Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kurangnya Protein Memicu Stunting di Trenggalek, Ikan Lele Dapat Menjadi Solusi

Henny Surya Akbar Purna Putra • Rabu, 6 September 2023 | 18:32 WIB
Satria Widiatmoko (NIM: 10521048), Mahasiswa Jurusan Kimia Fakultas FMIPA Institut Teknologi Bandung
Satria Widiatmoko (NIM: 10521048), Mahasiswa Jurusan Kimia Fakultas FMIPA Institut Teknologi Bandung

Stunting, salah satu isu kesehatan yang masih menjadi masalah utama di Indonesia. Menurut World Health Organization (WHO), stunting adalah masalah pada pertumbuhan dan perkembangan anak akibat dari kekurangan nutrisi disertai dengan beberapa gejala infeksi dan pertumbuhan tinggi badan di bawah standar. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menambahkan bahwa penyebab stunting ini pada dasarnya disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor lingkungan dan faktor genetik.

Faktor lingkungan dalam kasus ini adalah pengaruh lingkungan dari anak-anak yang tidak bisa menyediakan gizi dan nutrisi yang cukup bagi anak sejak masih dalam kandungan sampai remaja. Di sisi lain, faktor genetik sama sekali tidak bisa dikendalikan oleh manusia karena kondisi stunting ini murni faktor keturunan dari ayah dan/atau ibu dari anak. Namun, IDI menyatakan bahwa kondisi stunting yang saat ini umum dijumpai diakibatkan oleh faktor lingkungan.

Hingga Juni tahun 2023, stunting masih menjadi isu yang selalu dibicarakan di Bumi Menak Sopal. Angka stunting di Trenggalek menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) masih tergolong tinggi yaitu 19,5 %, sekitar 8.000 anak di Trenggalek masih tergolong dalam kondisi stunting. Data yang dihimpun dari SKI ini diambil berdasarkan beberapa indikator dan perhitungan tertentu. Fakta ini harus segera menjadi perhatian utama Pemerintah Kabupaten Trenggalek.

Meninjau permasalahan stunting ini dari sisi kimia, terdapat banyak nutrisi yang dapat menjadi indikator permasalahan stunting pada anak-anak. Salah satu nutrisi yang sangat penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan mereka adalah protein. Hal ini disebabkan oleh peran protein dalam membangun jaringan tubuh serta memperbaiki jaringan yang rusak. Pada prinsipnya, protein ditemui dalam berbagai bahan hewani maupun nabati. Bentuk kompleks protein pada bahan-bahan tersebut disusun oleh beragam asam amino yang berinteraksi satu sama lain melalui ikatan kimia.

Pada saat tubuh manusia mengonsumsi protein, bentuk kompleks dari protein akan bereaksi dengan asam klorida di dalam lambung membentuk untaian asam amino. Setelah terurai menjadi untaian asam amino, enzim pepsin di dalam sistem pencernaan bekerja untuk memutus ikatan-ikatan peptida menghasilkan fragmen asam amino. Dalam sel intestinal, fragmen tersebut akan kembali dipotong menjadi asam amino tunggal. Sebagian asam amino tunggal digunakan dalam pembaruan sel-sel intestinal sedangkan sebagian besar diedarkan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah.

Keterbatasan manusia dalam memproduksi asam amino sendiri membuat manusia harus mengonsumsi protein yang mengandung asam amino esensial. Asam amino tersebut diantaranya histidin, isoleusin, leusin, lisin, metionin, fenilalanin, threonin, triptofan, dan valin. Selain mengonsumsi jenis asam amino yang beragam, tubuh manusia juga harus mengonsumsi protein dalam kadar tertentu. Dihimpun dari WHO, dalam satu hari anak-anak usia 1-3 tahun membutuhkan setidaknya 13 gram protein, usia 4-8 tahun membutuhkan 19 gram protein, usia 9-13 tahun membutuhkan 34 gram protein, pria di atas 14 tahun membutuhkan sekitar 50 gram protein, dan wanita di atas 14 tahun membutuhkan 46 gram protein. Namun, pada beberapa kasus khusus seperti ibu hamil kebutuhan protein akan semakin tinggi bahkan bisa melebihi kebutuhan pria dewasa. Padahal pada fase kehamilan, pencegahan terhadap stunting harus dilakukan. Oleh karena itu, dibutuhkan sumber protein lengkap yang dapat dimanfaatkan oleh semua kalangan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan proteinnya.

Salah satu sumber protein yang sekaligus dapat menjadi solusi bagi permasalahan stunting, terutama di Trenggalek, adalah daging ikan lele. Menurut publikasi ilmiah pada tahun 2020 oleh Haryati dari IPB, daging pada ikan lele berpotensi sebagai sumber protein bagi tubuh. Dalam penelitian tersebut, berbagai nutrisi dalam ikan lele diisolasi. Isolasi tersebut menunjukkan bahwa didalam ikan lele terkandung asam amino fenilalanin, histidin, triptofan, tirosin, metionin, alanin, leusin, dan isoleusin. Selain itu, komposisi dalam ikan lele juga dilaporkan dimana kandungan protein dalam ikan lele sekitar 86,74% sedangkan jumlah lemaknya sangat rendah yaitu sekitar 0,54%. Daging lain rata-rata memiliki kandungan lemak yang tinggi sehingga konsumsi berlebihan memiliki resiko obesitas dan kolestrol. Namun, daging lele bisa dikonsumsi bahkan setiap hari secara aman karena komposisi di dalamnya.

Disamping keunggulannya dari segi nutrisi, ikan lele juga memiliki keunggulan dari segi ekonomi. Harga ikan lele di pasar sekitar Jawa Timur saat ini adalah Rp 23.714,29 per kilogram. Dengan harga tersebut, ikan lele menjadi jenis ikan air tawar dengan harga paling murah dibandingkan dengan jenis ikan lainnya. Protein tinggi dan harga yang terjangkau tentu dapat menjadi bukti nyata solusi bagi masalah stunting.

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#stunting di trenggalek #satria widiatmoko