SMP kami juga sering bersepeda berangkat sekolah bersama karena rumah kami berdekatan,” jelas Tohari.
Tohari, setelah menamatkan pendidikan di Trenggalek, kemudian melanjutkan S-1 ke ITS Surabaya jurusan Teknik Informatika; S-2 Information Technology di Monash University, Australia; S-3 Computer Science RMIT di University Australia. “Untuk saat ini yang banyak saya lakukan adalah penelitian, sebagai salah satu tugas dosen selain mengajar,” kata Tohari.
Sedangkan Wawan Dhewanto menamatkan S-1 Teknik Industri (TI) di ITB; S-2 System Engineering, Policy Analysis, and Management (SEPA) di Technische Universiteit Delft, Belanda; dan S-3 Management di Monash University, Australia; dan kini sebagai Guru Besar Ilmu Kewirausahaan di ITB. “Terima kasih kepada ibunda, Ir. Retno Widjajaningsih, dan almarhum ayahanda, Drs. Sarwanto atas doa dan didikan mereka untuk selalu bisa beradaptasi dalam segala kondisi dan bisa bergaul dengan semua kalangan. Karakter kerja keras dan pantang menyerah merupakan kunci untuk survive di mana pun berada. Di Bandung, di Belanda ataupun di Australia. Terima kasih kepada bapak dan ibu guru SD, SMP, dan SMA yang telah membentuk karakter dan memberi pendidikan dasar. Terima kasih kepada bapak dan ibu dosen S-1, S-2, dan S-3 yang telah membentuk pola pikir dan meletakkan fondasi keilmuan yang kuat,” ucap Wawan. (tin/ed/rka)
Editor : Dharaka Russiandi Perdana