TRENGGALEK - Puput Nivala, wanita asal Desa Prambon, Kecamatan Tugu, dipinang pria Finlandia, Mikko. Kisah cinta dua negara itu sudah berusia 13 tahun. Awal tinggal bersama Mikko (suaminya), Puput sempat shock culture.
Waktu itu Finlandia mendekati puncak musim panas, matahari akan bersinar sepanjang waktu karena negara ini terletak di Utara garis khatulistiwa.
"Misal disini mendekati puncak musim panas, jadi itu matahari itu terbenam sekitar jam 23.10, terbit jam 03.45," kata Puput Nivala, 8 Juli 2023.
Puput agak lega, dia dan keluarga kecilnya tinggal di Kota Tampere, Finlandia Selatan. Di kota ini, gejala perubahan matahari (terbit-terbenam) terasa walau sedikit sedikit.
Tidak seperti di Finlandia di bagian Utara. Matahari senantiasa memancarkan sinar, tidak terbenam. Di negara itu, Puput mengandalkan jam untuk menandai waktu siang atau malam.
"Melihat jam, di Indonesia misal tidur jam 8 atau jam 9 malam. Terus jam kerja pun demikian, misal jam 7 atau jam 8 pagi. Jadi, bukan berdasarkan matahari, tapi berdasarkan jam normal," ungkapnya.
Namun, jam itu belum cukup membuat Puput tidur cepat, lantaran cahaya matahari memasuki rumah.
"Kesulitannya saat musim panas seperti ini, otomatis kan susah tidur ya, kalau matahari ngejreng. Kita pakai korden yang anti cahaya, itu membantu banget," ucapnya.
Cara adaptasi itu berbeda ketika masuk musim dingin. Finlandia menjadi negara tanpa siang. Bahkan di bagian Utara Finlandia, matahari tidak terbit sama sekali.
"Jadi kalau ditempatku berada di tengah Finlandia, masih dapat matahari. Waktu puncak musim dingin, Desember, nanti aku masih dapat matahari sekitar 4 jam-an, meski agak remang-remang mendung begitu," ungkapnya.
Tak terasa, Puput sudah 8,6 tahun tinggal di Finlandia. Dia dikaruniai dua anak, blesteran. Urusan mendidik anak, Puput sedikit merasa ironi dengan budaya di negara Finlandia.
Mulanya, Chimy -panggilan lain Puput, menginginkan kedua anaknya punya memahami tata krama seperti di Indonesia.
Bagaimana memanggil orang yang lebih tua 'Pak' atau 'Bu', makan memakai tangan kanan, atau berjabat tangan dengan tangan kanan. Tapi itu terasa agak sulit, karena Chimy dan keluarga tinggal di Finlandia.
Di negara ini, anak memanggil orang tua tanpa 'Pak' atau 'Bu', sudah menjadi hal biasa. Begitupun makan, berjabat tangan, menggunakan tangan kiri. Bahkan, kata Chimy, mengucap salam dengan kata 'hai' itu sudah termasuk sopan.
"Kalau aku sih, karena kita beda budaya, jadi otomatis dikenalkan dengan Indonesia, tapi kita tinggalnya di Finlandia, lumayan sulit ngajarin anak tata krama seperti di Indonesia," ujar Ibu Niila dan Niino itu. Namun, Chimy tak mau menyerah dalam mendidik anaknya, karena dia berprofesi sebagai tenaga pendidik.
Lain itu, Chimy dibuat terkesan dengan budaya kemandirian di Finlandia. Yang mana sejak dini, anak dididik agar mandiri, makan-minum sendiri.
"Misal kalau di Indonesia anak usia 5 tahun masih disuapin, tapi disini tidak. Anak dididik mandiri, kalau tidak mau makan, yaudah tidak makan sekalian, begitu," tuturnya.
Dari segala perbedaan budaya di Finlandia, Chimy mengaku, mulanya sempat shock culture meskipun lambat laun semakin memahami hingga dari sisi bahasa.
"Kalau aku, kursus Bahasa Finlandia itu sekitar 2013 dan disini tu dapat kursus gratis dari pemerintah. Jadi semacam departemen ketenagakerjaan, nanti dikasih daftar kursus gratis, seminggu selama 5 kali. Senin - Jumat. sekitar 5 jam. Setahun itu saya kursus bahasa Finlandia," jelasnya.
Sedangkan untuk Mikko (suaminya), "Suami sudah bisa bahasa Indonesia ya, karena dia kuliah di Indonesia di UGM mengambil jurusan kehutanan, tapi di Jogja dia ambil ekonomi, bisnis, dan juga bahasa Indonesia," tambah dia.
Cerita kehidupan Chimy itu terabadikan dalam akun Youtube-nya, Chimy in Finland. Di kanal itu, ia sering membagikan aktivitas sehari-hari, bagaimana kehidupan dia dan keluarganya selama di Finlandia. (*)
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra