WATULIMO – Bayangan dampak limbah pemindangan pada sumur warga Desa Margomulyo, Kecamatan Watulimo, ternyata tak terbukti. Dari sampel yang diambil Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkesdalduk KB) Trenggalek, diketahui jika air di sumur justru tercemar limbah rumah tangga. "Selain meninjau pemindangan dan pengelolaan limbah, kita juga mengecek kualitas air di sumur-sumur warga di sekitar pemindangan. Dari beberapa indikator, justru yang ditemukan adalah mengandung E. coli," kata Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin pada Rabu (8/2).
Bupati Arifin merinci, dari lebih kurang 25 sampel sumur yang diambil airnya, 3 sumur di antaranya mengandung E. coli cukup tinggi, lalu 2 sumur mengandung kadar besi terlalu tinggi.
Kadar amonia yang dikhawatirkan mencemari air sumur warga justru tidak ditemukan. "Secara penelitian, dampak limbah tersebut tidak sampai masuk ke sumur warga. Sedangkan untuk E. coli adalah dampak dari pemisahan septic tank dan air yang kurang (jauh)," lanjutnya.
Senada, Plt Kadinkesdalduk KB Trenggalek, dr Soenarto mengatakan, pengambilan sampel air sumur warga bertujuan awal untuk melihat apakah ada dampak dari limbah pemindangan ikan. "Tapi, justru yang kita dapatkan adalah temuan lain yaitu sanitasi yang kurang bagus," kata Sunarto.
Menurut Soenarto, sumur yang relatif tercemar E. coli penyebabnya karena terlalu dekat antara septic tank dan sumur. "Memang harusnya ada jarak aman 10 meter. Kalau sudah tercemar seperti itu, airnya harus diolah sebelum diminum, salah satunya dengan direbus sampai mendidih," lanjutnya.
Sementara itu, sumur dengan kadar besi yang relatif tinggi bisa dilakukan pengendapan terlebih dahulu agar kandungan besi bisa mengendap di bawah wadah. Lalu, air yang berada di permukaan bisa dialirkan untuk diminum. (tra/c1/rka) Editor : Intan Puspitasari