TRENGGALEK - Ramai isu polusi udara seperti yang terjadi di Ibu Kota Negara, ternyata kondisi itu tak berlaku di Kota Alen-Alen.
Di kabupaten ini, nilai Indeks Kualitas Udara (IKU) justru meningkat sejak empat tahun lalu. Kondisi itu pun mengindikasikan bahwa udara yang dihirup masyarakat selama ini relatif aman.
"Mulai 2017-2022 itu ada tren peningkatan, artinya tren peningkatan yang bagus. Jadi semakin tinggi nilai kualitas udaranya, maka kualitas udara di sekitar itu juga bagus," kata Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Muda (Pedal AM) Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPKPLH) Trenggalek Zainul Muttaqin.
Zainul merinci, data IKU dimulai pada 2017 dengan nilai 80,79; sedangkan pada 2018, IKU turun menjadi 78,5. Namun dimulai pada 2019, IKU Trenggalek merangkak naik, yakni 78,68, 80,18 pada 2020; 82,66 pada 2021; hingga 83,97 pada 2022.
"Jadi sempat turun sedikit di 2017, tapi kemudian naik sampai sekarang," tegasya.
Disamping itu, validasi dari nilai IKU Trenggalek selama ini didapat berdasar serangkaian proses, yakni tahap pengukuran, pengambilan sampel, hingga analisa (uji laboraturium).
Zainul menjelaskan, pengambilan sampel IKU dibagi empat kategori. Pertama, sampel yang mewakili transportasi, itu berada Jalan Soekarno Hatta, dekat Agropark. Kedua, wilayah permukiman di Perumahan Taman Agung.
Adapun ketiga, wilayah perkantoran di lingkup Bappedalitbang, Inspektorat, Diskominfo, dan DPMD. Keempat, area industri di sekitar PT PAK Gondorukem.
"Itu memakai alat khusus (alat penangkap polusi udara secara berkala, Red), kemudian di uji laboraturium," ujarnya.
Selain merekam kondisi polusi udara di lingkup Kota Trenggalek, pengambilan sampel kualitas udara juga mulai mengarah ke Kecamatan Watulimo.
Pengambilan sampel di kecamatan itu tergolong baru. Satu lah yang mendasari pengambilan sampel di wilayah itu karena Jalur Lintas Selatan (JLS) berpotensi memicu peningkatan lalu lintas kendaraan bermotor.
"Pengembangan JLS itu pasti berpengaruh terhadap kualitas udara yang ada di sana. Kita ambil dulu lokasi-lokasi yang sekiranya dapat berpengaruh besar terhadap dampak kualitas udara (berdasarkan empat kategori, Red)," jelasnya.
Sedangkan pengambilan sampel IKU di kecamatan lain belum dilakukan, menurut Zainul, itu disebabkan keterbatasan anggaran.
"Per titik sekitar Rp 2,5 juta, itu sudah termasuk analisanya maupun pengambilan sampelnya," ucapnya.
Di sisi lain, Zainul menilai, kenaikan IKU Trenggalek selama ini karena intervensi program-program dari pemerintah. Misalnya, pengembangan jalur pesepeda, car free day/night, tanaman peneduh, dan sebagainya.
"Daerah pedesaan yang sekarang itu banyak dilakukan penanaman utamanya tanaman vegetasi. Kampung iklim, salah satu upaya mengantisipasi perubahan iklim di dunia," pungkasnya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra