Dia menambahkan, berdasarkan bukti registrasi yang masuk, ketiga korban tersebut diterima di instalasi gawat darurat (IGD) sekitar pukul 09.00. Saat itu, berdasarkan hasil pemeriksaan dokter yang bertugas, satu di antaranya telah meninggal sebelum sampai di IGD. “Kendati belum sepenuhnya meninggal, kedua korban lain masuk sudah dalam kondisi kritis, dan kami berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan pertolongan,” katanya.
Dia melanjutkan, dalam proses untuk kedua korban yang tengah kritis, dokter spesialis yang bertugas bersama tim medis lainnya melakukan resusitasi (prosedur medis yang dilakukan dengan cara memberikan penekanan pada dada, Red). Namun, saat itu kedua korban tidak merespons. Karena berbagai usaha yang dilakukan tidak berbuah hasil, akhirnya tim medis memastikan dua korban yang mendapatkan pertolongan tersebut meninggal. “Jadi ketika korban tiba, kami telah melakukan tindakan penyelamatan atau life saving, tapi upaya itu tidak berhasil,” imbuhnya.
Berdasarkan hasil pengamatan tim medis yang bertugas, pemicu tiga korban meninggal tersebut lantaran gagal pernapasan. Hal itu bisa terjadi ketika air masuk ke dalam organ paru-paru dalam waktu cukup lama. Kendati demikian, tim medis belum bisa mengatakan penyebab pastinya sebelum ada pemeriksaan lebih lanjut. “Untuk penyebab kematiannya secara pasti, kami tidak berani mengajarkannya. Sebab dilihat dari kondisi anak, dan kedalaman air juga memengaruhi. Intinya dalam hal ini kami sudah melakukan upaya penyelamatan terhadap dua korban, tapi tidak berhasil,” ujar Rofiq. (jaz/c1/rka) Editor : Dharaka Russiandi Perdana