Makaryo Ning Desa Karanganyar, Kecamatan Gandusari pada Rabu (1/3), membulatkan tekad untuk mendekatkan pelayanan kepada warga desa. Bahkan, puluhan organisasi perangkat daerah (OPD) pun berbondong-bondong membuka layanan sesuai bidang masing-masing.
Penyelenggaraan Makaryo Ning Desa Karanganyar itu menyaksikan langsung Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Deskranasda) Trenggalek Novita Hardini, Plt Kepala Diskomidag Trenggalek Saniran, dan Kepala OPD di lingkup Trenggalek.
DISUAPIN: Ketua Dekranasda Kabupaten Trenggalek Novita Hardini antusias mencoba masakan siswa SDN 1 Karanganyar, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek, saat mengikuti kegiatan Makaryo Ning Desa (Mening Deh).(FOTO: Choirurrozaq/Radar Trenggalek)
Dalam kesempatan berbahagia itu, istri Bupati Trenggalek Novita Hardini mengapresiasi peran Diskomidag dalam memfasilitasi para pelaku usaha di Bumi Menak Sopal agar dapat berdaya bersaing. Di antaranya, memfasilitasi Nomor Induk berusaha (NIB), sertifikat perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), sertifikat halal, hingga mendorong produk usaha mikro (UM) naik ke toko berjejaring modern.
“Saya bersyukur, kita bisa jemput bola, memperbolehkan pelaku usaha yang mengajukan sertifikasi, mulai dari PIRT, NIB, halal, label, dan packaging,” tulisnya.
Lebih lanjut, Novita menargetkan pada 2023 ini para pelaku usaha dapat bertransformasi ke arah teknologi digital. Transformasi itu penting, karena di era ini sudah terindikasi perubahan perilaku konsumen. Perubahan perilaku itu patut disadari para pelaku usaha, karena berkaitan dengan peluang menangkap pasar.
“Kesadaran ini harus dibangun, kesadaran akan mengubah perilaku konsumen. Percuma punya barang bagus, skill udah punya, mumpuni, tapi tidak bisa membaca peluang itu,” ujar ibu tiga anak tersebut.
Dalam pandangan Novita, era perubahan perilaku konsumen kini cenderung mengandalkan teknologi digital, karena lebih efektif dan efisien. Fenomena itu menunjukkan bahwa pelaku usaha perlu mengubah konvensi pemasaran melalui pamflet atau gaya brosur, menjadi pemasaran dengan teknologi.
Novita mengaku, Pemkab Trenggalek sebenarnya sudah memiliki toko online, hasil kerjasama dengan Tokopedia. Model toko bersama itu pun masih satu-satunya di Jawa Timur.
“Jadi kita sudah menginisiasi gerakan toko bersama atau e-commerce itu sejak 2020, dan belum ada di kabupaten/kota lain di Jatim,” ujarnya.
Namun ketika melihat pelaku usaha Trenggalek yang sudah bertransformasi ke dunia digital sekitar 45 persen, Novita menilai, masih banyak yang perlu digenjot untuk sektor UM.
"Saya yakin pada 2023, kami akan menuntaskan seluruh pelaku usaha sudah memiliki toko online," tegasnya.
Sementara itu, Plt Kepala Diskomidag Trenggalek Saniran berpikir dengan gembira atas kegiatan Makaryo Ning Desa Karanganyar, Kecamatan Gandusari, yang sukses dengan tingkat antusiasme yang tinggi dari masyarakat.
Indikasinya dari meja pelayanan yang penuh. Mulai dari pelayanan UPT, Perpustakaan KTP, Dinsos, BPJS, Pendidikan, NIB, hingga sertifikat halal.
“Alhamdulillah, sudah kita siapkan sejak seminggu lalu, amati, tiru, dan modifikasi dari kegiatan Makaryo Ning Desa sebelum-sebelumnya,” ungkapnya.
Dari tingkat antusias masyarakat itu, Saniran berharap, khususnya para pelaku usaha memiliki legalitas, kontrol kualitas, kemasan yang menarik, agar konsumen puas. Lebih dari itu, produk-produk yang potensial dapat mengikuti kurasi dan lulus kelayakan untuk dijual di toko modern berjaringan.
“Tadi ada produk yang layak. Tapi belum punya sertifikat halal, makanya kita fasilitasi, agar ketika sudah halal akan kita dorong untuk bisa masuk ke toko modern berjaringan,” ucapnya. (tra/rka) Editor : Choirurrozaq