Trenggalek - Seiring berkembangnya zaman, generasi muda semakin rentan tidak memahami ideologi Pancasila. Kondisi yang sudah mengarah terhadap krisis ideologi itu dapat menyebabkan generasi kehilangan prinsip dan memicu perpecahan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Ini adalah ikhtiar kita dalam meberikan pemahaman tentang wawasan kebangsaan kepada para siswa, agar anak memiliki wawasan kebangsaan yang baik dan benar," kata Miftah Maulana Habiburrahman atau akrab disapa Gus Miftah itu. Berdasarkan perspektifnya, wawasan kebangsaan itu merupakan materi yang perlu ditanamkan kepada generasi penerus karena dapat memengaruhi sikap. "Bagaimana mencintai bangsanya, mempertahankan ideologinya, dan bagaimana kita belajar bertoleransi," ungkapnya saat talk show di GOR Gajah Putih, Kecamatan Sumbergedong, Kamis (23/2).
Tanpa adanya toleransi, menurut Gus Miftah, potensi radikalisme tinggi. Sementara ciri-ciri radikalisme itu ketika seseorang atau kelompok masyarakat tidak dapat menerima perbedaan agama. Misalnya, kompetisi sepak bola di luar negeri yakni Liga Arab. Liga itu diikuti hingga 23 negara. Namun perlu diketahui, kata Gus Miftah, bahwa 23 negara itu memiliki kesamaan bahasa tetapi tidak satu negara.
Kondisi itu berbeda dengan Indonesia. Negara ini memiliki 762 bahasa dan lebih dari 120 suku. Namun, segala perbedaan itu dipersatukan di dalam satu negara melalui ideologi yang sama dan mengajarkan tentang toleransi, Pancasila. "Pancasila itu kini sudah terbukti menjadi ideologi yang ampuh mempersatukan kita (NKRI). Kita tahu, kita itu sudah berbeda, mulai dari suku, warna kulit, dan bahasa. Tapi, kita satu dalam negara Indonesia," imbuhnya.
Karena itu, wawasan kebangsaan ini bernilai penting bagi generasi penerus di era serba digital. Gus Miftah menuturkan, di era ini semua orang bisa berpendapat, sekalipun mereka bukan orang yang ahli. "Ikutlah pendapat ahli, jangan ikut-ikutan dengan yang ahli berpendapat," ujarnya. Selain itu, bagi dia, lebih mudah menasihati orang yang salah pergaulan daripada orang yang salah memilih pengajian. "Maka, waspada dengan pengajian-pengajian yang mengajarkan tentang kebencian atau mengajarkan paham radikalisme," pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Trenggalek Widarsono membenarkan bahwa wawasan kebangsaan ini penting untuk menanamkan jiwa nasionalisme bagi para generasi muda. Untuk hal ini, Pemkab Trenggalek pun tengah merumuskan peraturan daerah (Perda) tentang Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan (PPWK). "PPWK ini penting agar para pelajar dan masyarakat memahami tentang ideologi Pancasila," ujarnya. (tra/c1/din) Editor : Anggi Septian Andika Putra