TRENGGALEK-Duka mendalam masih menyelimuti keluarga Jainal Fanani, seorang pekerja migran Indonesia (PMI) asal Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo, yang meninggal di Taiwan pada Sabtu (2/9/2023) lalu. Hingga Rabu (6/9/2023), rumah duka masih didatangi peziarah dari kerabat korban.
Kabar duka tersebut sama sekali tidak diprediksi oleh para keluarga. Sebab, tidak ada firasat apa pun terkait hal tersebut. Mengingat, rencananya sekitar Agustus 2024 mendatang, korban akan pulang setelah sejak 2015 lalu merantau ke Taiwan. Sebab, setelah tiga kali melakukan perpanjangan kontrak kerja sebagai karyawan sebuah pabrik, kontrak tersebut habis. Apalagi, setiap harinya, korban selalu memberi kabar kepada keluarga melalui sambungan telepon.
“Terakhir almarhum menghubungi kami sekitar satu minggu lalu, setelah itu kembarannya (Jainal Syafii, Red). Tempat kerja mereka sama. Jadi, jika salah satu menghubungi, berarti dua-duanya tersambung,” ungkap adik Jainal Fanani, Choirul Anam.
Kabar duka tersebut diterimanya pada Sabtu atau malam Minggu sekitar pukul 23.00. Saat itu, saudara kembar korban meneleponnya dan member tahu bahwa korban terlibat insiden yang ada di Taiwan dan saat itu masih kritis. Sekitar 30 menit berselang, kakaknya tersebut kembali menghubungi bahwa korban telah meninggal.
“Kabar itu jelas diterima, karena kakak saya satunya itu (kembaran korban, Red) masuk dalam mobil ambulans dan menemani korban selama perawatan,” katanya.
Baca Juga: PMI Asal Trenggalek Terlibat Tawuran di Taiwan? Disperinaker Tunggu Rilis Resmi BP2MI
Mengetahui hal tersebut, pria yang akrab disapa Anam itu hanya bisa termenung. Karena kondisinya sudah malam, dia takut membangunkan kedua orang tuanya. Dia hanya bisa bercerita mengenai kabar tersebut kepada kerabatnya yang lain. Barulah pada pagi harinya, ketika orang tuanya bangun sekitar pukul 05.30, dia baru bisa bercerita.
Dengan kejadian tersebut, tidak ada yang diinginkan keluarga selain jenazah almarhum dipulangkan secepatnya. Ditambah, pelaku yang menganiaya korban hingga meninggal tersebut diberi hukuman yang setimpal. “Kendati masih syok, syukurlah kakak saya satunya (kembarannya korban, Red) saat ini sehat. Kalau kabarnya dalam keadaan kritis itu salah,” jelas Anam.(jaz/c1)
Editor : Zaki Jazai