Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kisah Perjuangan Bupati Arifin Lahir dari Tukang Becak

Nurul Hidayah • Selasa, 2 Mei 2023 | 19:17 WIB

Trenggalek - Hero bagi Mochamad Nur Arifin, tidak lain adalah orang tua (ortu). Baginya, ortunya telah sukses menunjukkan bagaimana perjuangan yang sungguhnya. Mereka berjuang dari nol, dari keterbatasan ekonomi, proses jatuh bangun, hingga sukses mengembangkan bisnis peralatan dapur.

"Bapak-ibu berjuang, sakit tetap memberikan yang terbaik kepada anak". Ya, kata seperti itulah yang keluar dari mulut Bupati Trenggalek Moch Nur Arifin saat mengawali wawancara dengan koran ini. Sebab, saat itu Mas Ipin (sapaan akrab Bupati Moch. Nur Arifi, Red) blak-blakan tentang masa lalunya, bahwa dulu almarhum (Alm) Mugianto (ayahnya Mas Ipin, Red) adalah seorang tukang becak. Tiap hari ayahnya membanting tulang, mengayuh becak untuk mendapatkan rezeki. "Tukang becak di Wonokromo. Jadi saya anak pertama, ngerasain seperti itu," ungkapnya.

Suami Novita Hardini itu mengaku, situasi perekonomian keluarga saat itu serbasusah. Bahkan, agar bisa membantu ortu, Mas Ipin juga pernah jualan kacang bungkus. Namun di tengah situasi itu, apa yang dilakukan ayahnya bukanlah menyerah dengan keadaan. Alm Mugianto berani mencoba hal baru, mengambangkan usaha sebagai sales peralatan rumah tangga, salah satu produknya adalah panci. "Di usia SD, bapak mulai sales alat rumah tangga," ujarnya.

Di usaha baru itu, Sringatin (ibu Mas Ipin, Red) turut membantu suaminya. Dia membantu dari sisi pemasaran, mengenalkan produk panci itu ke tetangga-tetangga. Meski pelan, usaha itu berkembang. Ketekunan, keuletan, dan ketelatan dari pasangan suami istri (pasutri) Alm Mugianto dan Sringatin berbuah manis. Dari sales peralatan rumah tangga, kemudian mereka bisa membuka toko peralatan rumah tangga pertama di Krian, Sidoarjo.

Namun, usaha itu tak lepas dari cobaan. Mas Ipin bilang bahwa tokonya itu pernah mengalami insiden kebakaran. Sebagian besar barang dagangan pun ludes terbakar. Cobaan itu membuat ortunya merugi, tapi mereka pantang menyerah untuk membangun usaha itu lagi. Untuk membalikkan keadaan, Alm Mugianto memutuskan untuk mendapatkan barang sebagai modal ke supplier peralatan rumah tangga. "Ingat dulu ke supplier itu bapak cuma bawa ijazah," ungkap Mas Ipin.

Perjuangan bisnis yang ditunjukkan ortuanya tersebut membekas dalam diri Mas Ipin. Hingga dia dapat menjalankan bisnis keluarga sembari menempuh pendidikan. "2010 itu sudah mulai ngurusin pabrik," ucapnya.

Di balik kisah itu, Alm Mugianto sering memberikan nasihat kepada Mas Ipin. Dia pernah bercerita mengapa mengais rezeki ke Surabaya, padahal garis keturunannya berada di Kabupaten Trenggalek. Latar belakang itu karena mendapat pekerjaan di kabupaten ini susah. "Memahami Trenggalek, praktis sejak alm bapak, waktu itu saya sekitar 16-17 tahun. Bapak pernah berpesan ‘Le, bapak dulu pindah dari Trenggalek ke Surabaya karena susah cari pekerjaan, kalau kita ditakdirkan bisa pulang ke Trenggalek, aku titip buka lapangan pekerjaan. Lek iso kita bikin usaha di sana’. Makanya itu saya ke Trenggalek, fokus mengurusi home industry," jelas pria 33 tahun itu.

Harapan Alm Mugianto itu terwujud. Anak pertamanya berhasil membuktikan bahwa bisnis peralatan rumah tangga itu mampu menyerap tenaga kerja dari warga lokal Trenggalek. Namun, dalam benak Mas Ipin, dia merasa belum cukup dan justru merasa bersalah. "Banyak lamaran pekerjaan yang datang. Saya merasa bersalah nggak bisa menerima semua. Kemudian saya tanya, sebelumya kerja apa. Dia jawab ‘Tani, cuma tidak cukup. Kalau ada sambatan tukang ya nukang’," ujarnya.

Cerita pilu warga itu menjadi salah satu inspirasi Mas Ipin terjun ke dunia politik. Dia pun berupaya menggagas sekolah tani hingga Gerakan Tengok Bawah Masalah Kemiskinan (Gertak) untuk memfasilitasi masyarakat berekonomi rendah. "Konsen saya dulu itu ke kemiskinan, ketua TKPKD (Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah). Saya ingat betul masa kecil saya di situasi yang sulit. Orang miskin kalau sambat ke siapa itu sudah tidak punya PD (kepercayaan diri, Red). Bertamu ke dinas atau untuk advokasi," ungkap pria kelahiran 1990 itu.

Kini Mas Ipin telah memimpin Trenggalek sejak 28 Mei 2019. Selama kepemimpinannya, dia menilai bahwa realisasi dari visi misinya masih sebatas 20 persen. Mantan vokalis band Marsmelllow itu juga berharap Trenggalek sukses dalam tiga hal. Di antaranya, emas hijau, biru, dan sustainable development (pembangunan berkelanjutan, Red). Emas hijau merupakan potensi kehutanan hingga pertanian. Emas biru, bagaimana budi daya di sektor perikanan tangkap laut sampai perikanan budi daya.

Kemudian pembangunan berkelanjutan adalah area atau cakupan yang mengarah ke desa-desa. "Makanya saya declair, mengapa ada adipura desa, kemudian mereka diangkat menjadi satu desa wisata. Dan itu harus hand in hand, antara ekonomi dan ekologi." ucapnya.

Menyinggung apakah dia akan kembali mengikuti kontestasi dalam pesta demokrasi 2024, Mas Ipin mengaku, itu adalah piliham masyarakat. “Bismillah, selama masarakat masih menginginkan, Allah meridai, keluarga merestui, kita berangkat lah. Saya tidak melihat jenjang karir, saya lebih senang urip selepek tapi bagus (memilih berkontestasi di Trenggalek daripada di Surabaya, Red),” ujarnya dalam tayangan YoTtube NgopibarengTV. (*/c1/jaz) Editor : Nurul Hidayah
#trenggalek #Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin #bupati arifin #bupati trenggalek