“Tanaman mangrove perlu dilestarikan, sebab kami (Pemprov Jatim, Red) saat ini tengah memaksimalkan hilirisasi dari tanaman mangrove. Karena ekosistem mangrove berdampak positif terhadap ekologi hingga ekonomi,” ungkap Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.
Dia melanjutkan, dari sisi ekologi, tanaman mangrove berfungsi sebagai pengendap lumpur di akar-akar pohon bakau sehingga dapat mencegah terjadinya intrusi air laut ke daratan. Adapun erosi yaitu pengikisan permukaan tanah oleh aliran air dan abrasi adalah pengikisan permukaan tanah akibat hempasan ombak laut.
“Mangrove dapat menyerap karbon lima kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan tanaman-tanaman lain,” ungkapnya.
Selain fungsi ekologi, lanjut Khofifah, mangrove juga berpeluang meningkatkan pertumbuhan ekonomi, melalui produk-produk olahan dari tanaman mangrove. Beberapa olahan mangrove meliputi kopi, teh, sirup, bahan pewarna batik, dan sebagainya. “Hilirisasinya ini ternyata sisi ekonominya luar biasa. Produk-produk hilirisasi dari ekosistem mangrove sudah terbangun,” ucapnya. Pihaknya pun menuturkan, tanaman mangrove perlu lebih dimaksimalkan dan kini tengah menjadi konsen dari Pemprov Jatim. Dari situ, pemprov memutuskan akan memaksimalkan hilirisasi dari apa yang bisa dibangun ketika ekosistem mangrove tersebut sudah bisa terbentuk. “Tentu ini akan menjadi eduwisata ekologi terbaru. Dan kami berharap tanaman ini menjadi bagian dari kontribusi untuk oksigen Indonesia dan oksigen dunia,” ucapnya. (tra/c1/jaz) Editor : Aburizal Sulthon Hakim