TRENGGALEK - Pantai Kili-Kili di Desa Nglebeng, Kecamatan Panggul, Trenggalek, hingga kini masih menjadi tempat favorit bagi para penyu bertelur.
Data jelang akhir 2023, tim konservasi Penyu Taman Kili-Kili mencatat ada 74 induk penyu yang naik dan ribuan telur yang menetas.
"Dari 74 induk penyu itu, telur yang dihasilkan ada 6.064 telur dan yang sudah menetas 4.160 telur," kata Ketua Pokmaswas Konservasi Penyu Taman Kili-Kili, Ari Gunawan.
Pria berkacamata itu menjelaskan bahwa tahun ini hampir seluruh induk yang naik merupakan jenis penyu lekang atau abu-abu.
"Tahun ini tidak ada jenis penyu yang lain," ucapnya.
Melihat dari tren, Ari mengatakan, grafik akumulasi jumlah penyu yang menetas cenderung meningkat sejak 2011-2023. Sementara tren tertinggi terjadi pada 2018, yakni 89 induk penyu yang naik.
Namun dibalik itu, tren penurunan pun sempat terjadi dua kali. Sedangkan penyebab penurunan belum diketahui, karena hipotesis bahwa sinar di malam hari mempengaruhi induk naik ke pantai, ternyata hipotesis itu dinilai tidak terlalu benar.
"Dulu pernah ada hipotesis bahwa itu mempengaruhi penyu, rupanya tidak," ujarnya.
Konservasi Penyu Taman Kili-Kili sudah ditetapkan sebagai Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) oleh Gubernur Jatim berdasarkan SK 188/39/KPTS/013/2020.
Padahal melihat cikal-bakalnya, penyu di Taman Kili-Kili pernah terancam punah akibat perburuan yang dilakukan warga sekitar.
Maka itu, pemkab mendorong upaya pengelolaan kolaboratif Pentahelix dalam konservasi penyu Taman Kili-Kili memakai konsep ABCGM (Academics, Business, Community, Government, dan Media).
Kelima stakeholder itu saling berkolaborasi sesuai tusi untuk upaya konservasi. Yakni meliputi penyelamatan induk penyu dan telur penyu; penetasan telur penyu; perawatan dan pengobatan induk penyu; pelepasliaran tukik; edukasi sampai dengan pemenuhan sarana prasarana konservasi penyu.
Pada 2022, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengatakan, budaya berburu penyu sudah ditinggalkan. Tak ayal itu berdampak positif, sebanyak 47.504 butir telur penyu yang terselamatkan, sedangkan 37.485 telur penyu berhasil menetas.
Selain itu, Taman Kili-Kili menyimpan nilai positif dari sisi ekologi, sosial, dan ekonomi. Secara ekologi, habitat dan plasma nutfah semakin terjaga. Sedangkan dampak sosialnya, kesadaran masyarakat dan berkembangnya jiwa gotong-royong semakin terwujud.
Lain itu, dampak ekonomi pun berupa usaha ekonomi masyarakat meliputi kedai atau kafe, homestay, UMKM kerajinan, UMKM makanan khas, yang mulai bertumbuh. (tra)
Editor : Didin Cahya Firmansyah