Trenggalek - Bencana tanah gerak masih menghantui berbagai wilayah Bumi Menak Sopal. Hal tersebut seperti yang terjadi di Dusun Sobo, Desa Ngerdani, Kecamatan Dongko, yang saat ini makin mengkhawatirkan. Untuk itu perlu penanganan khusus agar kejadian tersebut tidak memakan korban.
Berdasarkan informasi yang didapat Koran ini, sedikitnya ada 41 jiwa dalam 14 keluarga wilayah dusun tersebut yang terdampak bencana tanah gerak. Dari jumlah tersebut, 7 keluarga dengan jumlah 23 jiwa di antaranya harus mengungsi karena kerusakan pada rumahnya semakin parah dan merembet panjang. “Sebenarnya berdasarkan laporan yang kami dapat, kejadian itu terjadi sekitar tahun lalu (2022, Red), tapi akhir-akhir ini terus bergerak dan meluas, hingga banyak rumah yang rusak,” ungkap Kapolsek Dongko Iptu Cikini.
Dia melanjutkan, sebenarnya ketika terjadi tanah gerak, warga tidak panik dan mencoba untuk memperbaiki area yang rusak dengan menguruknya dengan tanah. Namun, karena semakin meluas, sepertinya hal tersebut tidak bisa ditangani hingga ada beberapa warga yang terpaksa mengungsi. Hal itu terjadi karena warga takut jika sewaktu-waktu ada pergerakan tanah lagi dan membuat rumahnya ambruk. “Ketujuh keluarga itu, mereka mengungsi saat malam hari atau saat musim hujan ke rumah saudara yang hanya berbeda RT. Sebab, kalau siang hari rumah itu masih ditempati untuk aktivitas sehari-hari," katanya.
Selain rumah, jalan rabatan menuju lokasi tersebut juga banyak yang rusak lantaran tanah gerak. Kerusakan tersebut baik retak maupun amblas. Kendati demikian, jalan tersebut masih bisa dilewati. Sebab, warga setempat telah bergotong royong untuk mengatasi kerusakan jalan dengan cara menguruk dengan tanah dan lainnya.
Pengurukan tersebut dilakukan setiap musim hujan dan ditimpa lagi, ditimbun lagi, karena sedikit demi sedikit terbawa air. Titik lokasi tanah retak tersebut berdekatan dengan sawah. Lalu, menurut keterangan warga local, di atas titik tersebut ada bukit yang dulunya terdapat telaga. Lambat laun telaga tersebut mengalami pendangkalan alami. “Karena itu warga setempat menganggap pendangkalan telaga itu mengakibatkan tanah gerak yang saat ini terjadi, tapi untuk kepastiannya tidak ada yang tahu,” tuturnya.
Hal tersebut diakui oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek, St. Triadi Atmono. Dia menambahkan, pemerintah desa setempat telah melaporkan kejadian tersebut dengan membuat surat resmi ke BPBD. Dari situ, BPBD telah datang ke lokasi untuk melakukan asesmen alam guna melakukan tindakan gawat darurat yang tepat. “Ketika melakukan pengecekan itu, kami juga mengirimkan bantuan berupa bahan makanan kepada keluarga terdampak,” imbuhnya.
Dari situ didapatkan bahwa tanah gerak tersebut mulai terjadi sekitar November 2022 lalu, tetapi yang terparah pada Senin (27/2) kemarin. Selain itu, juga didapati kondisi lingkungan perbukitan yang diapit sungai di sebelah kanan dan kiri sehingga tanah gerak mengarah ke sungai tersebut. Bahkan, di atas lokasi tanah gerak juga terdapat telaga kecil.Dengan kondisi tersebut, BPBD memberi imbauan agar masyarakat tetap waspada dan hati-hati karena saat ini masih musim penghujan. Dari situ, apabila terjadi hujan lebat harus segera meninggalkan rumah.
Juga sebagai peringatan dini agar dipasang tiang atau bambu di atas dan bawah rekahan tanah dan diberi tali. Dengan begitu, gerakan tanah bisa dilihat dari kencang atau kendurnya tali. “Kami juga menyarankan warga agar memasang kentongan sebagai alat komunikasi yang efektif apabila terjadi bencana. Dan, tidak lupa selalu berkoordinasi dengan pemerintah desa, kecamatan, dan stakeholder terkait kebencanaan jika sewaktu-waktu terjadi bencana,” jelas pria yang juga dipercaya sebagai Plt Kepala Satpol PPK Trenggalek tersebut. (jaz/c1) Editor : Nurul Hidayah