Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Jangkau Pasar Melalui Jejaring Sosial

Choirurrozaq • Selasa, 31 Agustus 2021 | 21:19 WIB

KOTA, Radar Trenggalek - Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) menyimpan hikmah tersendiri bagi perajin barongan Yayang Novrianto. Sejak kebijakan tersebut diberlakukan, Yayang menjadi lebih giat mempromosikan produk kerajinannya melalui marketplace. Alhasil, ketika pasar offline sepi, minat beli barongan melalui online tetap ada.


Gumbreg, panggilan Yayang Novrianto mengatakan, ketika pandemi muncul tahun lalu, efek pandemi begitu terasa. Kegiatan-kegiatan kesenian jaranan tak lagi boleh digelar karena dinilai menjadi biang kerumunan. Menurutnya, hal itu secara tak langsung membuat minat beli masyarakat terhadap kerajinan barongan menjadi sepi. Alasannya, mayoritas konsumen barongan adalah masyarakat yang berkecimpung dalam bidang kesenian jaranan. "Konsumen dari kalangan kolektor atau hobi itu jarang, kebanyakan justru pemain jaranan," ungkapnya.


Siapa sangka, dampak pelarangan kegiatan kesenian jaranan membuat daya beli barongan turun drastis hingga 60 persen. Semula, kata Gumbreg, biasanya pesanan bisa mencapai 10 barongan per bulan. Namun sejak kemunculan pandemi, daya beli tak lagi bisa dirata-rata. "Sebulan ada pesanan itu sudah bagus sekali," ujarnya.


Menjadi hal yang dimaklumi, lanjut dia, efek pandemi ini berdampak pada banyak sektor sehingga tingkat perilaku konsumtif menurun. "Kerajinan ini sebagai hobi, bukan kebutuhan sehari-hari," ucap warga Desa Sukorejo, Kecamatan Gandusari ini.


Semasa pandemi berumur setahun, Gumbreg berinisiatif memanfaatkan teknologi informasi melalui jejaring sosial Facebook. Pelan-pelan Gumbreg mengunggah produk kerajinan barongannya. Tiga bulan berjalan, unggahan itu mulai mendapat respons dari masyarakat digital. "Cuma tanya-tanya, belum sampai benar-benar pesan," ujarnya.


Gumbreg tak menyerah begitu saja, aktivitas mengunggah kerajinan barongan tetap dia lakukan sampai kini. Berkat ketelatenan itu, minat beli masyarakat digital pun tumbuh. Diakuinya, pesanan barongan kini lebih banyak dari pemasaran daring dibandingkan promosi luring. "Setidaknya pesanan tiga barongan itu sudah saya syukuri," ucapnya.


Kerajinan barongan milik Gumbreg ini dijual mulai Rp 900 ribu hingga Rp 1,5 juta. Harga itu berbeda, tergantung ukuran dan model. Menurutnya, model barongan yang sedang naik daun saat ini yakni model devil (setan). "Model devil lebih mahal karena pembuatannya lebih detail dan rumit," ungkapnya.


Kendati umur pandemi Covid-19 beranjak dua tahun, Gumbreg berharap, situasi segera kembali normal sehingga kegiatan berkesenian boleh digelar lagi. "Diharapkan kegiatan jaranan itu boleh, asalkan menaati prokes Covid-19," tuturnya. (tra/ed/rka)


 


Dorong Perajin Manfaatkan Marketplace


 


Sementara itu, dinas koperasi, usaha mikro, dan perdagangan (diskomidag) mengakui penerapan refocusing berdampak banyak. Ruang gerak pemerintah untuk pemberdayaan para perajin barongan di Kabupaten Trenggalek menjadi terbatas. Meski begitu, keterbatasan itu tidak lantas membuat pemerintah tinggal diam. "Pemberdayaan tetap kami lakukan. Terutama melalui pemasaran online," kata Kepala Diskomidag Kabupaten Trenggalek Agoes setiyono.


Menurutnya, biarpun semasa pandemi kegiatan kesenian tak lagi dapat digelar, bukan berarti sektor usaha kerajinan barongan lantas gulung tikar. Usaha itu secara tak langsung juga sebagai pelestari budaya sehingga peminat barongan akan tetap ada. Cuma, daya beli konsumen berkurang karena pandemi. "Usaha itu akan tetap memiliki pasar sendiri meski minat beli berkurang ketika ada pandemi," ujarnya.


Kendati sektor usaha kerajinan barongan belum masuk program prioritas disperinaker, kata Agoes, pihaknya tetap berupaya agar sektor usaha itu tetap memiliki konsumen. Misal, memanfaatkan metode pemasaran daring seperti halnya platform. Melalui laman digital itu, produk-produk kerajinan lokal Trenggalek akan dipromosikan guna memperluas jangkauan pasar. Selain itu, Agoes mengaku program-program bantuan sosial bagi pelaku usaha yang terdampak pandemi, misal bantuan produktif usaha mikro (BPUM), masih terus berjalan maupun memberikan fasilitas kredit lunak. "Misal, mengikutsertakan pada pameran daring dan sebagainya," ucapnya.


Terkait inisiatif disperinaker, Agoes mengatakan, biarpun sektor kerajinan barongan belum masuk prioritas, pihaknya merencanakan sektor kerajinan itu dapat berkolaborasi dengan desa wisata. Proses pembuatan kerajinan itu masuk kategori budaya yang memiliki daya tarik tersendiri. "Bisa dikolaborasikan dengan desa wisata. Ini masih mengonsep," ujarnya. (*)

Editor : Choirurrozaq